
Pukul 06.30 Vlavia terbangun dari tidurnya, tidak biasanya dia bangun sesiang ini, biasanya jam 7 juga dia sudah rapih dan siap untuk berangkat ke kampus.
Vlavia turun dari ranjangnya. Dia kembali tersadar jika sudah berada di apartemen Visko. Vlavia jadi teringat tadi malam ketika dirinya begitu bod*h yang menyangka jika Visko sudah menodainya, tapi setelah Vlavia mengecek apa yang Visko suruh, Vlavia baru tersadar dirinya masih aman, belum kehilangan kehormatannya.
" Ah... Kenapa aku bisa sebod*h itu?." Gumamnya pada diri sendiri.
Vlavia keluar dari kamarnya tanpa mencuci muka apa lagi mandi terlebih dahulu. Dia menyusuri apartemen Visko yang tidak kalah mewah dengan rumah Om Albert, hanya saja apartemen Visko luasnya memang tidak sebanding dengan luas rumah Om Albert.
Sampailah di di dapur yant tidak begitu luas. Tapi sangat mewah dan rapih, Vlavia membuka kulkas berniat untuk memasak sarapan untuknya dan Visko. Kebetulan isi kulkas Visko sangatlah banyak, sayuran, buah, telur, dan juga daging sudah tersedia, bahkan ada udang juga.
Vlavia berniat untuk membuat udang saus asam, sebelumnya dia membuat nasi terlebih dahulu, agar ketika masakannya selesai nasipun sudah matang dan siap untuk di makan.
Vlavia memamglah cukup mandiri, soal memasak dia tidak di ragukan lagi, meskipun tidak seenak di restoran bergengsi. Tapi rasanya cukup enak untuk masakan rumahan.
Setelah selesai dengan masaknya, Vlavia menatap piring juga makanannya di meja kecil dekat dapur. Dia berniat memanggil Visko untuk sarapan. Vlavia yakin di ruangan sebelah kamarnya ialah kamar Visko.
Vlavia mengetuk pintu kamar Visko berkali kali.
Tok... Tok... Tok....
" Kak, Kak Visko!." Panggil Vlavia setengah berteriak.
Ceklek.
Pintu kamar Visko terbuka. Menampilakn sosok lelaki tampan dan tinggi yang baru saja selesai mandi, Visko hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya, membuat Vlavia terkejut dan buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Rasanya malu melihat Visko yang bertelanjang dada seperti sekarang ini, meskipun tadi malam dia juga sempat melihat tubuh kekar Visko, tapi keadaannya beda dengan sekarang ini, tubuh Visko hanya di lilit oleh handuk saja dan itu sensasinya sangat luar biasa Vlavia rasakan. Vlavia tidak akan berani membuka tangannya apa lagi matanya saat ini.
" Ada apa?." Tanya Visko sembari menatap Vlavia heran.
" Kenapa di tutup mukanya?." Tanya Visko lagi.
__ADS_1
Vlavia tidak menjawab, dia terlalu gugup dengan keadaannya sekarang, bahkan untuk berucap saja rasanya lidahnya sangatlah kelu.
Visko mencoba untuk membuka tangan Vlavia yang menutupi wajahnya, tapi dengan sekuat tenaga Vlavia menolak, meski lemas rasanya karena apa yang baru saja di lihat olehnya, tapi Vlavia tidak boleh sampai melihat lagi, bisa-bisa pingsan dia di depan Visko, dan Visko akan menertawakan dirinya.
Karena jarak di antara mereka yang begitu dekat, membuat rambut basah Visko yang masih tersisa sedikit air menetes, tepat di kening Vlavia yang tidak tertutup oleh tangannya.
Tes...
Cairan yang dingin dan begitu menyejukan hampir mambuat Vlavia membuka kedua tangannya. Rasanya tiba-tiba semakin sesak di dadanya, astoge.. Jika sudah begini Vlavia harus segera kabur sebelum kejadian memalukan sepert tadi malam terulang lagi.
Dengan wajah yang masih di tutup Vlavia berlari ke kamarnya. Setelah sampai di kamar dia langsung menutup pintu dan menguncinya. Dia membuka matanya pelan, membayangkan apa yang baru saja di lihatnya. Tubuh atletis Visko yang hanya di lilit dengan handuk saja, bahkan dada bidang Visko masih terngiang di otaknya.
" Astaga... Aku sudah gila, belum sehari tinggal dengan Kak Visko sudah seperti ini." Gumamnya bermonolog sendiri.
Hufh... Vlavia menghela nafasnya, dia mencoba untuk menenangkan dirinya, sebelum akhirnya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Mungkin dengan di guyur air, otaknya akan kembali bersih, dan tidak lagi membayangkan dada bidang Visko yang masih saja memenuhi gambaran di otaknya.
Sedangkan Visko kini sedang berganti baju, dia tersenyum mengingat Vlavia yang terkejut melihat dirinya hanya menggunakan handuk saja.
" Harusnya Gue tadi nggak usah pakai handuk." Gumam Visko sembari tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya dengan ide gila yang baru saja muncul itu.
Di meja makan. Visko sudah bersiap untu ke kampusnya. Dia bahkan sudah menunggu Vlavia sekitar 5 menit untuk sarapan bersama, tapi belum ada tanda-tanda kemunculan gadis polos itu.
Dengan kesal Visko memutuskan untuk memanggil Vlavia di kamarnya.
" Vi...!." Teriak Visko dari depan pintu kamar Vlavia.
Vlavia tersentak kaget, dia sebenarya sudah siap, hanya saja takut dan malu berhadapan dengan Visko setelah kejadian tadi.
" Buka." Suruh Visko dengan nada memaksa.
Dengan pelan Vlavia membuka pintunya, dan munculah gadis cantik yang polos dan lugu itu dari balik pintu kamarnya. Vlavia menutup matanya, takut jika Visko akan semakin mengerjainya dan berdiri di depannya tanpa memakai baju sama sekali, membayangkan tubuh toples Visko membuat Vlavia menjerit.
__ADS_1
" Kyaaa...!." Teriak Vlavia membuat Visko menautkan alisnya bingung.
Baru berapa jam Vlavia tinggal di apartemen Visko. Nyatanya sudah membuat pikiran Vlavia begitu jauh.
Tak
Visko menyentil kening Vlavia, Valvia menyengir sakit, tapi dia belum juga membuka matanya.
" Buka mata Lo." Suruh Visko kesal karena sikap Vlavia yang ternyata lebih polos dari gadis desa.
" Buka atau aku cium." Kesal Visko, dan kali ini Vlavia membuka matanya, mendengar kata cium nyatanya membuat Vlavia kicep tidak lagi berani membantah dengan kata-kata Visko.
Vlavia bernafas lega, Visko berdiri di depannya dengan baju yang lengkap, bahkan Visko sudah sangat rapih, dan satu lagi, Visko sangatlah tampan, membuat Vlavia tanpa sadar tersenyum.
" Napa Lo senyum-senyum?." Tanya Visko membuat Vlavia sedikit terkejut.
" Ah... Tidak Kak." Jawab Vlavia mengelak.
" Aneh di cium menikmati, tapi hanya melihat dada tanpa baju saja menutup mata." Sindir Visko kepada Vlavia.
Glek...
Dengan susah payah Vlavia menelan ludahnya, sikap Visko akan kembali menyebalkan dan seenaknya, tapi masih mending, Vlavia masih beruntung karena Visko belum menyinggung masalah yang tadi malam.
Valvia berharap Visko akan lupa dengan kejadian tadi malam, meskipun itu mustahil, jika Visko mengungkitnya, Valvia berniat hanya akan berterimakasih karena Visko sudah menolongnya, selain itu dia tidak akan membahas karena itu merupakan hal yang sangat memalukan untuk dirinya.
" Ayo sarapan." Ajak Visko yang di angguki oleh Vlavia tanpa menjawab, Vlavia menurut, dia berjalan di belakang Visko.
Jantung dan hati Vlavia seakan bermasalah karena terus berdetak dan berdebar lebih cepat, ini untuk yang pertama kalinya mereka sarapan hanya berdua saja, Vlavia melirik Visko sekilas, astaga... Wajah Visko membuat Vlavia tanpa sadar menggigit bibirnya, seharusnya Vlavia tidak melakukan itu, jangan sampai Visko tau jika Vlavia meliriknya secara diam-diam.
Setelah selsesai sarapan, mereka masih duduk di kursinya masing-masing, dengan Visko yang sedang mengirim pesan singkat kepada seseorang, tidak ada komentar dari Visko tentang masakan Vlavia, ntah Vlavia tidak tau makanan yang dia buat cocok atau tidak dengan lidah Visko, tapi untuk apa dia perduli dengan itu semua? Toh... Mau di makan atau tidak yang terpenting dirinya tidak merasa kelaparan berada di apartemen Visko. Tentang Vlavia yang memasak untuk sarapan mereka pagi ini, itu sebagai tanda terimakasih secara tidak langsung kepada Visko, karena Visko sudah menolongnya tadi malam.
__ADS_1
Vlavia menaruh piring kotornya di dapur. Dia juga berniat untuk mencucinya sekalian. Saat Vlavia akan berbalik Visko sudah berada di belakangnya, membuat Vlavia tersentak kaget, buru-buru Vlavia menunduk karena tidak mau sampai tergoda dengan pesona Visko, tapi tangan Visko memegang dagu Vlavia untuk menatapnya, membuat Vlavia seketika blushing dan gugup di buatnya.