
Vlavia dan Visko kini masih meringkun di dalam ranjang kamar Vila. Mereka memang tidur bersama tetapi tidak melakukan sesuatu diluar batas. Visko menyayangi Vlavia dengan tulus. Dia tidak akan menyakiti atau membuat masa depan Vlavia hancur, seperti merusak Vlavia misalnya.
Visko mengerjapkan matanya. Sore ini di sekitaran sedang hujan deras. Mungkin malam ini mereka harus menginap di Vila itu. Tangan Visko mengelus rambut Vlavia, lalu mengecup kening Vlavia dengan begitu hangat. Vlavia masih tertidur, mungkin karena udara disekitar begitu dingin membuat Vlavia yang beberapa hari ini kurang tidur karena pertengkarannya dengan Visko menjadi begitu nyenyak tidur di Vila dan juga didekat Visko. Lelaki yang selalu dia inginkan berada di dekatnya.
"Maafin gue udah bikin lo sedih," ucap Visko kembali mencium kening Vlavia.
Ting
Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Visko meraih ponsel yang berada di sebelahnya. Matanya menyipit melihat nomor yang tidak dia ketahui pemiliknya. Tetapi nomor itu tidaklah asing untuk Visko.
++++++++22222
Semoga kamu selalu baik-baik saja
Visko menaruh ponselnya lagi tanpa berniat untuk membalas pesan singkat dari nomor yang tidak diketahui pemiliknya.
Ini sudah untuk beberapa kalinya dia mendapat pesan yang tidak jelas itu.
"Kak," panggil Vlavia lirih. Visko segera menoleh ke arah Vlavia lalu tersenyum dengan begitu tampan.
Sebanyak apapun masalahnya, serumit apapun masalahnya tetapi jika Vlavia berada di dekatnya Visko akan selalu merasa baik-baik saja. Bahkan masalah yang saat ini tidak menganggu pikirannya karena adanya Vlavia.
"Udah bangun?" tanya Visko seraya mencium kening Vlavia sekilas.
Vlavia tersenyum. Dia begitu bahagia diperlakulan seperti itu oleh Visko. Bahka tidak lagi ada canggung yang biasanya Vlavia rasakan. Semakin Vlavia mengenal Visko semakin besar rasa sayangnya untuk Visko.
"Apa diluar sedang hujan?" tanya Vlavia seraya menoleh ke arah jendela.
Visko mengangguk seraya tersenyum. Memeluk Vlavia yang masih berada di sebelahnya. "Iya kita bisa menginap di sini malam ini," jawab Visko lalu mempererat pelukannya.
"Bagaimana dengan kuliah kita Kak?" tanya Vlavia yang memang tidak biasa membolos seperti Visko.
"Itu gampang, gue bisa minta tolong sama Dendry," jawab Visko membuat Vlavia mengangguk.
__ADS_1
Vlavia menatap Visko yang juga sedang menatapnya. Melihat Visko yang sudah terlihat baik-baik saja membuat Vlavia juga merasa lega dan senang.
"Aku akan selalu ada untuk Kakak apapun yang terjadi," ucap Vlavia membuat Visko tersenyum. Sebelum akhirnya Visko kembali mendaratkan bibirnya pada bibir manis Vlavia.
Hujan masih juga belum reda. Keduanya kini sedang berada di dapur Vila. Beruntung Visko tadi sudah menyuruh Bapak-bapak yang biasaya menjaga Vila itu untuk mengisi kulkasnya. Jika tidak mereka akan kesusahan untuk mencari makan malam. Sangat malas jika dimalam hari yang sedang turun hujan harus keluar untuk mencari makan. Lebih baik memasak tanpa harus merasakan dinginnya udara luar.
"Mau makan apa?" tanya Vlavia kepada Visko.
Mereka terlihat seperti pengantin baru yang sedang berbulan madu sekarang ini.
"Apa saja yang lo masak gue pasti makan kok," jawab Visko membuat Vlavi tersenyum malu.
Vlavia mulai mengambil makan dan peralatan dapur untuk digunakan. Sedangkan Visko lebih memilih untuk duduk menmaninya. Karena jika Visko membantu Vlavia dia akan kehilangan moment dimana matanya terus melihat apa saja yang sedang dilakukan oleh Vlavia ketika memasak. Menurut Visko Vlavia terlihat sangat sexy ketika sedang memasak.
"Mau pedas?" tanya Vlavia yang langsung mendapat anggukan kepala dari Visko.
Tetapi tiba-tiba suara ketukan dari pintu Vila terdengar. Bisa kalian bayangkan disaat malam dan hujan tiba-tiba ada suara ketuka dari Vila yang jarang baru pertama kali ini Vlavia kunjungi. Jelas suasana yang tadi romantis berubah menjadi tegang. Tetapi hanya berlaku untuk Vlavia saja, karena Visko malah mendengus kesal dengan seseorang yang datang ke Vilanya.
"Jangan dibuka, aku takut," jawab Vlavia membuat Visko tersenyum.
Visko mendekat ke arah Vlavia. Lalu mengacak rambutnya pelan. "Jangan takut, tidak akan ada ******* yang masuk," jawab Visko lalu pergi untuk membukakan pintu.
Tetapi entah kenapa perasaan Vlavia tiba-tiba tidak enak. Vlavia merasa akan terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Semoga bukan orang jahat," gumam Vlavia lalu kembali untuk meneruskan masaknya.
Tidak berselang lama, Vlavia mendengar suara teriakan Visko dari arah pintu, tentu saja Vlavia terkejut dan takut buka main. Dengan segera dia mematikan kompor dan langsung berlari menuju ke depan dimana Visko berada.
Matanya terbelalak saat melihat tidak adanya Visko di sana. Vlavia semakin takut, hari sudah gelap dan hujan masih juga belum berhenti, air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja takut terjadi sesuatu dengan Visko.
"Kak Visko!" teriak Vlavia memanggil nama Visko.
"Kakak dimana!" teriak Vlavia lagi.
__ADS_1
Air matanya terus berjatuhan. Kali ini Vlavia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan Visko. Sampai akhirnya suara Visko yang datang dari arah sebelah Vila membuat mata Vlavia melotot sempurna.
Visko sudah basah kuyup dengan darah merah di tangannya. Vlavia langsung mendekat, memapah Visko untuk masuk kedalam.
"A-apa yang terjadi?" tanya Vlavia dengan nada suara gemetar.
Vlavia benar-benar takut melihat keadaan Visko saat ini.
"Tidak apa-apa," jawab Visko yang tentu saja berbohong.
Vlavia menggeleng, lalu segera mengambil kotak P3K yang terdapat tidak jauh dari ruang tamu Vila.
Dengan gemetar Vlavia mengobati luka yang ada di tangan Visko. Tetapi dia tidak berani bertanya lagi sebelum apa yang dilakukannya selesai. Yang terpenting saat ini ialah Visko segera terobati tangannya.
Setelah selesai melakukan pengobatan pertama pasa tangan Visko. Vlavia menatap Visko lekat, lalu segera memeluknya.
"Katakan Kak, apa yang terjadi?" tanya Vlavia dengan nada masih gemetar.
Vlavia benar-benar takut melihat keadaan Visko saat ini, dia tidak ingin hal buruk terjadi pada Visko.
Visko masih diam tidak menjawab. Dia bingung untuk mengatakan secara terus terang dengan Vlavia atau merahasiakannya. Tetapi karena jujur saja Visko tidak ingin Vlavia khawatir dan menambah beban pikiran untuk Vlavia.
"Apa ada orang misterius lagi?" tanya Vlavia membuat Visko seketika terdiam.
Visko ingat betul bagaimana tadi orang berjubah hitam langsung berusaha melukainya. Beruntung Visko bisa menghindar dan hanya mengenai tangannya, jika tidak mungkin saja Visko sudah terkena tusukan pisau tajam yang dibawa oleh orang berjubah hitam tersebut.
Tetapi sangat disayangkan. Ketika apa yang dilakukannya tidak tepat sasaran. Orang tersebut langsung kabur menjauh. Dan Visko tidak bisa mengejarnya karena larinya yang begitu cepat di bawa derasnya hujan.
"Kak, aku tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan Kak Visko," ucap Vlavia menatap Visko dengan lekat.
Visko tersenyum seraya mengangguk. Lalu mengecup kening Vlavia dengan lembut. "Gue nggak akan pernah ninggalin lo Vi, gue akan selalu di sisi lo," jawab Visko membuat Vlavia langsung kembali memeluknya.
Gue nggak pernah punya musuh? dan siapa pecundang di balik jubah hitam itu? Batin Visko penasaran dengan seseorang yang sudah berusaha mencelakainya.
__ADS_1