
Vlavia berdiri tepat di depan Visko. Dia. memejamkan matanya melihat Visko yang mulai mendekatkan wajahnya, hal yang selalu ingin Vlavia hindari akan kembali terjadi, kenapa Visko selalu melakukan itu kepadanya? Dan anehnya kenapa Vlavia tidak bisa menolak dengan tegas kepada Visko.
Apa yang mereka lakukan sangatlah salah, sebagai Kakak beradik sekarang, harusnya mereka sama-sama mencegah apa yang seharusnya tidak terjadi.
Mereka saudara, meskipun bukan kandung tapi tetap saja salah bukan melakukan hal yang seharusnya di lakukan oleh pasangan kekasih.
Wajah mereka semakin dekat dengan jarak hanya berapa senti saja, Vlavia sudah mulai gugup bukan main, rasanya dia tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini, meski dengan mata terpejam tapi Vlavia bisa merasakan hembusan nafam Visko yang menyambar di permukaan kulitnya.
Saat bibir Visko hampir menyentuh bibir Vlavia, tiba-tiba ponsel Vlavia berbunyi, seketika membuat Visko mengurungkan niatnya untuk mencium Vlavia, dengan kesal Visko berucap kepada Vlavia.
" Angkat telpon Lo." Suruh Visko yang mendadak jadi kesal dengan gadia cantik di depannya ini.
Padahal Vlavia kan tidak salah apa-apa, jika Visko ingin kesal ataupun marah, sebaiknya marahlah pada ponsel Vlavia atau orang yang menelponnya, meskipin tidak di pungkiri Vlavia merasa sangat berterimakasih juga tertolong dengan seseorang yang menelponnya itu.
Vlavia mengangkat teleponnya, ternyata Mang Dani yang menelponnya dan mencoba untuk membangunkan Vlavia agar tidak telat ke kampusnya.
Mang Dani tidaklah tau jika Vlavia dan dirinya hanya di pisahkan oleh pintu saja, karena Vlavia dan Visko sudah tepat berada di depan pintu saat ini.
" Baik Mang." Ucap Vlavia sembari menaruh kembali ponselnya di tas.
" Siapa?." Tanya Visko dengan nada cueknya.
" Mang Dani Kak." Jawab Vlavia membuat Visko menghela nafasnya kasar.
Sialan, tadi Harry sekarang sopir itu, nanti siapa lagi? Batin Visko kesal karena rencananya untuk mendapat semangat dari Vlavia terus gagal.
Apes banget pokoknya pagi ini, mau dapat vitamin di tunda mulu.
Visko masih dengan pikirannya, sedangkan Vlavia diam karena canggung sembari menunggu pintu apartemen terbuka.
Dan tidak lama, pintu apartemen terbuk. menampakan sosok lelaki yang hampir paruh baya itu tersenyum menyapa dua majikan mudanya.
__ADS_1
Mang Dani memang tau pasword Apartemen Visko. Tak khayal jika dia bisa membuka pintu apartemen itu. Hanya saja Mang Dani harus meminta ijin dulu kepada penghuninya tadi. Siapa lagi kalau bukan Vlavia si gadis cantik yang tadi hampir tersudutkan oleh Visko.
Beruntung Mang Dani datang menyelamtkannya.
" Morning Non Vi, Den Visko." Sapa Mang Dani menampilkan senyuman terbaiknya.
" Morning Mang, ayo kita berangkat saja sekarang." Ajak Vlavia kepada Mang Dani.
Vlavia tau Visko saat ini sedang kesal dengan Mang Dani, dia tidak mungkin menjawab sapaan dari Mang Dani, dari pada membuat keadaan semakin canggung lebih baik Vlavia mengajak Mang Dani untuk segera berangkat ke kampus.
" Mari Den." Pamit Mang Dani sopan kepada Visko, tidak ada jawaban dari Visko, dia masih acuh tak acuh beridir di tempatnya.
Hufh...
Vlavia menghela nafasnya pelan.
" Aku berangkat dulu Kak." Pamit Vlavia kepada Visko.
" Hmm." Jawab Visko membuat Vlavia sedikit terkejut.
Meskipun hanya jawaban yang tidak jelas dari Visko, tetap saja Vlavia terkejut, kenapa jika Mang Dani yang mengajaknya berbicara Visko seakan menjadi orang yang bisu, sedangkan Vlavia yang berbicara kepadanya Visko mau menjawab, meskipun hanya sebuah " Hmm " Saja, tapi itu ajaib menurut Vlavia.
Segitu marahnya kah Visko kepada Mang Dani yang tidak tau apa kesalahannya? Pikir Vlavia.
Kini Vlavia sudah berada di dalam mobil bersama Mang Dani. Seperti biasa Mang Dani akan menyalakan lagu-lagu manca yang enak untuk di dengarkan di pagi hari ini.
" Non Vi." Panggil Mang Dani membuat Vlavia yang tadinya sedang menatap jalanan menoleh ke arahnya yang berada di depannya.
" Iya, kenapa Mang?." Tanya Vlavia sopan kepada sopir pribadinya itu.
" Den Visko ganteng banget ya Non, mirip sekali sama artis-artis ho**llywood." Ucap Mang Dani membuat Vlavia menautkan alisnya.
__ADS_1
Vlavia jadi membayangkan wajah tampan Visko karena ucapan Mang Dani, Vlavia tersenyum sendiri setelah gambaran wajah tampan Kakaknya terlihat jelas di lamunannya.
" Bener kan kata Mamang?." Tanya Mang Dani yang melihat Vlavia tersenyum simpul di belakang, Vlavia terkejut rupanya sopirnya itu melihat gerak-geriknya.
Malu banget kan jadinya sekarang.
" Eh iya Mang." Jawab Vlavia cepat.
" Den Visko itu banyak sekali yang suka Non, ada yang namanya Marisa pasti Non Vi tau dia satu kampus sama Non Vi dan Den Visko." Jelas Mang Dani membuat Vlavia hanya menganggukan kepalanya.
" Tapi ada yang lebih parah lagi dari Non Marisa, dia sekarang masih berada di Belanda kuliah di sana, sebenarnya masih saudara sih sama Den Visko, tapi tetap saja yang namanya perasaan suka kan susah di hilangkan." Cerita Mang Dani kepada Vlavia.
Valvia bingung harus menjawab atau menanggapinya seperti apa, jadi dia hanya mengangguk saja.
Vlavia merasa dia memang beruntung sudah menjadi adik dari seorang Visko yang merupakan idola wanita, meskipun perasaannya kini semakin silit untuk di jelaskan, Vlavia senang dekat dengan Visko, tapi dia juga harus tau diri, jika dirinya kini dan Visko adalah saudara, apa yang ada pada hatinya saat ini tidak boleh sampai bertambah dan lebih, perasaannya harus benar-benar di jaga.
Aku yakin rasa s**ayang ini karena kita sekarang saudara Kak Batin Vlavia meyakinkan dirinya.
Jika apa yang dirasakan olehnya terhadap Visko hanyalah rasa sayang sebagai saudara saja, tidak lebih dari itu.
" Sudah sampai Non." Ucap Mang Dani membuyarkan lamunan Vlavia.
" Eh iya Mang, makasih ya Mang." Jawab Vlavia sembari turun dari mobilnya.
" You're welcome Non Vi." Jawab Mang Dani yang mendapat senyuman dari Vlavia.
Sebenarnya niat Mang Dani bercerita sedikit tentang Visko ialah untuk menemani perjalana mereka, tapi tidak di sangka jika tanggapan Vlavia dari cerita Mang Dani tadi cukup membuat Mang Dani sedikit terkejut, Mang Dani tau ada sesuatu dari Kakak beradik yang tidak sekandung itu, dari wajah Vlavia tadi sangat terlihat jelas.
Siapa yang tau mereka saling suka karena memang awal perkenalan mereka juga sudah sama-sama dewasa, lagian kalau di pikir-pikir Non Vi kan cantik tidak kalah dengan saudara Visko ataupun Marisa, hanya saja kurang sedikit polesan maje up di wajah cantiknya itu. Pikir Mang Dani sembari menepuk keningnya dengan pikirannya yang begitu jauh.
Vlavia masuk ke dalam kampusnya. Baru berapa langkah Vlavia sudah di kagetkan dengan kedatangan Kristan yang mengejarnya agar berjalan sejajar dengan dirinya.
__ADS_1