
Visko masuk kedalam mobilnya. Tidak lama Dendry sudah terlihat menyusulnya. Dengan cepat dia duduk di sebelah Visko. Menatap Visko sebentar lalu menyuruh Visko untuk melajukan mobilnya.
Visko menatap Dendry sekilas. Tanpa menjawab dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bahkan sampai membuat Dendry tadi sempat terkejut sebelum akhirnya Dendry paham jika Visko sedang ada masalah lain selain video yang tersebar itu.
"Kita nggak lagi balap man, santai aja bawa mobilnya," ucap Dendry mengingatkan Visko.
Visko tidak merespont. Dia masih membawa mobil seperti orang yang sedang keset*nan. Pikirannya saat ini kacau. Visko tidaklah bisa terus seperti ini dengan Vlavia. Tetapi dia memang tidak bisa menerima Mommy Selena sebagai orang tuanya. Entah kenapa ada perasaan yang mengganjal pada hati Visko tentang itu.
"Ada masalah apa lo?" tanya Dendry mencoba memancing Visko agar bercerita.
"Ambilkan minuman gue," jawab Visko yang malah menyuruh Dendry untuk mengambilkan minumannya.
Tanpa menjawab Dendry meraih minuman yang di tarus di belakang kursi mereka. Setelah dibuka olehnya. Dia serahkan kepada Visko yang sedang menyetir.
"Lo kalau mau minum biar gue yang pegang setir deh," ucap Dendry yang memang belum siap untuk meninggalkan dunia ini. Ya kali Dendry harus mati sia-sia karena kekonyolan Visko. Dendry sendiri belum menikah. Jangankan menikah tidur dengan gadis saja belum sebanyak Harry si manusia paling bast*rd.
Tanpa menjawab apa yang Dendry katakan. Visko langsung meneguk minuman itu sekali habis. Tetapi tidak membuatnya langsung mabuk.
Sssttt
Mobil Visko berhenti, Dendry menautkan kedua alisnya bingung. "Ada ap?" tanya Dendry masih dengan rasa bingungnya.
"Ada yang ketinggalan," jawab Visko seraya memitar mobilnya berlawana arah.
Dendry menatap Visko tidak percaya. Menurutnya Visko sekarang benar-benar sudah gila. Atau Visko sudah mulai terpengaruh dengan alkohol yang diminumnya tadi.
Mobil tetap melaju dengan kecepatan cepat. Dendry tidak lagi bertanya karena dia tahu Visko sedang dalam keadaan kacau. Dari pada ucapannya nanti membuat Visko bisa saja bertindak hal yang tidak diinginkan. Untuk saat ini Dendry memilih untuk diam dan berdoa semoga tidak terjadi sesuatu hal yang membuat dirinya dan Visko celaka. Mengingat Visko mengemudi seperti pembalap yang sedang keset*nan.
__ADS_1
Mata Dendry menyipit saat mobil mereka berhenti di depan kampus. Astaga ternyata Visko kembali ke kampus? Lalu untuk apa tadi dia melajukan mobilnya tanpa tentu arah? Tidak mungkin bukan jika Visko melakukan itu hanya untuk menghabiskan sebotol wine.
Visko tampak mengambil ponselnya. Lalu menelpon seseorang yang Dendry kira ialah adik tirinya. Terdengar suara Visko yang menyentaknya lewat panggilan telepon dan menyuruhnya untuk cepat menemuinya di mobil.
Tidak lama gadis yang menjadi tebakan dipikiran Dendry muncul. Wajahnya tampak tidak seperti biasanya. Begitu juga dengan Visko yang menatap gadis itu dengan tajam.
"Turun Dend," suruh Visko membuat Dendry ternganga.
"Lo mau ngap-" kalimat Dendry terpotong karena Visko.
"Gue bilang turun sekarang!" sentak Visko membuat Dendry akhirnya menurut.
Sebelum benar-benar keluar dari mobil Visko. Dendry sempat menatap ke arah Visko. "Kalau ada masalah datang ke gue sama Harry jangan kayak gini," ucap Dendry lalu turun.
Visko tidak membalas. Pikirannya masih kacau. Dan dia harus selesaikan segera mungkin dengan Vlavia.
"Tolong jagain Visko ya? dia lagi dalam keadaan tidak baik-baik aja," pinta Dendry yang dijawab Vlavia dengan anggukan kepalanya.
Vlavia masuk kedalam mobil Visko dengan ragu. Tetapi dia tetap masuk kedalam tanpa berkata sepatah katapun. Setelah Vlavia duduk. Visko langsung menjalankan mobilnya lagi. Kali ini tidak secepat tadi ketika bersama dengan Dendry.
Vlavia melirik Visko sekilas. Terlihat jika Visko fokus dengan jalanan di depannya. Vlavia lebih memilih untuk diam dan melihat pemandangan jalanan dari kaca mobil.
"Apa lo udah mendapat jawaban dari nyokap lo?" tanya Visko membuat Vlavia akhirnya menoleh ke arahnya.
Vlavia menggelengkan kepalanya. "Be-belum Kak," jawab Vlavia terbata.
Visko tersenyum miring. Dia tahu Vlavia tidak akan mungkin berani menanyakan langsung dengan Mommy nya.
__ADS_1
Sudah hampir 2 jaman perjalanan mereka yang Vlavia yakini Visko tidak ada tujuan. Bahkan tidak ada obrolan diantara keduanya kecuali pertanyaan Visko yang tadi. Vlavia lebih memilih untuk diam, bahkan memainkan ponselnya saja dia tidaklah berani untuk saat ini.
Sampai akhirnya mobil Visko berhenti di sebuah perkebunan teh yang sangat luas. Vlavia sendiri tidak tahu itu di daerah mana. Karena masih sangat asing baginya. Vlavia bukanlah gadis yang sering keluar hanya untuk sekedar menikmati keindahan alam di sekitarnya.
"Turun," ucap Visko membuat Vlavia menurut.
Vlavia turun dari mobil Visko. Begitu juga dengan Visko yang juga turun dari mobilnya. Udara di sekitar sangatlah sejuk. Sampai membuat Vlavia yang hanya memakai baju untuk kuliah tanpa membaw jaket merasa kedinginan.
Visko melangkahkan kakinya. Diikuti Vlavia dari belakang. Sungguh pemandangan di sekitar sangatlah indah. Jika saja Vlavia memakai baju yang pas digunakan di daerah yang berhawa dingin. Jelas Vlavia akan melihat-lihat ke sekeliling. Tetapi karena Vlavia hanya memakai baju seadanya yang sedang dia gunakan. Jadi Vlavia lebih memilih untuk mengikuti Visko menunu ke sebuah bangunan. Yang Vlavia lihat mirip seperti Vila. Atau itu memang Vila.
"Mang berikan kuncinya," ucap Visko kepada Bapak paruh baya yang sedang menyapu halaman di sekitat Vila tersebut.
"Lho Den Visko. Datang ke sini kenapa tidak bilang?" tanya Bapak paruh baya itu kepada Visko.
Vlavia bernapas lega. Rupanya Visko mengenal Bapak paruh baya yang bertugas untuk membersihkan Vila tersebut.
"Dadakan mang," jawab Visko membuat Bapak itu mengangguk.
Setelah mendapat kunci yang diinginkannya. Visko pamit untuk masuk kedalam. Bapak itu terlihat ramah. Bahkan dia juga tersenyum dan sempat menyapa Vlavia tadi.
"Lo mau nunggu gue di luar aja?" tanya Visko melihat Vlavia yang masih berdiam diri di depan pintu masuk.
Vlavia menggeleng. Dengan cepat dia ikut masuk kedalam Vila tersebut. Vlavia sendiri merasa dingin jika terus berada diluar. Mungkin berada di dalam bisa sedikit menghilangkan rasa dinginnya.
Vlavia duduk di sofa ruang tamu Vila tersebut. Sedangkan Visko menuju ke dalam yang entah Vlavia sendiri masih kurang tahu. Tidak lama Visko datang membawakan teh beserta baju hangat untuk dikenakan oleh Vlavia.
"Pakai," ucap Visko membuat Vlavia menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Vlavia mengambil baju hangat yang Visko berikan. Lumayan sangat membantunya untuk menghilangkan rasa dinginnya. Setelah itu dia juga mengambil teh panas yang sudah disediakan oleh Visko.
Sampai akhirnya mata Vlavia menatap Visko terlebih dahulu sebelum meneguk teh panas tersebut.