
Mereka masih saling bertatap mata, Visko menatap Vlavia begitu dalam, begitu juga sebaliknya dengan Vlavia yang menatap Visko begitu dalam, bahkan Vlavia sudah sangat gugup dan lemas.
Rasanya Vlavia ingin menjauh dari Visko, tapi tubuhnya sangatlah berat, tubuh Vlavia menolak untuk menjauh dari dekat Visko.
Sedangkan Visko semakin mendekatkan wajahnya, tatapannya lembut untuk Vlavia, tapi tetap saja Vlavia tidak bisa berfikir jernih, jantungnya terpompa cepat, hatinya berdebar kuat, ini untuk yang kesekian kalinya Vlavia di buat gugup seperti ini oleh Visko, bahkan dulu pernah meskipun Visko tidak melakukan apa-apa nyatanya Vlavia tetap saja merasa gugup meski hanya mendengar suara Visko atau menatapnya saja.
Vlavia memejamkan matanya karena Visko semakin mendekatkan wajahnya, dia tau kalau hal yang harusnya di hindari akan terulang lagi.
Cup
Visko mengecup lembut bibir Vlavia, Visko menatap wajah Vlavia dari jarak yang begitu dekat, Vlavia masih memejamkan matanya, dia belum berani untuk membuka matanya dam pingsan melihat wajah tampan Visko yanh baru saja mengecupnya.
Melihat Vlavia yang masih berdiam diri, Visko kembali mengecup Vlavia bahkan bukan hanya sekedar mengecupnya saja, tetapi juga Visko melum*t habis bibir Vlavia.
Rasanya beda, sangat berbeda ketika Visko mencium gadis lain, bibir Vlavia sangatlah manis untuk di nikmati, dan itu membuat candu untuk Visko.
Vlavia juga merasa terbang meski hanya sebuah lum*tan saja, tangannya mengepal keras agar dirinya masih dalam kesadaran.
Ting teng ting teng
Ponsel Visko berbunyi, pertanda ada panggilan masuk, tapi siapa yang menelfonnya di jam yang masih pagi begini.
Visko dan Vlavia sama-sama terkejut, bahkan dalam hati Visko mengumpat kesal dengan orang yang menghubunginya dan menganggu permainannya dengan Vlavia.
Dengan rasa yang masih kesal, Visko mengambil ponselnya, terlihat nama Harry yang tertera pada layar ponselnya.
Untuk apa si bastard Harry menelfonnya? Di jam segini lagi, pasti ada sesuatu yang penting pikir Visko.
Hallo
Sapa Visko lewat panggilan teleponnya.
Tut...tut...
" Brengs*k Harry, baj*ngan!!." Umpat Visko dengan kekesalan yang sudah meledak.
Visko begitu marah dengan Harry dia sudah menganggunya tadi, bahkan sekarang untuk memulainya lagi sangatlah canggung.
Visko menatap Vlavia yang masih berdiam diri karena terkejut dengan umpatan Visko barusan.
__ADS_1
" A-aku ke kamar Kak." Pamit Vlavia ragu dan begitu gugup.
" Hmm." Jawab Visko yang sudah bad mood gara-gara Harry.
Dengan segera Vlavia berlari kecil menuju kamarnya. Dia melupakan tujuannya untuk memasak sarapan mereka pagi ini, ah biarkan saja lagian mereka juga baru saja makan, nanti ketika akan berangkat kuliah mereka masih sama-sama merasa kenyang pikir Vlavia.
Setelah kepergian Vlavia, Visko mengumpat kesal, bahkan Visko menendang meja makan yang sebenarnya tidak salah apa-apa.
" Awas Lo Harry!!." Teriak Visko kesal dan berlalu menuju kamarnya.
Pukul 07.00, baik Vlavia maupun Visko masih berdiam diri di dalam kamarnya. Mereka masih berada di selimut tebal yang menutupi tubuh mereka ketika tidur. Ntah kenapa kedua Kakak beradik ini kompak pagi ini bangun telat dan mungkin akan bolos untuk berangkat ke kampusnya.
" Hoammmm." Vlavia menguap lalu meregangkan tangannya, tadi sesampainya di kamar Vlavia langsung tertidur agar tidak telat bangun dan terlambat ke kampusnya.
Tapi nyatanya apa yang dia takutkan benar-benar terjadi, bahkan Vlavia tidak mendengar bunyi ponselnya, sedari tadi Mang Dani terus menelfonnya, mau langsung masuk ke apartemen Visko. Takut di bilang tidak sopan, alhasil sopir setia Vlavia itu kini masih menunggu di depan pintu apartemen Visko.
Vlavia mengambil ponselnya, melirik jam yang sudah menunjukan pukul 07.00, mata cantik Vlavia melotot dengan sempurna, bagaimana bisa dia bangun kesiangan? M*mpus lah Vi pagi ini, semua gara-gara ciuman Visko yang membuatnya mengurungkan niat untuk tetap terjaga.
Dengan cepat Vlavia menuju kamar mandi. Bahkan ritual mandinya saja kurang dari 10 menit pokoknya pagi ini semua serba singkat.
Vlavia berganti baju, dan langsung menyambar tas yang sudah di sediakan buku-buku untuk materi hari ini. Beruntung tadi malam dia sudah menyiapkan semua buku-buku yang akan di gunakan olehnya.
Vlavia menghela nafasnya kesal.
" B*doh bod*h bod*h...!." Ucapnya kesal pada diri sendiri.
Mau secepat apapun Vlavia kalau Visko belum membuka pintu untuknya mana bisa dia keluar, alhasil Vlavia memberanikan diri menuju ke kamar Visko.
Hufh...
Vlavia menghela nafasnya untuk memberanikan diri dan menenangkan dirinya.
Tok...Tok...Tok....
" Kak, Kak Visko!." Teriak Vlavia dari depan pintu kamar Visko.
Tidak ada jawaban dari dalam membuat Vlavia harus lebih keras lagi untuk memanggil Visko.
Vlavia bersiap akan mengetuk kembali pintu kamar Visko. Baru saja jarinya hampir menempel di pintu, tapi pintu kamar Visko terbuka dan menampilkan sosok tinggi tampan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
__ADS_1
Visko hanya memakai celana boxernya saja, atasnya di biarkan tanpa tertutup sehelai benangpun, dan hal itu jelas membuat Vlavia terkejut, tapi bukannya langsung menutup mata Vlavia malah melotot nyaris sempurna.
Glek
Vlavia bersusah payah menelan air ludahnya, Vlavia menatap Visko sampai tidak berkedip, kenapa bisa Kakak tirinya setampan ini, sungguh membuat Vlavia sangatlah sengsara rasanya.
Daebak, Kak Visko bikin aku gila kalau seperti ini Batin Vlavia melihat Visko yang sedang menatapnya sembari menautkan alisnya.
" Ada apa?." Tanya Visko dengan gaya cool nya.
Tidak ada jawaban dari Vlavia, dia masih tidak bergeming dari tempatnya, bahkan pikiran Vlavia sangatlah liar saat ini, ntah dia sedang membayangkan apa tentang Visko dan dirinya. Tapi jelas ini bukan sifat asli Vlavia, semua berubah karena cowok tampan di depannya ini.
" Hei!." Tegur Visko setengah berteriak.
" Eh." Jawab Vlavia gugup.
" Ada apa?." Tanya Visko lagi.
" Emm... I-itu Kak, pintunya nggak bisa buka." Jawab Vlavia.
" Oh." Jawab Visko singkat yang membuat Vlavia tidak percaya dengan jawaban enteng Visko.
Sumpah kalau itu muka jelek, mau di bikin Vlavia lebih jelek lagi, tapi sayang wajah Visko sangatlah tampan, sangat di sayangkan kalau sampai terkena sayatan kuku Vlavia.
" A-aku minta tolong Kak Visko untuk bukain pintu." Jelas Vlavia agar Visko mengerti dengan maksudnya, dasar Visko sengaja sekali membuat Vlavia salah tingkah seperti sekarang ini.
" Ada syaratnya." Jawab Visko dengan senyum devilnya.
Vlavia terkejut, bagaiman bisa Visko menggunakan cara seperti ini untuk mengerjainya, Visko sengaja sekali membuat Vlavia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan persyaratan darinya.
" Ya udah kalau mau bolos kuliah." Ucap Visko melihat Vlavia yang masih diam tanpa menjawab.
Sejujurnya Visko tau jika Vlavia tidak bisa menolak syarat yang diajukan olehnya.
Vlavia sedang memikirkan cara untuk bisa keluar tanpa persyaratan dari Visko, Vlavia mengigit bibir bawahnya yang malah membuat Visko ingin sekali mengecupnya.
Sialan memang karena setatus mereka sekarang ini membuat Visko membatasi apa yang di lakukannya kepada Vlavia, padahal jauh dari lubuk hati Visko menginginkan hal yang berbeda dari hanya sekedar ciuman saja.
Hati Visko merasakan kasih sayang bukan sebagai adik, tetapi Vlavia wanita yang spesial untuknya, meski mereka kini masih sama-sama gengsi dengan apa yang mereka rasa.
__ADS_1