
Vlavia melanjutkan memasak untuk makan malam mereka nanti. Sedangkan Visko masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya yang sudah basah karena air hujan.
Vila itu memang milik Visko. Bahkan Visko memiliki beberapa Vila di sekitar perkebunan teh itu. Tidak jauh dari Vilanya juga terdapat danau yang dijadikan tempat wisata. Visko berniat akan mengajak Vlavia untuk mengunjungi danau tersebut dilain hari ketika mereka berkunjung lagi. Jika sekarang waktunya belumlah pas. Masih banyak yang harus Visko selesaikan.
Visko kembali menghampiri Vlavia yang sudah selesai memasak. Vlavia sedang menata makanan di meja makan.
"Apa masih sakit?" tanya Vlavia melirik tangan Visko.
"Sakit," jawab Visko membuat Vlavia terdiam.
Vlavia mendekat ke arah Visko untuk melihat luka di tangannya. Vlavia benar-benar khawatir dengan Visko, kakak tirinya yang sudah mengambil hati Vlavia.
"Sakit kalau lo nggak ada di dekat gue," lanjut Visko membuat Vlavia seketika blushing.
Percayalah luka di tangan Visko tidak seberapa dengan luka dalam hatinya jika dirinya dan Vlavia sedang marahan. Hanya saja Visko masih penasaran dengan seseorang yang tiba-tiba menyerangnya.
"Ayo makan," ajak Vlavia tanpa menanggapi apa yang dikatakan oleh Visko tadi.
Vlavia malu, tetapi dia juga sangat bahagia setiap kali Visko berusaha menggodanya.
Mereka makan malam bersama dengan suasana sepi. Hanya ada suara dentingan sendok yang bersentuhan dengan piring. Keadaan kembali menjadi canggung. Padahal tadi Vlavia sudah masa bodoh dan tidak mempunyai malu lagi dengan Visko. Tetapi suara hujan dari luar sana membuat keduanya memilih diam dan kembali menjadikan suasana canggung.
"Bi-biar aku cuci Kak," ucap Vlavia terbata.
Vlavia berdiri dari duduknya. Dan mendekat ke arah duduk Visko. Tetapi disaat Vlavia ingin mengambil piring kotor yang digunakan oleh Visko tadi. Dengan cepat Visko menggenggam tangan Vlavia. Pandangan mereka saling bertemu untuk waktu yang cukup lama. Sampai Vlavia tidak ingat jika kini dirinya berada di gendongan Visko.
Visko sudah menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Vlavia dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Visko. Tetapi kegugupannya saat ini membuatnya tidak bisa untuk berontak.
Vlavia menurut saja dengan apa yang dilakukan Visko. Bahkan sampai kini Visko membaringka dirinya di ranjang kamar.
__ADS_1
Visko masih menatap Vlavia dengan tatapan yang begitu lekat. Vlavia bisa melihat wajah tampan Visko dari jarak yang begitu dekat. Rasanya membuat Vlavia susah untuk bernapas. Vlavia terlali gugup karena Visko.
Dengan penuh keberanian. Vlavia menggerakan bibirnya untuk berucap. "Ka-kak, a-aku mau mencuci piring," ucap Vlavia terbata.
Visko tersenyum. Menyelipkan anak rambut Vlavia ke telinga. "Tidak perlu Vi, sekarang masih hujan deras lo bakal kedinginan nanti kalau mainan air terus," jelas Visko membuat Vlavia menelan salivanya susah.
"Apa ta-tangan Kak Visko masih sakit?" tanya Vlavia untuk menghindar dari tatapan Visko sekarang.
Jujur saja Vlavia gugup Visko terus menatapnya seperti sekarang ini. Bahkan tatapan Visko tidak seperti biasanya.
"Tidak," jawab Visko singkat tetapi tatapan matanya masih menatap Vlavia dengan lekat. Tanpa beralih sedikitpun.
Visko semakin mendekat ke arah Vlavia. Meskipun Vlavia memundurkan wajahnya. Tetap saja Visko memajukan wajahnya lagi. Semakin dekat wajah mereka membuat Vlavia memejamkan matanya. Vlavia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dan...
Drrtt
Drt
Bunyi ponsel Vilo yang diletakan di nakas sebelah ranjang. Visko menggeram kesal dengan bunyi ponsel yang menganggunya kali ini. Sedangkan Vlavia tampak tersenyum canggung. Ada rasa lega tetapi juga malu mengingat dirinya yang sudah menutup mata siap untuk menerima serangam bibir Visko tadi.
Dengan masih kesal Visko mengangkat sambungan teleponnya. Ternyata Harry sahabatnya yang menelponnya. Dan mata Visko membelalak dengan sempurna ketika Harry mengatakan jika dirinya sudah berada di depan Vila tersebut.
Bagaimana bisa kedua sahabatnya tahu jika dirinya dan Vlavia sedang berada di Vila saat ini. Dan apa-apaan mereka datang disaat malam dan hujan deras seperti sekarang ini. Kedua sahabat Visko benar-benar mengganggu saja.
Setelah mematikan sambungan teleponnya. Visko menatap Vlavia yang sedang tersenyum kikuk. "Apa lo Vi yang kasih tahu mereka kita ada di sini?" tanya Visko membuat Vlavia semakin tersenyum kikuk.
"A-aku hanya memberitahu jika ada orang yang mencoba mencelakai Kakak, tetapi aku tidak memberitahu Kak Dendry ataupun Harry, aku memberitahu Serin dan Mila," jawab Vlavia dengan gugup. Dia takut Visko akan memarahinya.
Visko menatap Vlavia sedikit tajam. Lalu menghela napasnya dengan kasar. Visko kesal dengan Vlavia tetapi dia tidak bisa memarahi gadis cantik di depannya ini.
__ADS_1
Sial Visko benar-benar harus dibuat sabar dengan kedatangan Dendry dan Harry yang bisa saja menganggu semua rencana Visko untuk bisa berdua saja dengan Vlavia malam ini.
"Lo tunggu sini, gue mau ke depan," ucap Visko dengan nada suara sedikit kesal.
"Jangan Kak, aku takut terjad-" kalimat Vlavia terpotong karena Visko lebih dulu menjelaskannya.
"Dendry sama Harry udah di depan, gue mau bukain pintu mereka," jelas Visko membuat Vlavia mengangguk.
Visko berjalan ke depan untuk membukakan pintu kedua sahabatnya. Sedangkan Vlavia tersenyum lega dengan kedatangan sahabat Visko. Setidaknya mereka tidak hanya berdua saja di Vila tersebut. Vlavia takut akan ada orang yang mencoba untuk kembali melukai Visko lagi.
Visko melotot dengan sempurna setelah melihat orang yang berada di depan pintu. Bukan hanya kedua sahabatnya saja yang datang ke sana. Tetapi juga ada kedua teman Vlavia. serin dan juga Mila yang ikut mereka ke Vila. Astaga... Visko semakin dibuat kesal dengan tingkah orang-orang yang berada di depannya ini sekarang. Mereka tidak tahu malu dan menganggu saja. Pikir Visko dengan kesal.
"Lo nggak papa kan man?" tanya Harry merasa khawatir dengan keadaan Visko.
"Lo bisa lihat sendiri," jawab Visko malas.
Harry mengangguk dan tersenyum. Berati Visko tidak mengalami luka yang serius. Tetapi tetap saja mereka harua waspada dengan orang misterius itu. Bisa saja orang itu berniat jahat lagi, dan mereka yakin orang itu akan kembali menyerany Visko ataupun Vlavia.
"Kita nggak di suruh masuk?" tanya Harry lagi.
Sedangkan kedua teman Vlavia lebih memilih untuk diam. Mereka tidak enak jika banyak bertanya. Yang terpenting mereka bisa melihat Vlavia dan Visko baik-baik saja.
Visko tidak menjawab. Tetapi dia memberi ruang untuk teman-temannya masuk ke dalam Vila.
Harry langsung duduk di sofa. Begitu juga dengan Dendry dan kedua teman Vlavia. Sepanjang perjalana mereka tadi ke Vila terus diguyur hujan. Beruntung mereka semua memakai mobil.
"Emm.. Kak dimana Vi?" tanya Mila gugup dengan Visko.
Visko menunjuk kamarnya dengan dagunya. Mila dan Serin saling pandang lalu mengangguk. Itu berati Vlavia sedang berada di kamar. Dengan segera mereka menuju ke kamar untuk menemui Vlavia. Mereka takut Vlavia kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Keren nih kalau gue bawa cewek ke sini, suasananya mendukung banget," cletuk Harry yang langsung mendapat tatapan tajam dari Visko. Sedangkan Dendry hanya menggeleng seraya tersenyum miring. Dia tahu otak Harry tidak jauh dari nananina.