
Kini Vlavia dan Visko sedang berada di meja makan. Tidak ada percakapan di antara keduanya, Vlavia fokus dengan makanannya sedangkan Visko sedari tadi bermain dengan ponselnya, sesekali juga melirik Vlavia yang sedang makan seperti orang kesurupan.
Visko tersenyum melihat Vlavia yang makannya begitu cepat, persisi seperti orang kesambet set*n.
" Cewek makannya kayak gitu." Cibir Visko membuat Vlavia terbatuk.
Uhuk... Uhuk....
Vlavia meminum air putih yang berada di depannya, dia juga menepuk-nepuk dadanya untuk menenangkan.
Bukannya membantu Visko malah tersenyum, apes banget deh Vlavia malam ini, sudah di buat takut karena berada di apartemen sendiri. Masih juga di buat terbatuk karena perkataan Visko.
" Sayang makanannya, tadi aku sengaja masak buat makan malam kita." Jelas Vlavia membuat Visko menghentikan aktifitasnya dengan ponselnya.
Visko menatap Vlavia serius.
" Lo masak buat makan malam kita?." Tanya Visko yang di angguki langsung oleh Vlavia.
" Ah... Shit." Gumam Visko lirih, bagaimana mungkin dia membiarkan masakan yang Vlavia buat di diamkan begitu saja.
" Ambilkan piring Gue juga mau makan." Suruh Visko kepada Vlavia.
Vlavia menautkan alisnya bingung, dia pikir salah dengar barusan, tidak mungkin Visko tiba-tiba ingin makan begitu saja di jam segini.
" Kenapa bengong? Cepat ambilkan." Suruh Visko sekali lagi.
Kali ini Vlavia semakin yakin jika dia tidak salah dengar, Visko benar-benar menyuruhnya untuk mengambilkan piring, tapi tetap saja Vlavia bingung ingin mengambilkan atau tidak.
" Kak Visko mau makan?." Tanya Vlavia memastikan.
Visko tidak menjawab, tapi dia menatap tajam Vlavia, membuat Vlavia sedikit ngeri dengan tatapan Visko, alhasil Vlavia bangkit dari duduknya untuk mengambilkan piring.
" Biar aku angetin dulu masakannya Kak." Ucap Vlavia merasa tidak enak membiarkan Visko memakan makanan yang sudah dingin.
" Tidak perlu." Jawab Visko singkat.
__ADS_1
Dia langsung mengambil makanan yang tadi malam sudah di siapkan oleh Vlavia.
Vlavia sedari tadi tadi terus mengamati gerak-gerik Visko yang sedang memakan makanannya, jujur saja Vlavia sangatlah senang meskipun mereka menyantap masakannya di waktu yang telat.
Bahkan dalam keadaan makan saja Visko sangatlah tampan, pantas saja banyak sekali yang mengantri untuk menjadi teman kencannya, Vlavia jadi senyum-senyum sendiri mengingat temannya yang berkeinginan tinggal bersama dengan Visko, tidak di pungkiri Vlavia memang sangat beruntung, meski terkadang sikap Visko menakutkan karena bukan seperti Kakak untuknya.
Visko melirik ke arah Vlavia yang sedang menatapnya, Visko tersenyum miring melihat jelas jika Vlavia terpesona dengannya, jelas dari cara Vlavia melihat Visko sekarang yang sedang senyum-senyum tanpa berkedip, Visko sudah bisa menebak itu.
" Kedip Vi kalau nggak mau kelilipan." Cibir Visko membuat Vlavia terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya.
Astaga kenapa Gue jadi berani seperti ini? Batin Vlavia merasa dirinya ini semakin berani saja menatap Visko.
Gila benar-benar gila kalau Vlavia berlama-lama tinggal dengan Visko saja di apartemen. Vlavia takut matanya akan khilaf karena terus memandangi Kakaknya.
No Vlavia tidak boleh sampai menyukai Visko, benar-benar tidak bisa di biarkan, meski perasaannya sekarang saja susah di jelaskan.
" A-aku mau ke dapur dulu Kak." Pamit Vlavia yang langsung berdiri dan pergi.
Visko hanya memandang kepergian Vlavia dengan senyum tampannya.
Vlavia ingin segera kembali ke kamarnya. Bila perlu besok pagi tidak usah bertemu dengan Visko dulu, atau kalau tidak Vlavia tidak akan tidur lagi, dia akan menunggu Visko untuk kembali ke kamarnya. Setelah itu dia akan memasak untuk sarapan dan berangkat ke kampus lebih awal agar tidak bertemu dengan Visko di pagi harinya.
Tapi ketika Vlavia akan kembali, Visko sudah berada di belakangnya dengan membawa piring kotornya.
" Bi-biar aku cuci Kak." Ucap Vlavia sedikit terkejut dengan keberadaan Visko.
Sumpah Visko ini benar-benar seperti hantu di apartemennya. Selalu saja tidak bisa di tebak keberadaannya muncup begitu saja.
" Oke." Jawab Visko singkat sembari menatap Vlavia.
Jujur saja melihat wajah Vlavia sekarang yang sedang malu-malu membuatnya gemas dan ingin memakannya.
Vlavia langsung memncuci piring kotor milik Visko, tau dengan keberadaan Visko yang masih berdiri di belakangnya membuat Vlavia berlama-lama mencucinya, karena Vlavia berharap Visko segera pergi dari tempat itu.
Tapi sial, seberapa lamapun Vlavia mencuci Visko akan tetap berdiri di belakang Vlavia, dan ini jelas membuat Vlavia sedikit was-was.
__ADS_1
Vlavia gugup bukan main, rasanya seperti sedang ujian di waktu SMA dengan di awasi oleh Gurunya, tapi sekarang lebih menegangkan lagi, Visko bukan seperti Guru pengawas ujian saja, tetapi juga seperti penagih hutang karena membuat Vlavia begitu gugup.
Visko ini suka sekali membuat Vlavia jadi gugup dan lemas seperti sekarang ini.
Setelah selesai mencuci, Vlavia berniat untuk pergi, bahkan dia tidak berani menoleh ke arah Visko yang sedari tadi masih terus menatapnya.
Baru saja Vlavia akan melangkahkan kakinya, Visko sudah mencekal pergelangan tangannya.
Deg...
Yang Vlavia takuti benar-benar tejadi, Visko ini gampang sekali berubah sikapnya, kadang seperti Kakak untuknya, kadang juga seperti lelaki lain.
" A-aku mau kembali ke kamar Kak." Ucap Vlavia berniat pamit kepada Visko.
Tapi tetap, Vlavia tidak berani menatap wajah Visko, ngeri saja kalau dia kembali terpesona dan malah menurut saja dengan apa yang akan di lakukan oleh Visko, sebisa mungkin Vlavia harus bisa mencegahnya.
" Gue dari tadi malam belum tidur." Jelas Visko membuat Vlavia sedikit terkejut dan bingung.
Terus apa hubungannya dengan Vlavia kalau Visko belum tidur sedari malam? Bukankah ini saat yang tepat Visko kembali ke kamarnya dan segera tidur. Lagian perut Visko kan sudah di isi, perut kenyang itu gampang sekali membuat orang terlelap tidur.
Vlavia masih bingung harus menjawab apa.
" Gue butuh bantuan Lo biar mata Gue bisa merem Vi." Sambung Visko membuat Vlavia semakin berfikir keras.
Memangnya apa yang harus Vlavia bantu agar Visko bisa memejamkan matanya dan tertidur lelap?
" Tatap mata Gue." Suruh Visko kepada Vlavia.
Vlavia tersentak kaget, ini pasti akan membuatnya berada di situasi yang akan sulit. Vlavia sudah berusaha agar tidak terpesona dengan Kakak tirinya, susah payah dia mengendalikan matanya agar tidak menatap Visko, ini malah tiba-tiba di suruh Visko untuk menatapnya.
" Kalau masih menunduk Gue cium." Ucap Visko terdengar seperti ancaman.
Dengan sedikit ragu, Vlavia memberanikan diri untuk menatap wajah Visko, bukan menatap matanya tapi Vlavia malah menatap hidung Visko, Vlavia tidak berani menatap lebih ke atas ataupun kebawah. Vlavia takut jika dia akan terhipnotis dengan bibir indah dan mata elang Visko, mata indah yang membuat Vlavia nantinya khilaf.
Padahal niat Visko juga karena ingin membuat Vlavia itu tenggelam karena wajah tampannya. Visko yakin jika Vlavia tidak akan menolak, Visko menatap Vlavia dengan lembut, begitu juga dengan Vlavia yang tanpa sadar sudah menatap mata Visko.
__ADS_1
Sialan banget deh itu mata Vi, tidak bisa di ajak bekerjasama dengan otaknya, tapi semua wanita jika di suguhkan dengan wajah tampan dan pembawaan yang lembut sedikit mengancam mereka juga akan sama halnya seperti Vlavia saat ini, apa yang di lakukannya tidak dia sadari, pokoknya mengalir begitu saja sesuai dengan apa yang sedang di rasakan olehnya.