
Semakin Visko mendekat, semakin terasa jelas hembusan nafasnya menyapu kulit Vlavia dengan lembut.
Vlavia sudah memejamkan matanya, dia tahu kejadian apa selanjutnya di antara dirinya dan juga Kakak tirinya, biasanya Visko akan langsung memberi sentuhan pada bibirnya, tetapi kali ini berbeda, Visko tidak melakukan apa-apa, membiarkan Vlavia terus menutup matanya tanpa menyentuh bibirnya sama sekali.
Tangan Visko berusaha melepaskan baju Vlavia yang tercantol di kursi, setelah bisa terlepas, Visko mengacak rambut Vlavia pelan.
" Lo pengen kan?," Bisik Visko lagi seraya tersenyum tampan, lalu pergi meninggalkan Vlavia yang kini masih terdiam seraya berdiri di tempatnya.
Ucapan Visko barusan sukses membuat Vlavia malu, dengan pelan Vlavia membuka matanya, memang sudah tidak ada lagi Visko di dekatnya, bahkan aroma khas dari seorang Visko juga sudah tidak tercium lagi di indra penciumnya.
Astaga... Memalukan sekali kamu Vi Batin Vlavia seraya mengigit bibir bawahnya, tidak hanya itu Vlavia juga memukul pelan kepalanya karena tingkah konyolnya yang sudah membuatnya malu di hadapan Visko tadi.
" Bod*h, bod*h, bod*h, kenapa juga aku harus menutup mata," Gumam Vlavia merutuki kebod*hannya tadi yang sangat terlihat jelas jika Vlavia menginginkan Visko untuk melakukan seperti apa yang biasanya Visko lakukan kepadanya.
Jelas Vlavia malu, tetapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, tidak hanya sekali dua kali saja Vlavia kepergok seperti ini oleh Visko, ntah ini untuk yang ke berapa kalinya, dan sialnya Visko malah dengan sengaja menggodanya dengan membuat Vlavia merasa malu seperti sekarang ini kepada dirinya.
Mood Vlavia sudah berubah, yang tadinya ingin mencuci piring Vlavia urungkan dan langsung menuju ke kamarnya. Terlebih ini juga sudah cukup larut malam untuk melakulan itu, bisa dia kerjakan besok pagi saja, pikirnya.
" Besok aku harus bangun pagi sekali biar nggak ketemu Kak Visko." Gumamnya lagi sebelum masuk ke kamarnya.
Vlavia berniat untuk bangun pagi-pagi sekali untuk memasak, dia tidak mau sampai bertemu dengan Visko ketika sarapan pagi, rasanya tidak ada lagi wajah untuk menghadapi Visko yang selalu bisa memojokannya.
" Hufh... Tenang Vi, ini bukan masalah besar." Sambungnya lagi seraya membuka pintu kamarnya.
Vlavia masuk ke dalam kamarnya. Dan langsung membaringkan tubuhnya ke dalam ranjang. Tetapi lagi-lagi keberadaan Visko di kamarnya mengejutkannya, Visko malah dengan sengaja memeluk Vlavia setelah Vlavia sudah terbaring sempurna di ranjangnya, jelas apa yang di lakukan oleh Visko membuat Vlavia terkejut bukan main.
" Ka-Kak Visko." Ucap Vlavia dengan nada suara begitu terkejut.
__ADS_1
" Malam ini kita tidur bersama ya Vi?," Pinta Visko dengan nada suara terdengar sangat meminta.
Vlavia kembali di buat terkejut oleh perkataan Visko barusan, dia tidak mungkin membiarkan Visko tidur bersamanya meskipun mereka tanpa melakukan apa-apa, Vlavia tidak mau lagi sampai terlihat begitu menginginkan Visko di sisinya, sebisa mungkin Vlavua harus menolak apa yang Visko inginkan sekarang ini.
" Ti-tidak bisa Kak," Jawab Vlavia ragu.
Visko tidak melepaskan pelukannya, tetapi dia membalikan badan Vlavia agar menghadap ke arahnya, lalu menatap Vlavia dengan begitu lekat.
" Kenapa? Tidak ingin tahu kenapa Gue pulang terlambat, hmm?," Tanya Visko yang membuat Vlavia malah semakin gugup dan susah menelan salivanya.
Perkataan Visko seperti seorang suami yang sedang berbicara dengan istrinya saja.
" Lo penasaran bukan Gue dari mana tadi?," Sambung Visko lagi seraya menaikan satu alisnya.
Vlavia semakin di buat gugup oleh Viskp, dengan jarak di antara mereka sekarang yang begitu dekat, pesona Visko malah semakin membuat Vlavia tidak menentu, ini tidak di bisa lagi di biarkan, Vlavia harus membuat Visko secepat mungkin tidak terus menatapnya seperti sekarang ini.
Visko tersenyum, meskipun jawaban Vlavia kurang memuasakan, tetapi dia tahu karena Vlavia saat ini sedang merasa gugup.
" Sepupu Gue, ah sial, maksud Gue sepupu kita sudah sampai di indo, dan Gue tadi di suruh Bokap untuk jemput dia." Jelas Visko membuat Vlavia terdiam sebentar, sebelum akhirnya Vlavia teringat dengan nama seseorang yang hampir mirip dengan Visko, hanya berbeda satu huruf saja, Vlavia yakin hubungan mereka sangat dekat.
" Apa yang di maksud Kak Visko, Viska?," Tanya Vlavia membuat Visko kini menatap ke langit-langit kamar Vlavia.
Jujur saja ada rasa sesak di dada Vlavia ketika menyebutkan nama Viska, rasanya berbeda ketika dia tahu Marisa begitu mengidolakan Visko, sesak yang dia rasakan tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata, yang jelas Vlavia yakin hubungan di antara Visko dan Viska buka hanya sekedar saudara saja, mungkin bisa lebih mengingat nama mereka saja begitu mirip.
" Beberapa tahun terakhir ini, Gue bisa hidup dengan tenang dan damai tanpa adanya Viska, tapi sekarang dia datang lagi dengan keadaan yang masih sama seperti dulu," Jelas Visko membuat Vlavia menautkan alisnya bingung.
Vlavia menatap Visko dengan serius, ada sesuatu yang sangat menarik perhatiannya ketika Visko mengatakan bisa hidup dengan tenang tanpa adanya Viska.
__ADS_1
" Ma-maksud Kak Visko?," Tanya Vlavia ingin tahu apa maksud dari perkataan Visko barusan.
Visko kembali menatap Vlavia, lalu tersenyum sangat tampan ke arah Vlavia, membelai anak rambut yang menutupi wajah Vlavia.
" Lo percaya kan sama Gue Vi?," Tanya Visko membuat Vlavia semakin di buat bingung oleh pertanyaan Visko.
Vlavia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Visko dan Viska, tetapi sepertinya Visko belum ingin memberitahukan kepada Vlavia saat ini.
" Lo hanya perlu jawab iya Vi." Suruh Visko membuat Vlavia mengangguk, meskipun masih dengan rasa penasaran yang tinggi, juga bingung dengan pertanyaan Visko baru saja.
" Aku percaya Kak Visko, tetapi bisakah Kakak jelasin apa maksudnya?," Pinta Vlavia membuat Visko tersenyum seraya mengangguk.
" Dari kecil Gue sama Viska udah bersama, sampai akhirnya di kelulusan SMA kita, Viska nyatain cinta ke Gue, dari situ semua mulai berubah, Gue mulai jaga jarak sama dia, tetapi Viska anak yang keras kepala, dia tetap kekeh pengen Gue jadi pacar dia, karena tidak ada solusi akhirnya keluarga kita mutusin bawa dia ke luar negeri, berharap Viska bisa lupain Gue." Jelas Visko membuat Vlavia terdiam.
Vlavia seperti di sambar petir di malam hari, Viska yang sepupu asli Visko saja bisa menyukai Visko sampai segitu gilanya, apa lagi dirinya yang hanya saudara tiri, jelas di sini Vlavia merasa beruntung karena mereka di takdirkan hanya sebagai saudara tiri, tetapi Vlavia juga merasa sesak mengetahui ada seseorang yang menyukai Visko sebegitu hebatnya.
" Terus sekarang?," Tanya Vlavia mencoba untuk memberanikan diri, Vlavia ingin tahu bagaimana perasaan Viska sekarang terhadap Visko.
" Gue belum tahu pasti, tapi yang jelas di hati Gue sudah ada seseorang yang nempatin, dan ini untuk yang pertama kalinya juga untuk terakhir kalinya." Jelas Visko membuat Vlavia terkejut.
Rasa sesak di dada Vlavia semakin terasa, ungkapan Visko baru saja sangat menyakitkan hatinya, tidak tahukan Visko jika Vlavia begitu menyukainya? Kenapa harus tega mengatakan itu di depan Vlavia.
Sungguh Vlavia merasa menjadi gadis bod*h karena terus mau di perlakukan seenaknya oleh Visko, harusnya Vlavia menolak, tetapi selalu terasa sulit dia lakukan.
Cup...
Tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di bibir Vlavia, Visko mencium Vlavia dengan begitu lembut dan dalam, ingin rasanya Vlavia berontak, tetapi tubuhnya kaku, lidahnya juga kelu, yang dia bisa lakukan saat ini ialah merasakan setiap permainan yang Visko berikan pada bibirnya saat ini.
__ADS_1
Biarlah pikiran Vlavia terus memberontak apa yang Visko lakukan sekarang, nyatanya tubuhnya tidak bisa menolak, selalu bertolak dengan apa yang di inginkan olehnya.