My Naughty Brother

My Naughty Brother
Saat Yang Sulit


__ADS_3

Malam ini Vlavia memutuskan untuk pulang ke rumah Om Albert. Vlavia butuh kejelasan dari Mommy nya, apa yang Visko katakan tadi benar atau hanya karena Visko tidak menyukai Mommy Selena saja.


Setelah mobil Serin sampai di depan rumah mewah Om Albert Vlavia menghela napasnya. Ada rasa sesak ketika mengingat apa yang Visko katakan tentang Mommy nya.


"Lo yakin mau pulang nggak nginep di rumah gue aja?" tanya Serin meyakinka Vlavia.


Vlavia menoleh ke arah Serin. Lali tersenyum. "Gue nggak papa kok, makasih ya kalian udah nemenin gue seharian ini," jawab Vlavia membuat Serin dan Mila cepat menganggukan kepalanya.


"Apapun masalah lo sama Kak Visko, semoga cepat terselesaikan ya Vi, dan kalau lo udah siap buat cerita, kita selalu siap jadi pendengar buat lo." Mila tersenyum seraya menggenggam tangan Vlavia.


"Pasti Mil, sekali lagi makasih banget ya kalau nggak ada kalian nggak tahu lagi gue harus gimana," jelas Vlavia yang kembali meneteska air matanya.


Vlavia dan Visko kini jelas diantara jarak yang sangat jauh. Keduanya berselisih paham karena masa lalu orang tua mereka. Visko yang tidak bisa berdamai dengan masa lalu untuk masa sekarang. Dan Vlavia yang memang tidak banyak yang dimengerti olehnya tentang rahasia Mommy nya.


"Jangan nangis, lo itu tegar Vi, lo cuma penakut tapi lo nggak secengeng itu," cibir Serin mencoba untuk membuat Vlavia terhibur.


Dan benar saja Vlavia tertawa karena cibira Serin yang mengataka jika dia hanya penakut tetapi Vlavia gadis yang sangat tegar.


"Sekali lagi makasih ya, gue masuk dulu, nanti gue kabarin kalian lagi," pamit Vlavia seraya membuka pintu mobil.


"Siap, kalau ada apa-apa langsunt hubungi kita ya?" ucap Serin yang mendapat anggukan kepala dari Vlavia.


Vlavia melangkahkan kakinya menuju rumah besar Om Albert. Ada perasaan aneh ketika dirinya memasuki rumah itu. Biasanya Vlavia senang ketika akan pulang ke rumah. Itu berati Visko tidak akan punya banyak waktu untuk mengganggunya. Tetapi sekarang berbeda. Vlavia menginginkan Visko yang selalu di sisinya.


"Sayang, kamu pulang Nak? dimana Visko?" tanya Mommy Selena melihat kedatangan Vlavia.


Vlavia tersenyum. Lalu memeluk Mommy nya. "Vi kangen Mommy,"


Mommy Selena menepuk pundak Vlavia pelan, "Mommy juga kangen sama kamu Nak," jawab Mommy Selena seraya melepaskan pelukan Vlavia.


"Apa ada masalah? hmm?" tanya Mommy Selena membuat Vlavia menggeleng pelan.


Tidak mungkin Vlavia akan langsung mengatakan kejadian yang sebenarnya. Dia sendiri butuh untuk menenangkan diri dan memberanikan diri untuk bertanya dengan Mommy nya. Awalnya Vlavia berniat untuk menanyakan kepada Visko. Tapi dia urungkan, mendengarkan langsung dari Mommy nya akan membuatnya lebih tenang. Apapun nanti jawaban Mommy nya.

__ADS_1


"Vi ke kamar dulu ya Mom," pamit Vlavia yang mendapat anggukan kepala dari Mommy Selena.


Setelah sampai di kamarnya. Vlavia membaringkan tubuhnya. Pikirannya tertuju pada Visko. Vlavia marah dengan Visko, tetapi dia juga sangat ingin tahu dimana Visko kini berada, dan sedang apa juga melakukan apa.


"Kenapa Kakak tega mau pisahin Mommy sama Daddy? apa karena Kak Visko masih dendam dengan kejadian dulu?" gumam Vlavia seraya menatap langit-langit kamarnya.


Vlavia memutuskan untuk ke kamar mandi membersihkan diri. Dan segera tidur, dia berharap setelah bangun di pagi harinya besok. Kejadian hari ini adalah mimpi dan bukan nyata. Rasanya tidak akan bisa jika keadaannya dengan Visko seperti sekarang ini. Percayalah ini sangat menyakitkan untuk Vlavia.


"Pagi Mom, Dad," sapa Vlavia ramah.


Dia masih mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Pagi juga sayang, kamu ke pulang sendiri tadi malam?" tanya Om Albert membuat Vlavia menggelengkan kepalanya.


"Tidak Dad, Vi diantar teman," jelas Vlavia membuat Om Albert mengangguk.


"Apa Visko sekarang jarang di apartemen? Viska sudah datang ke indo dan Daddy yakin dia pasti akan selalu membuntuti Visko." Om Albert menjelaskan seraya memijit pelipisnya.


Memkirikan gimana keadaan Visko yang selalu dibuntuti oleh Viska.


Apa Viska segitu gilanya dengan Ka Visko? Batin Vlavia merasa tidak enak sendiri.


Vlavia sendiri sudah melihat bagaimana cantiknya Viska. Ada rasa takut jika Visko berpaling ke lain hati.


Apa lagi keadaan Vlavia dan Visko yang kini sedant tidak baik-baik saja.


"Sudah lah Dad, Visko pasti bisa mengatasi Viska. Dia sudah dewasa," jelas Mommy Selena membuat Om Albert mengangguk.


Setelah sarapan selesai. Vlavia segera pamit untuk berangkat kuliah. Kebetulan Mang Dani juga sudah menunggunya sedari tadi.


"Morning Non Vi," sapa Mang Dani dengan senyumnya yang begitu cerah. Secerah sinar matahari di pagi hari ini.


Vlavia tersenyum. "Pagi juga Mang, ayo berangkat sekarang," jawab Vlavia yang membuat Mang Dani melakukan hormat seketika.

__ADS_1


Vlavia tertawa. "Makasih Mang, pagi-lagi sudah buat mood aku baik," jelas Vlavia membuat Mang Dani tertawa.


"Itu sudah kewajiban Mamang biar Non Vi nggak bosan setiap pagi liat muka Mamang yang pas-pasan ini," cletuk Mang Dani sengaja membuat Vlavia tertawa. Dan yah Benar saja Vlavai tertawa karena lelucon Mang Dani tadi.


Sampai akhirnya mobil yang Vlavia tumpangi sampai di Kampus besar tempat dirinya menimba ilmu sekarang ini. Setelah pamit dengan Mang Dani. Vlavia langsung masuk ke dalam gerbang tinggi dan besar di kampusnya.


Matanya tanpa sengaja bertemu dengan Visko yang baru saja datang dan memarkirkan mobilnya. Untuk seperkian detik manik mata mereka saling bertemu. Tetapi tidak ada yang saling menegur sapa terlebih dahulu.


Bahkan Visko memilih untuk meninggalkan Vlavia yang masih menatapnya sekarang. Rasanya begitu sesak. Dadanya bergemuruh melihat keadaan dirinya dan Visko sekarang. Ada rasa yang belum terselesaikan tetapi ada jarak juga yang membuat mereka saling menjauh satu sama lain.


Vlavia memejamkan matanya sejenak. Lalu berlari untuk menuju ke kelasnya. Semakin dia memikirkan Visko semakin lebar luka dihatinya.


"Hei!" sapa Kristan yang datang menghampiri Vlavia.


Vlavia menoleh ke arah belakangnya. "Kak Kristan," ucap Vlavau lirih.


Kristan tersenyum, lalu mensejajarkan langkah kakinya dengan Vlavia. "Ada masalah?" tanya Kristan membuat Vlavia menggelengkan kepalanya.


Kristan mengangguk. Tetapi jelas senyum miring terukir di wajahnya.


"A-aku duluan ya Kak," pamit Vlavia merasa tidak nyaman berada di dekat Kristan.


Kristan mengangguk tanpa menjawab. Tetapi tatapan matanya terus menatap kepergian Vlavia yang mulai menjauh.


Sedangkan kini Visko berada di kelasnya. Mood nya tiba-tiba buruk setelah bertemu dengan Vlavia tadim Bukan karena Visko membenci Vlavia. Tetapi Visko merasa rindu kebersamaan dengan Vlavia. Katakanlah Visko sebenarnya mulai bucin. Tetapi di tengah-tengah kebahagiaan yang mulai datang dalam hidupnya. Seseorang sengaja datang membawa badai untuk hubungannya dengan Vlavia.


Sial! Visko benar-benar harus mencari tahu siapa lelaki yang sudah mengirim kotak tersebut.


"Arghh.. Geli Kak Harry," rintih salah satu mahasiswi yang Harry bawa kedalam kelasnya.


Harry sedang bermain dengan salah satu mahasiswi cantik didalam kelas. Sedangka Dendry lebih sibuk dengan ponselnya. Dan Visko? ya dia sibuk degan pikirannya. Masalah selalu datang kedalam hidupnya. Apa lagi sekarang menyangkut hubungan diantara dirinya dan Vlavia. Rasanya Visko tidak bisa terus berlama-lama seperti sekarang ini.


"Arrgh...!!" kesal Visko seraya menendang meja yang berada di depannya.

__ADS_1


Harri, Dendry dan mahasiswi itu tersentak kaget. Mereka menatap Visko yang berlalu pergi keluar kelas. Suara Harry dan mahasiswi itu membuat indra pendengarannya terkena polusi suara. Wkwk


__ADS_2