
Di meja makan semua tampak hening menikmati sarapannya. Sebelum akhirnya mereka selesai dengan sarapan juga Om Albert yang memulai percakapan serius dengan mereka.
" Visko." Panggil Om Albert membuat Visko menoleh ke arah Daddy nya tanpa menjawab.
" Kamu jangan sering-sering ke klub malam dan pulang dalam keadaan mabuk, rubahlah kebiasaan burukmu itu." Jelas Om Albert membuat Visko tersenyum miring tanpa menjawab.
" Setelah Vi nikah nanti, kamu juga harus segera mencari pendamping hidupmu jika tidak mau Daddy yang mencarinya untukmu." Sambung Om Albert lagi, kali ini membuat Visko tersenyum miring seraya mendesah kesal.
" Visko tidak ingin buru-buru soal pernikahan." Jawab Visko secara sarkas.
Deg...
Hati Vlavia bergemuruh, meskipun Visko yang mengatakannya, tetapi itu sama saja dengan jeritan hatinya yang sebenarnya tidak ingin buru-buru tentang pernikahan, terlebih lelaki yang menjadi calon suaminya ialah lelaki yang sama sekali tidak dia harapkan, jelas dari dalam lubuk hatinya Vlavia menolak meskipun tak terucap.
Om Albert memijat pelipisnya, dia sebenarnya sudah tahu dengan jawaban yang akan Visko berikan.
" Kamu jangan terus membantah Vis, bersikaplah dewasa sebagai calon pewaris perusahaan." Jelas Om Albert yang lagi-lagi hanya di tanggapi Visko dengan senyum meremehkannya.
Bukan Visko tidak mau, tetapi Visko memang malas berurusan dengan orang-orang kaya yang hanya mementingkan uang dari pada keluarganya. Jika dirinya terjun di dunia bisnis seperti Daddy nya, menurut Visko dirinya juga akan sama seperti Daddy nya yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada keluarganya.
" Soal itu akan aku pikirkan lagi nanti, jangan memaksa sesuatu yang tidak aku sukai." Jawab Visko lalu beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja menuju ke kamarnya.
Vlavia dan Mommy Selena saling pandang, mereka tidak memberi komentar tentang itu, karena memang itu masalah di antara Visko dan Om Albert.
Mommy Selena tidak mau sampai membuat Visko merasa tidak nyaman karena keberadaannya yang begitu ikut campur tentang kehidupannya, menghadapi lelaki seperti Visko memang harus dengan sabar dan cara perlahan.
" Dad biar Visko memilih jalan hidupnya sendiri, tolong jangan terlalu di memaksa." Ucap Mommy Selena seraya memegang bahu suaminya.
Om Albert menatap Mommy Selena dengan senyum seraya mengangguk.
" Aku telah gagal sebagai seorang Ayah." Jawab Om Albert seraya mengangguk.
" Tidak begitu sayang, Visko hanya butuh waktu untuk itu semua, percaya suatu saat nanti Visko akan mengerti kenapa kamu lakukan itu." Jelas Mommy Selena mencoba menenangkan suaminya.
Om Albert kembali tersenyum seraya mengangguk.
__ADS_1
" Terimakasih sayang." Jawab Om Albert seraya mengecup punggung tangan Mommy Selena.
" Vi, tolong kamu samperin Kakakmu ya, jangan sampai dia merasa keluarganya tidak ada yang perduli dengannya" Suruh Mommy Selena yang membuat Vlavia mengangguk dan pamit untuk menghampiri Visko.
Vlavia tahu jika banyak sekali masalah yang Visko hadapi, jika orang di luaran sana melihat seorang Visko yang begitu sempurna kehidupannya, mereka sangatlah salah, apa yang orang lain lihat tentang Visko hanya dari luarnya saja tanpa tahu kehidupannya yang sesungguhnya.
Vlavia mencoba membuka pintu kamar Visko yang tidak di kunci.
" Kak Visko." Panggil Vlavia seraya berjalan menyusuri ruangan kamar Visko.
Vlavia terus mencari keberadaan Visko yang tidak kunjung dia temui, sampai akhirnya matanya menangkap sosok lelaki tinggi yang sedang berdiri di balkon kamarnya seraya menatap lurus ke depan.
Bibirnya melengkung menampilkan senyum yang begitu samar, dia juga menghela nafasnya, lalu mencoba untuk menghampiri Kakak tirinya Visko.
" Udaranya sejuk di pagi hari." Ucap Vlavia mencoba memulai percakapan di antara mereka.
Visko menoleh sekilas ke arah Vlavia, lalu kembali menatap lurus ke depan.
" Udah lama Gue nggak nikmati suasana pagi seperti ini." Jawab Visko masih dengan tatapan lurus ke depan.
" Makanya Kak Visko sering-seringlah untuk pulang, jangan keseringan di Apartemen." Jawab Vlavia membuat Visko tersenyum miring.
" Jika Apartemen tempat ternyaman untuk Gue, Gue bisa apa?." Jawab Visko membuat Vlavia sedikit terkejut dengan jawaban Visko barusan.
Sampai segitu dalamnyakah luka yang Visko rasakan karena keluarganya? Bagaimana jika Visko mengetahui tentang rahasia besar yang sudah Om Albert sembunyikan darinya? Tanpa sengaja Vlavia pernah mendengar percakapan di antara Om Albert dan juga Mommy nya tentang masalah Mommy Jenika atau Ibunda Visko.
Vlavia tahu rahasia besar itu, tetapi dirinya berusaha untuk tidak mengingat dan juga menganggap jika apa yang pernah di dengarnya itu tidaklah benar adanya.
" Jika sekarang ada aku di sini, apa rumah ini masih belum menjadi tempat ternyaman untuk Kak Visko?." Tanya Vlavia yang ntah itu keberaniannya datang dari mana.
Visko menoleh ke arah Vlavia, menatap Vlavia yang juga sedang menatapnya.
Tanpa menunggu lama Visko sudah mendaratkan ciumannya di bibir Vlavia, bahkan bukan hanya memberinya sebuah kecupan saja, tetapi juga lum*tan yang sangat dalam untuk Vlavia.
Vlavia memejamkan matanya, menahan degupan di dalam dadanya, menikmati apa yang Visko berikan untuknya, pikirannya sadar jika dirinya telah salah berucap, tetapi ntah kenapa untuk membuat Visko tidak merasa sendiri lagi, Vlavia bisa dengan mudah mengatakan itu tadi. Meskipun niatnya bukan untuk membuat Visko melakukannya, tetapi untuk memberi semangat Visko, membuat Visko lebih dekat dengan keluarganya.
__ADS_1
" Lo nggak nganggep Gue sebagai Kakak Lo kan Vi?." Tanya Visko setelah melepaskan ciumannya.
Vlavia terdiam, dia bingung untuk menjawab.
" Apa Kak Visko menyukaiku?." Tanya Vlavia dengan penuh keberanian.
Visko terkejut dengan jawaban Vlavia, tetapi pertanyaan Vlavia tadi membuatnya kembali mendaratkan ciumannya di bibir Vlavia.
Vlavia mengepalkan tangannya kuat, merasa dirinya bodoh yang begitu dengan mudah di perlakukan seperti itu oleh Visko.
Meskipun tubuhnya begitu menikmati sentuhan bibir Visko.
" Cu..kup Kak emmm." Ucap Vlavia dengan suara yang tidak begitu jelas, karena mereka masih melakukan kissing.
Visko tidak menuruti apa yang Vlavia katakan, bahkan dirinya mencoba untuk membuka mulut Vlavia agar lebih mudah menjelajah.
Vlavia mencoba untuk membrontak dan mendorong Visko agar menjauh darinya, tetapi sia-sia karena tenaga Visko jauh lebih besar darinya.
Tangan Visko kini mulai berani menyentuh di area terlarang Vlavia bagian atas, sontak saja Vlavia terkejut dan kembali membrontak dengan sekuat tenaga.
" Ber-hen-ti Kak." Ucap Vlavia lagi dengan lirih.
Air matanya mengalir begitu saja mengingat jika mereka tidak boleh melakukan itu. Mereka sekarang ialah sebagai saudara.
Bagaimanapun perasaan mereka yang saling mengagumi atau bahkan saling menyukai satu sama lain, tetapi melakukan hal seperti itu ialah salah. Tidak seharusnya Kakak berAdik sampai berbuat hal selayaknya seperti orang pacaran.
Melihat air mata yang jatuh di pipi Vlavia, membuat Visko menghentikan aktifitasnya, Visko menatap Vlavia sebentar, lalu kembali bersandar di pagar balkon kamarnya seraya mengacak rambutnya.
" Sorry." Satu kata yang Visko ucapkan kepada Vlavia.
Vlavia tidak menjawab, dia masih belum bisa berfikir dengan jernih dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Sampai akhirnya keduanya menoleh ke asal suara di mana Mommy Selena memanggil Vlavia dari pintu Kamar Visko.
" Sayang, ada teman-temanmu di bawah." Ucap Mommy Selena yang membuat Vlavia dan Visko saling pandang dengan bingung.
__ADS_1