
Petang ini Vlavia sudah berada di apartemen Visko. Dia sudah mandi dan bahkan memasak untuk makan malam dirinya dan Visko. Tadi dia sempat kebingungan karena tidak bisa membuka pintu Apartemen. Alhasil dia meminta bantuan Mang Dani yang kebetulan mengantarkannya sampai ke depan pintu Apartemen Visko. Jika saja tidak ada Mang Dani, Vlavia tidak tau akan seperti apa nasibnya sekarang menunggui Visko di depan Apartemen sampai petang seperti sekarang.
Vlavia mengambil ponselnya, dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul 17.55 artinya sebentar lagi akan malam, tapi Visko belum juga pulang, Vlavia terus melirik ke arah pintu atau mendengar dengan seksama siapa kali ada tanda-tanda Visko pulang.
" Kak Visko kemana ya?." Gumam Vlavia bertanya pada diri sendiri.
Vlavia kembali mengambil ponselnya, berniat untuk menanyakan keberadaan Visko lewat pesan singkat, tapi dia urungkan, untuk apa memperdulikan Visko yang sama sekali tidak perduli dengan keberadaan dirinya, jika saja Visko perduli dengan Vlavia, sudah pasti dia akan memberitahukan jika dia pulang telat ataupun larut.
Sampai pukul 9 malam, belum ada tanda-tanda kepulangan Visko, Vlavia berniat untuk tidur dan melupakan makan malamnya, bahkan rasa laparnya tidak dia perdulikan, hilanh begitu saja, jika di lihat saat ini, Valvia persis seperti seorang istri yang sedang menunggu kepulangan suaminya.
Di tempat lain, Visko duduk bersandar di ranjang yang sangat dia kenali.
" Apartemen Dendry, ah sial Gue mabuk berat." Gumam Visko kesal.
Visko melirik arloji di tangannya, kini sudah pukul 11 malam. Kenapa bisa dia tertidur seperti kebo? Pikiran Visko langsung tertuju kepada Vlavia yang mungkin kini sedang berada di depan pintu Apartemen karena menungguinya.
" Beg* kalau tuh cewek benar-benar nungguin di depan pintu." Gumam Visko lagi sembari berusaha menghubungi Vlavia.
Tapi tidak ada jawaban, membuat Visko semakin cemas dengan keadaan Vlavia saat ini.
Dengan segera Visko keluar dari kamar Apartemen Dendry. Terlihat di depan tv Dendr yang sedang meneguk minumannya, tidak begitu jauh, Harry bersama wanitanya sedang enak-enakan di dekat dapur. Tempat yang menghubungkan antara ruang tv dan dapur.
Mereka sedang beridir, tapi Visko tau betul jika Harry sedang melakukannya, Visko tersenyum simpul, ada gunanya juga dia mabuk berat dan di bawa Dendry ke kamarnya. Itu akan membuat Harry tidak ada tempat nyaman untuk bercinta.
" Mau kemana Lo?." Tanya Harry di sela-sela peperangannya dengan wanita yang kini berada di depannya.
Wanita itu sempat melirik Visko sekilas, dia mengedipkan matanya ke arah Visko, membuat Visko hanya menatapnya dengan risih.
" Hey sayang, jangan dia." Bisik Harry kepada wanita bayarannya sembari mempercepat gerakannya.
Visko kembali menemui Dendry dan pamit untuk pulang.
" Gue balik dulu." Ucap Visko membuat Dendry tersenyum miring.
" Lo ngapain balik? Ini udah malam man, tidurlah di sini, sebentar lagi teman wanitaku akan datang, kita bersenang-senang." Jawab Dendry yang sudah setengah mabuk.
Visko tidak perduli, dia mengambil kunci mobilnya yang tadi sudah di ambil oleh Harry di kampusnya. Dengan segera dia keluar dari Apartemen Dendry.
__ADS_1
" Gue semakin yakin Lo ngumpetin sesuatu dari kita Vis." Gumam Dendry kembali meneguk minumannya.
Tidak biasanya Visko bersikap seperti itu, jika dia sudah mabuk dan pulang ke apartemen Harry ataupun Dendry. Biasanya dia akan melanjutkan tidurnya, ini untuk yang pertama kalinya Visko tetap kekeuh untuk pulang ke Apartemennya.
Dengan kecepatan tinggi Visko melajukan mobilnya di jalanan yang sudah tidak padat dengan kendaraan. Tengah malam seperti ini memang siapa yang masih berkendara terkecuali para Mr.Devil yang akan pergi ke kelab-kelab malam untuk mencari kepuasan.
Sampai akhirnya mobil Visko berhenti di parkiran Apartemen. Visko segera keluar dan memasuki lift untuk menuju Apartemennya.
Ting
Pintu lift terbuka, Visko sempat terkejut karena di depan pintu apartemennya tidak adanya sosok Vlavia.
" Bod*h apa dia pergi malam-malam begini?." Gumam Visko sedikit panik.
Visko mengira jika Vlavia akan pergi atau mungkin pulang ke rumah. Tapi tidak ada yang memberitahukan kepadanya, jika Vlavia pupang ke rumah. Visko yakin Mommy Selena akan memberitahukannya.
Visko masuk ke dalam Apartemennya. Tujuan pertamanya menuju ke kamar Vlavia yang berada di sebelahnya.
Hufh...
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Visko mengumpat kesal dengan kebodohan Vlavia yang tidak mengunci kamarnya. Bisa saja Harry dan Dendry tiba-tiba ke apartemennya dan masuk begitu saja ke kamar Vlavia. Mengingat kedua teman bangsutnya itu berjiwa nekad.
Visko melihat kebradaan Vlavia yang sedang tertidur nyenyak, akhirnya dia bisa bernapas lega setelah melihat Vlavia dan tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.
" Sial Lo buat Gue cemas Vi." Gumam Visko tersenyum ke arah Vlavia yang sedang tertidur nyenyak.
Tapi bagaimana Vlavia bisa masuk ke apartemennya? Bukankah Vlavia belum tau paswordnya? Sudah biarkan Visko akan tanya hal itu besok pagi saja.
Visko menutup kembali pintu kamar Vlavia. Dia masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Vlavia.
Pukul 3 pagi Vlavia terbangun dari tidurnya, rasa lapar di perutnya tidak lagi bisa dia tahan. Dengan malas Vlavia turun dari ranjang untuk menuju ke dapur.
" Jam segini di sini ada hantunya tidak ya?." Gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Ngeri saja kalau tiba-tiba Vlavia sedang makan dan di temani oleh mahluk tak kasat mata.
__ADS_1
Vlavia membuka pintu kamarnya. Dia sempat melirik pintu kamar Visko. Vlavia mendesah kesal dengan sikap Visko yang membiarkan dirinya berada di Apartemen sendirian. Atau paling tidak seharusnya Visko memberitahukan jika dia tidak pulang ke Apartemen. Vlavia bisa menyuruh Mang Dani tadi untuk mengantarnya pulang ke rumah. Bukannya bersikap manja tapi Vlavia cukup takut, mengingat banyak sekali cerita Apartemen yang horor.
Membayangkan itu membuat Vlavia tanpa sadar menjerit.
" Kyaaa...!!." Teriak Vlavia langsung kembali masuk ke kamarnya.
Bahkan Vlavia membanting pintu kamarnya cukup keras. Tidak sopan memang.
Sedangkan Visko yang memang belum tidur sama sekali sejak kepulangannya cukup terkejut mendengar suara teriakan, apa Vlavia yang berteriak? Tapi untuk apa sepagi ini dia bangun? Pikir Visko penuh dengan tanda tanya.
Visko kembali menatap layar laptopnya, tapi pikirannya tetap saja penasaran dengan siara teriakan tadi, dia yakin tidak salah dengar.
Visko memutuskan untuk ke kamar Vlavia dan mengeceknya sendiri. Saat sampai di depan pintu Visko cukup terkejut karena pintu kamar Vlavia sudah terkunci. Padahal tadi terkahir kali dia melihat Vlavia pintu kamarnya belum terkunci.
" Vi... Vi...!." Teriak Visko memanggil Vlavia.
Merasa ada yang memanggil namanya membuat Vlavia menatap ke arah pintu kamarnya dengan horor. Ah rasanya semakin menakutkan saja sekarang.
" Vi... Ini Gue Visko." Teriak Visko lagi, kali ini membuat Vlavia bisa bernapas lega, dan berlari untuk membuka pintunya.
Tanpa sadar Vlavia langsung memeluk Visko yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Visko yang di perlakukan seperti itu oleh Vlavia cukup terkejut, pasalnya gadis di depannya ini sangatlah polos, mana mungkin Vlavia tiba-tiba memeluknya begitu saja, atau Vlavia sebenarnya sedang mengigau.
" Aku takut Kak." Ucap Vlavia masih di dalam pelukan Visko.
" Gue di sini, Sorry." Jawab Visko terdengar ambigu.
Visko minta maaf untuk apa, harusnya di jelaskan lebih spesifik agar Vlavia lebih tau, dalam keadaan takut mana bisa Vlavia berfikir jernih.
" Aku mau makan Kak, tapi takut kalau sendiri." Jelas Vlavia sembari melepaskan pelukannya. Visko terkejut, di jam segini Vlavia ingin makan, sarapan masih terlalu petang.
Ah sial, lagi romantis seperti itu tadi seketika ambyar karena ucapan Vlavia.
" Di sini nggak ada set*n Vi, ayo Gue temenin." Ucap Visko yang di jawab Vlavia dengan menganggukan kepalanya.
Iya Kak Visko sebenarnya set*nnya Batin Vlavia terkikik.
Bodoh amat lah sama gengsi, Vlavia benar-benar kelaparan saat ini karena menunggu Visko tadi malam, pokoknya Vlavia tidak akan lagi mau menunggu Visko untuk makan, kalau dia lapar ya akan makan saja.
__ADS_1