
Baik Visko maupun Vlavia masih sama-sama saling pandang, Vlavia menunggu jawaban dari Visko, begitu juga dengan Visko yang malah merasa bingung sendiri dengan pertanyaan Vlavia.
Visko kurang peka dengan pertanyaan yang Vlavia maksud tadi, dan itu jelas tidak akan baik, bisa saja jawaban Visko nanti membuat di antara mereka saling salah paham.
" Owh... Yang Gue maksud jelas Vvv..." Ucap Visko terhenti.
Ponsel Visko yang di letakan di meja sebelah ranjang kamar Vlavia berbunyi, membuat Visko mengurungkan untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Drrtt...
Drrtt...
Drrrtt...
Ponsel Visko masih terus berbunyi, dengan malas Visko berusaha untuk mengambil ponselnya.
Sedangkan Vlavia semakin di buat penasaran, dengan jawaban yang akan Visko katakan tadi, tetapi Vlavia memilih untuk menunggu sampai Visko mengatakannya nanti.
Visko menatap layar ponselnya dengan malas, seketika matanya melotot dengan sempurna melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Viska yang menghubungi Visko, bahkan Viska sudah mengirim banyak sekali pesan untuk Visko, karena malas Visko mematikan panggilan telepon dari Viska, lalu membuka pesan singkat yang dikirmkan oleh wanita yang akan menganggunya itu.
Visko kembali di buat terkejut, Viska rupanya sudah berada di depan pintu apartemennya. Jelas Visko bingung harus berbuat apa.
" Shit... Kenapa harus ke sini sih? Merepotkan saja!." Gumam Visko kesal.
Vlavia menatap Visko dengan bingung, siapa yang Visko maksud memangnya? Sampai Visko merutuk seperti itu.
" Kenapa Kak?," Tanya Vlavia yang kembali membuat Visko terkejut.
Hampir saja Visko melupkan keberadaan Vlavia, kalau begini Visko harus menyembunyikan Vlavia terlebih dahulu, bukan karena Visko tidak ingin Viska bertemu dengan Vlavia, tetapi bisa panjang urusannya jika sampai Viska tahu dia dan Vlavia tinggal bersama di satu apartemen.
Visko tidak ingin Viska sampai berbuat yang tidak-tidak dengan Vlavia.
" Lo... Ikut Gue," Suruh Visko seraya menarik tangan Vlavia.
Visko berusaha untuk menyembunyikan Vlavia, tetapi tidak ada yang aman selain di kamar mandi.
__ADS_1
Bahkan Visko juga harus menyembunyikan barang-barang milik Vlavia terlebih dahulu, termasuk mengunci kamar Vlavia agar Viska tidak bisa masuk.
" Mau kemana?," Tanya Vlavia membuat Visko menghentikan langkahnya.
" Ah iya.. Mending Lo di sini dulu Vi, tolong jangan bersuara ya...," Jelas Visko seraya pergi dari kamar Vlavia.
Vlavia kembali menautkan alisnya bingung, dia tidak tahu apa yang Visko maksud, kenapa tiba-tiba Visko begitu panik? Seperti kedatangan set*n saja di Apartemennya, pikir Vlavia.
" Aku mau berangkat Kak!." Teriak Vlavia membuat Visko kembali menoleh ke arah Vlavia dan mendekatinya.
Vlavia menatap Visko semakin bingung, Vlavia pikir Visko akan mengatakan untuk mengantarkannya ke kampus. Tetapi ternyata perkiraan Vlavia sangat jauh.
Visko malah menanyakan kunci pintu kamar Vlavia. " Dimana kunci kamar Lo?," Tanya Visko membuat Vlavia bertambah bingung tetapi juga sedikit kesal.
Sedari tadi Visko terus bertingkah aneh sejak membuka ponselnya, bahkan jawaban yang Vlavia nanti sepertinya akan terkubur dalam, Visko sudah lupa akan hal itu, dia lebih sibuk dengan kelakuannya yang menurut Vlavia sangatlah aneh.
Vlavia menunjukan keberadaan kuncinya dengan dagunya yang masih tertancap di pintu kamarnya.
Seketika Visko tersenyum, lalu mengacak rambut Vlavia dengan pelan.
Vlavia tidaklah tahu apa yang Visko katakan, apa ada kucing liar di apartemen semewah itu? Menurut Vlavia Visko benar-benar sedang bertingkah sangat aneh, dan itu tiba-tiba, jelas membuat Vlavia sedikit takut.
Vlavia menatap pintu kamar yang tertutup, lalu terdengar samar jika Visko mengunci pintu kamarnya.
Astaga... Visko benar-benar mengunci kamar Vlavia dan membiarkan Vlavia berada di dalamnya.
" Kak Visko kenapa ngunci kamarku?," Gumam Vlavia bingung, dia terduduk di ranjangnya, mengambil ponselnya untuk memberitahukan kepada kedua temannya jika hari ini mungkin Vlavia tidak akan masuk kuliah.
Bagaimana untuk ke kampus, jika sekarang ini dia sedang di kunci di dalam kamarnya.
Setelah mengirim pesan kepada temannya, samar-samar Vlavia mendengar suara dari arah luar.
" Kenapa ada suara wanita? Bukannya Kak Visko lelaki ya? Tetapi kedengarannya sangat berbeda sekali." Gumam Vlavia bermonolog sendiri.
Vlavia mendekat ke arah pintu kamarnya untuk mendengar siapa dan apa yang sedang di bicarakan, Vlavia yakin sekarang, jika Visko menyembunyikan sesuati darinya.
Viska berjalan ke arah meja makan, niat hatinya untuk menyiapkan sarapan yang sudah di belinya untuk Visko, tetapi betapa terkejutnya Viska melihat makanan yang sudah tersajikan dengan rapih di meja makan. Bahkan makanan itu terlihat sangat enak meskipun sederhana.
__ADS_1
" Vis, siapa yang masak?," Tanya Viska penasaran.
Melihat banyak makanan dengan penataan yang begitu rapih jelas membuat Viska penasaran, tidak mungkin seorang Visko mau memasak untuk dirinya sendiri.
Menurut Viska itu sangatlah mustahil. Viska paham betul bagaimana karakter seorang Visko, jangankan untuk memasak untuk membantu Om Albert di Kantornya saja Visko enggan.
Tetapi sepertinya Viska mengenal karakter dari seorang Visko yang dulu, bukan Visko yang sekarang, yang sudah berubah sejak kedatangan adik tirinya dalam hidupnya.
" Visko!." Teriak Viska karena tidak mendapat jawaban dari Visko.
" Apaan sih Vis? kalau mau teriak-teriak mending Lo pergi dari Apartemen Gue." Jawab Visko secara tidak langsung mengusir Viska.
Viska menghela nafasnya, kemudian mendekat ke arah Visko.
" Sorry , Gue nggak ada maskud buat bentak Lo Vis." Ucap Viska seraya mencoba memeluk Visko dari belakang, tetapi dengan segera tangan Viska di lepaskan oleh Visko.
" You cr*zy, kita saudara sepupu Viska, jangan bikin Gue nggak mau lagi ketemu sama Lo." Ucap Visko agar Viska tau diri dan berubah , tidak lagi berharap dengan Visko yang merupakan saudara sepupunya sendiri.
Visko tidak ingin menyakiti Viska karena dia saudaranya, tetapi Visko juga risih jika Viska terus berusaha untuk mendapatkan hatinya. ini g*la, dan Visko tidak suka itu.
" Enggak Vis, Gue udah berubah, Gue peluk Lo sebagai saudara bukan seperti Gue yang dulu." Jelas Viska dengan penuh kemunafikan.
Jelas apa yang di katakan oleh Viska sangatlah berbeda dengan apa yang ada di hatinya, Viska masihlah Viska yang dulu, Viska yang menginginkan Visko sebagai lelaki spesial di hidupnya, bukan Visko sebagai saudaranya.
" Lo nggak percaya sama saudara Lo sendiri?," Tanya Viska lagi untuk meyakinkan Visko.
Visko menatap Viska sekilas, kemudian mengangguk, bagaimanapun juga mereka saudara sepupu, Visko menyayangi Viska dengan tulus, tetapi sebagai saudara.
" I know, Lo gadis pintar." Jelas Visko membuat Viska tersenyum.
" Betewe ini makanan siapa yang masak? Nggak mungkin kan Lo yang masak?," Tanya Viska lagi masih penasaran dengan masakan yang sudah di siapkan di meja makan.
" Pelayan rumah datang ke sini tadi." Jawab Visko berbohong, Viska mengangguk percaya dengan apa yang di katakan oleh Visko, pasalnya dulu juga akan seperti itu, diamanapun Visko berada terkadang akan merepotkan pelayan di rumahnya untuk membuatkan sarapan atau makan malam, bahkan pernah Visko meminta makanan di tengah malam, dan di antarkan ke rumah Dendry, jelas itu sangatlah merepotkan dan menganggu para pelayan yang harusnya sudah beristirahat dengan tenang.
Sorry Vi Batin Visko merasa tidak enak hati sudah mengatakan Vlavia sebagai pelayan rumahnya.
Hallo gaes sorry banget ya aku jarang up, lagi fokus sama cerita aku yang satunya 🙏
__ADS_1