
Setiap masalah akan ada jalan keluarnya. Itulah yang harus Vlavia ingat saat ini.
Dengan langkah pelan ditemani oleh Krsitan yang menemaninya. Vlavia berjalan menuju ke kelasnya. Jujur saja perasaannya saat ini tidak bisa dikatakan jika Vlavia sudah biasa saja. Meskipun tadi Kristan sudah mencoba untuk menenangkannya. Tetapi jika bukan Visko yang berada di sini Vlavia tidaklah merasa tenang.
Vlavia lebih tenang jika Visko yang berada didekatnya saat ini. Meskipun Visko sendirilah penyebab utamanya masalah ini.
"Aku tungguin di sini sampai Serin dan Mila datang ya." Ucap Kristan yang ingin menemani Vlavia.
Vlavia menggeleng pelan "Aku sudah cukup merepotkanmu Kak." Jawab Vlavia membuat Kristan tersenyum sekilas.
"Kamu tidak pernah merepotkanku Vi. Aku senang melakukannya." Jawab Kristan lagi membuat Vlavia menghela napasnya.
"Maaf Kak, tapi aku sedang ingin sendiri." Jawab Vlavia membuat Kristan menahan senyum.
Sebenarnya Kristan kesal karena Vlavia terus menolak kebaikannya. Apa lagi sekarang Vlavia meminta Kristan untuk pergi dari kelasnya. Jelas Kristan semakin dibuat kesal.Tetapi Dia terus mencoba untuk bersabar di depan Vlavia.
"Oke aku pergi. Kamu jaga diri baik-baik Vi." Jelas Kristan yang di angguki oleh Vlavia.
Kristan benar-benar pergi meninggalkan Vlavia di dalam kelasnya. Dia akan melihat seberapa tahan Vlavia dengan teman-teman kampusnya yang terus saja menggosipkannya saat ini.
Gue lihat Lo bakal bertahan sampai kapan Vi Batin Kristan seraya berjalan santai menjauh dari kelas Vlavia.
Vlavia kembali mengingat kejadian tadi. Lalu kepalanya dia tundukan di atas meja. Lelah rasanya terus mendengar kata-kata pedas dari para pembencinya saat ini.
Vlavia berniat untuk mengerjakan tugasnya saja. Agar tidak terus terpikir dengan masalahnya saat ini. Di saat Vlavia sudah mulai sibuk dengan tugas yang sedang dikerjakan. Tiba-tiba beberapa mahasiswi masuk.
Mereka langsung mendekat kearah Vlavia. Pandangan mereka sama-sama tajam dan bahkan ada yang menatap Vlavia dengan tatapan jijik.
"Heh Lo, jadi cewek ganjeng banget sih." Ucap salah satu dari mereka seraya mengambil buku yang sedang Vlavia kerjakan.
Vlavia teridam. Dia mencoba untuk tetap tenang dan terlihat tidak takut. Meskipun sebenarnya dia saat ini sedang begitu takut. Masalahnya saat ini sama saja aib untuknya.
"Dengerin kalau Gue ngomong." Lanjutnya lagi seraya menarik dagu Vlavia untuk menatapnya.
__ADS_1
Teman-temannya tertawa senang melihat mahasiswi yang sedang mencengkram dagu Vlavia dengan kuat. Dapat dipastikan jika Dia ketua geng dari mereka.
"Lo tuli hah?" tanyanya lagi dengan nada suara keras.
Bahkan sampai membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berjala di depan kelas Vlavia sengaja berhenti dan masuk untuk menonton adegan itu.
Semua yang melihat itu terus bersorak. Memberi semangat agar Vlavia lebih mendapat lagi pelajaran.
"Jambak aja rambutnya bair nggak sok kecantikan." Teriak salah satu mahasiswi yang baru datang.
Mahasiswi itu menatap wajah Vlavia yang kini begitu dekat dengannya. Mengamati setiap bentuk wajah Vlavia yang memang tanpa cela.Vlavia cantik dan bahkan kecantikannya melebihi Marisa.
"Dasar bi*ch. Lo emang bi*ch!!" teriaknya kesal melihat wajah Vlavia.
Dengan kasar dia melepaskan cengkraman pada dagu Vlavia. Sampai membuat Vlavia tersungkur ke lanatai. Melihat air mata Vlavia yang masih saja berdiam diri membuat mahasiswi itu semakin keset*nan untuk kembali menyiksa Vlavia.
Rasanya melihat Vlavia saat ini membuat dirinya naik darah. Dengan kasar dia menarik rambut Vlavia agar kembali berdiri.
"Kalian bantuin Gue pegangin tangan dia." Ucapnya menyuruh teman-teman gengnya untuk memegang Vlavia.
Dengan senyuman licik. Dia mengambil gunting yang memang sudah di siapkan olehnya. Ternyata pembullyan itu sudah mereka rencanakan. Ntah kenapa bisa sesadis itu karena mereka benar-benar kesal atau karena ada yang menyuruh mereka di balik semua itu.
Melihat gunting yang di bawa oleh teman kampusnya membuat Vlavia menggeleng. Vlavia paham apa yang akan dilakukan oleh gadis tanpa belas kasihan itu di depannya.
"Aku mohon janga lakuin itu." Ucap Vlavai dengan nada suara yang sudah bergetar.
Mahasiswi itu tersenyum miring "Uda bisa ngomong Lo." Sentaknya membuat Vlavai semakin ketakutan.
Dengan jemarinya. Dia memainkan rambut Vlavia. Lalu menatap baju yang dikenakan oleh Vilona.
"Ini saatnya Gue kasih Lo pelajaran biar Lo nggak sok kecantikan lagi." Ucapnya membuat Vlavia menggeleng.
Marisa dan dengnya juga melihat kejadian itu dari pintu kelas Vlavia. Mereka tersenyum penuh kemenangan. Memang itu yang Marisa inginkan. Menyakiti Vlavia tanpa harus menyentuhnya.
__ADS_1
Mahasiswi itu semakin menatap Vlavia dengan senyuman liciknya. Dan kini guntin yang sedang dia bawa semakin di dekatka dengan rambut Vlavia.
Aku mohon siapapun tolong aku sekarang Batin Vlavia seraya memejamkan matanya.
Vlavia saat ini benar-benar di jurang yang dalam. Orang-orang yang menyayanginya tidak ada yang berada di dekatnya. Hanya para pembencinya saat ini yang terus senang melihat penderitaannya.
"Bangs*t!!!" teriak seseorang yang datang bersama kedua sahabatnya.
Semua mahasiswa dan mahasiswi menoleh kearah lelaki tampan yang terlihat sangat marah. Mereka terkejut tidak percaya. Ini akan menjadi tontonan yang sangat luar biasa. Tetapi jelas rasa takut kini lebih mereka rasakan di saat Visko dan kedua sahabatnya datang.
Visko mendekat kearah Vlavia yang terlihat menyedihkan. Di depan mereka semuanya Visko memeluk Vlavia dengan erat. Sampai membuat semua yang berada di sana kembali dibuat terkejut dengan perlakuan Visko. Ini berita yang sangat besar tentunya, tetapi diantara mereka tidak ada yang berani mencoba untuk merekam dengan ponselnya.
Bahkan mahasiswi dan juga teman-temannya tadi yang akan melakukan aksinya untuk memberi pelajaran pada Vlavia seketika terdiam. Mereka ketakutan melihat Visko bersama kedua sahabatnya yang sedang menatap mereka dengan tatapan membunuh.
"Lo mati ditangan Gue." Ucap Visko dengan tatapan membunuhnya. Lalu membawa Vlavia untuk pergi dari kelasnya.
Sedangkan mahasiswi itu tampak bergetar. Dia ketakutan dengan ancaman Visko. Tahu sendiri lah orang yang berani mengusik geng Visko pasti berujung menyedihkan. Kini nasibnya tinggal di ujung tanduk saja.
"Temenin Gue nanti malam kalau Lo masih mau hidup." Ucap Harry lalu pergi meninggalkannya.
Sedangkan Marisa tampak menatap mahasiwi itu kesal karena belum sempat membuat wajah Vlavia menjadi buruk rupa atau jelek karena luka sayatan gunting.
"Cabut guys kita pikirkan cara lain untuk menyingkirkan si ja*ang itu." Ucap Marisa mengajak gengnya pergi dari tempat itu.
Visko memeluk Vlavia dengan hangat. Tubuh Vlavia masih bergetar. Ini untuk yang pertama kalinya dia mendapat bullyan yang serius. Biasanya Marisa juga membullynya tetapi tidak separah tadi dan Vlavia masih bisa menangani. Atau mungkin Vlavia begitu malu karena videonya yang sudah terlanjur tersebar di kampusnya.
"Maafin Gue Vi, udah bikin Lo kayak gini." Ucap Visko masih setia memeluk Vlavia.
Visko memutuskan untuk membawa Vlavia ke apartemennya. Dan kini Dendry sebagai pengemudi mereka yang di temani oleh Harry di sampingnya.
Tidak ada jawaban dari Vlavia. Rasa traumanya atas kejadian tadi membuat sekujur tubuh Vlavia rasanya kaku. Vlavia hanya butuh pelukan Viskp saat ini untuk menenangkan dirinya.
Visko yang membuat salah. Tetapi Visko juga yang bisa menenangkan dirinya. Dan begitulah cinta. Dia yang menyakiti tetapi terkadang dia juga yang menyembuhkan lukanya.
__ADS_1