
Semakin di hilangkan perasaan yang sudah tumbuh akan semakin terasa, dan itulah saat ini yang sedang Vlavia dan Visko rasakan.
Mereka saling jatuh cinta, tetapi setatus mereka membuat keduanya harus tetap berjaga jarak, berjaga agar tidak ada yang tahu, atau mereka akan menjalin hubungan dengan cara sembunyi-sembunyi dari kedua orang tua.
Vlavia meletekan tasnya di ranjang, lalu dia membaringkan tubuhnya di sebelah tas yang sudah lebih dulu tergeletak di ranjangnya.
Hari ini dia pulang ke Apartemen Visko. Karena memang kedua temannya tidak lagi meminta untuk menginap di rumahnya. Seperti biasa tadi Vlavia sudah pulang bersama dengan Mang Dani, seseorang yang selalu membuat Vlavia ceria dengan tingkah konyolnya.
" Masak apa ya untuk nanti malam,?" Gumam Vlavia seraya memikirkan menu makan untuk nanti malam.
Vlavia mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya, niatnya untuk mengirim pesan kepada Visko, menanyakan untuk menu makan malam mereka nanti, tetapi dia urungkan, tidak biasanya memang jika Vlavia memasak harus bertanya terlebih dahulu dengan Visko, biasanya dia juga akan menurut apa yang Vlavia masak.
" Sebaiknya aku mandi dulu sebelum masak." Gumamnya lagi seraya bangkit dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.
Sekitar 15menitan Vlavia selesai mandi. Dia berganti baju lalu melihat pantulan dirinya di cermin kamarnya. Ntah kenapa sejak mengenal dan semakin dekat dengan Visko, berpenampilan menarik membuat Vlavia selalu merasa ingin, meskipun pada kenyataannya Visko bisa melihat Vlavia gadis yang sangat menarik sekalipun dalam keadaan sederhana atau apa adanya, tetapi Vlavia merasa kurang percaya diri jika berpenampilan seperti di saat dia bertemu dengan Visko untuk yang pertama kalinya.
Vlavia tersenyum, lalu dia segera menuju ke dapur untuk memasak.
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, tetapi belum ada tanda-tanda kepulangan Visko. Vlavia sudah selesai memasak sedari tadi. Bahkan dia enggan untuk meninggalkan meja makan, berharap Visko segera datang dan makan malam bersamanya.
1 jam Vlavia masih menunggu
2 jam Vlavia kini mulai mengantuk, perutnya juga sudah meminta untuk di isi sedari tadi.
Sudah pukul 10 malam Visko belum juga pulang, Vlavia mendesah kesal, padahal Vlavia sangat menginginkan malam ini bisa makan malam bersama dengan Visko. Meskipun sederhana tetapi bersama dengan Visko yang Vlavia inginkan.
Sama halnya dengan Visko yang sekarang sedang mendesah kesal di dalam mobilnya. Pikiran Visko terus tertuju dengan Vlavia yang mungkin sekarang sedang sendirian berada di Apartemennya. Dan memang begitu adanya, bahkan Vlavia sedang menunggu kedatangan Visko agar bisa makan malam bersama.
" Visko, kita langsung pulang ke rumah kan,?" Tanya seseorang gadis yang kini berada di sebelah Visko.
" Gue anterin Lo, setelah itu Gue harus pergi." Jawab Visko membuat gadis yang berada di sebelahnya mendesah kesal.
Tetapi kemudian dia tersenyum sangat manis ke arah Visko.
" Jangan kebanyakan main dengan jal*ng Vis, lelaki tampan seperti Lo sayang kalau harus kotor dari wanita di luaran sana." Sambungnya lagi membuat Visko tersenyum miring.
Tahu apa Viska tentang dirinya? Bahkan Viska sama sekali tidak mengerti bagaimana Visko sebenarnya.
Gadis yang kini sedang berada di mobil Visko ialah Viska, sepupu dari Visko yang tinggal di luar negeri. Kepulangannya di percepat karena permintaannya yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sepupunya, siapa lagi kalau bukan Visko sendiri, bahkan tadi Viska meminta untuk pulang ke apartemen Visko. Tetapi dengan segera Visko menolak dengan alasan dia tidak enak dengan Daddy nya jika membawa Viska ke apartemennya.
__ADS_1
Beruntung Viska mengiyakan permintaan Visko untuk pulang ke rumahnya. Jika tidak mungkin akan lain cerita.
Setelah mengantarkan Viska ke rumah. Visko langsung buru-buru pergi, bahkan dia tidak sempat untuk menyapa Om Albert dan Mommy Selena, jelas yang ada di pikiran Visko saat ini ialah bagaimana keadaan Vlavia di apartemennya.
Visko membuka pintu apartemen. Terlihat lampu-lampu yang masih menyala. Setelah meletakan jas yang tadi di pakainya Visko menuju ke meja makan. Benar saja terlihat Vlavia yang sedang tertidur di meja beralaskan tangannya.
Visko mendekat ke arah Vlavia, dia menghela nafasnya kesal, tidak tega rasanya membiarkan Vlavia harus menunggunya dengan keadaan seperti sekarang ini.
" Vi." Panggil Visko lirih.
Tetapi tidak ada jawaban dari Vlavia, jelas karena Vlavia sudah tertidur.
Visko berniat untuk mengangkat Vlavia, dan membaringkannya di atas ranjangnya, Visko kembali menatap Vlavia yang sedang memejamkan matanya, seulas senyum terukir jelas di wajah tampannya.
" Maafin Gue udah bikin Lo nunggu," Gumam Visko lalu mengecup puncuk kepala Vlavia.
Di saat Visko akan pergi dari kamar Vlavia, tiba-tiba suara Vlavia mengejutkannya, membuat Visko mengurungkan niatnya dan membalikan badannya.
" Kak Visko," Panggil Vlavia lirih, tetapi memang terdengar jelas oleh Visko.
" A-aku lapar." Sambung Vlavia dengan nada suara yang sangat pelan, jelas Vlavia malu mengungkapkan jika dirinya lapar, tetapi memang karena perutnya yang belum di isi membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
" Kalau begitu ayo kita makan," Ajak Visko lagi yang membuat Vlavia tersenyum.
Vlavia beranjak dari tidurnya, lalu berjalan ke arah Visko dengan senyum di wajahnya.
" Ayo Kak." Ajak Vlavia membuat Visko tersenyum seraya mengacak rambut Vlavia pelan.
Tidak ada percakapan di antara mereka ketika makan, setelah selesai makan, mereka masih sama-sama duduk di kursinya.
Hanya pandangan mata mereka saja yang saling berbicara dan saling bertemu.
" Kak Visko."
" Vi." Panggil mereka secara bersamaan.
" Lo duluan."
" Kak Visko duluan." Sambung mereka lagi secara bersamaan.
__ADS_1
" Lo duluan Vi." Suruh Visko kepada Vlavia, tetapi Vlavia menggeleng, dia meminta agar Visko yang berkata terlebih dahulu.
" Kak Visko saja dulu." Jawab Vlavia membuat Visko mendesah.
" Sorry Lo harus nunggu lama," Ucap Visko membuat Vlavia menatap Visko, lalu mengangguk pelan.
" Dan udah bikin perut Lo bunyi tadi." Sambung Visko seraya terkikik di akhir kalimatnya.
Vlavia menatap Visko cengo, dia malu karena Visko sampai mendengar bunyi perut Vlavia menahan lapar, tetapi tidak masalah, itu bukan sesuatu hal yang sangat memalukan.
" Lo maafin Gue kan?," Tanya Visko membuat Vlavia tersadar dan mengangguk.
Visko juga mengangguk seraya memberikan senyuman tampannya untuk Vlavia, tetapi jika Visko terus tersenyum untuk Vlavia yang ada Vlavia malah akan semakin gugup dan salah tingkah, meskipun mereka tidak melakukan apa-apa sekarang.
" Lo mau ngomong apa?," Tanya Visko membuat Vlavia kembali tersadar dari lamunannya.
" Eh... A-aku, emmm... Anu Kak Visko." Jawab Vlavia dengan gugup.
Visko tersenyum miring, dia tahu kalau Vlavia kini sedang gugup karena dirinya.
" Anu apa Vi?," Tanya Visko dengan sengaja.
" Kak Visko kenapa baru pulang?." Tanya Vlavia yang membuat Visko terdiam.
Dia bingung untuk memberitahukan kepada Vlavia atau tidak kepulangan Viska yang mendadak.
" Ah... Maaf Kak aku sudah lancang, a-aku cuci piring dulu." Jawab Vlavia seraya beranjak dari duduknya.
Vlavia berniat untuk meninggalkan meja makan, tetapi naas, ntah bagaimana bisa bajunya kecantol di kurisnya, alhasil Vlavia tidak bisa melangkah karena tarikan di baju yang tercantol di kursi.
Vlavia mengira jika Visko yang sudah menahan dengan menarik bajunya, bahkan sekarang Vlavia semakin gugup karena kesalah pahaman ini.
Sedangkan Visko ingin sekali tertawa melihat ekspresi Vlavia saat ini, tetapi dia tidak ingin membuat Vlavia semakin malu karena kursi yang sudah membuat Vlavia salah paham dengan dirinya.
" Kak Visko please..." Pinta Vlavia agar Visko melepaskannya.
Visko semakin menahan tawanya, sebisa mungkin dia tidak mau jika Vlavia tahu dan semakin malu karena kesalah pahaman ini. Visko bernajak dari duduknya, mendekat ke arah Vlavia yang membuat Vlavia semakin gugup tidak menentu.
" Kenapa pergi sebelum Gue jawab?," Bisik Visko membuat Vlavia meremang dan semakin gugup.
__ADS_1
Selalu saja Visko membuatnya seperti ini, ingin menolak tetapi Vlavia tidak bisa, bukan karena Visko mencegah tetapi karena tubuhnya selalu suka di perlakukan seperti itu oleh Visko.