
Kau terlihat tapi untuk memulai obrolan saja rasanya sangat sulit untuku. Itulah yang saat ini Vlavia rasakan. Sudah sekitar 5 menitan mereka masih berdiam diri di sofa ruang tamu Vila.
Visko lebih memilih untuk menatap lurua ke depan. Sedangkan Vlavia memegang cangkir yang berisi teh panas untuk menghangatkannya.
Vlavia melirik Visko yang masih berdiam tanpa ekspresi di wajahnya. Jujur saja melihat keadaan Visko saat ini membuatnya ikut merasa sakit. Vlavia tahu jika Visko sakit karena tidak pernah mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sejak kejadian kecelakaan yang mengakibatkan Ibunya meninggal. Tetapi Vlavia juga kecewa setiap kali mengingat Visko yang dengan sengaja ingin memisahkan Mommy dan Om Albert.
Bayang-bayang tentang isi di kotak yang pernah dikirimkan oleh orang misterius itu terus menganggu di pikiran Vlavia. Dan membuat Vlavia merasa kecewa yang luar biasa dengan Visko. Lelaki tampan yang sudah menjadi saudaranya sekarang. Tetapi juga memiliki hatinya. Bahkan sepenuhnya hati Vlavia penuh untuk Visko.
Dengan susah payah Vlavia menelan salivanya. "Apa ada yang ingin Kak Visko katakan lagi?" tanya Vlavia mencoba setenang mungkin. Meskipun degupan jantungnya tidak bisa berbohong soal itu.
Visko melirik Vlavia sekilas. Lalu menghela napasnya dnegan dalam. "Apa lo baik-baik aja dengan hubungan kita sekarang ini?" tanya Visko yang malah berbalik bertanya kepada Vlavia. Tanpa menjawab apa yang tadi Vlavia tanyakan dengannya.
Vlavia menaruh cangkir teh yang tadi sedang dibawa olehnya. Lalu menghela napasnya dengan begitu dalam. Sebenarnya dadanya sakit jika terus seperti ini dengan Visko. Tetapi dia bisa apa jika kenyataannya Visko masih belum menerima Mommy nya.
"A-aku jelas tidak baik-baik aja Kak, aku sayang Kak Visko tetapi aku juga kecewa," jawab Vlavia dengan memberanikan diri.
Visko tersenyum pahit. Dia sudah tahu jawaban Vlavia akan seperti itu. Tetapi jujur dia sudah tidak tahan terus marahan dengan gadis di sampingnya ini.
"Apa lo mau tau sesuatu?" tanya Visko membuat Vlavia menatap Visko nanar.
Vlavia tidak tahu apa yang akan Visko beritahu kepadanya. Tetapi akhirnya dia mengangguk dari pada membuat banyak pertanyaan pada pikirannya.
"Lo bisa cek itu, dan lo akan tahu jawabannya," ucap Visko seraya menyerahkan sebuah ponsel genggam yang Vlavia yakini ponsel jaman dulu.
Dilihat dari bentuknya sudah sangat terlihat. Jika ponsel itu keluaran beberapa tahun yang lalu. Bahkan lebih dari 10 tahun yang lalu.
Vlavia mulai mengotak-atik ponsel yang tadi diserahkan oleh Visko. Matanya menyipit saat melihat nama dari orang yang mengirim pesan.
__ADS_1
Apa ini pesan dari Mommy, lalu ini ponsel siapa? Batin Vlavia penasaran.
Vlavia mulai membuka percakapan dari isi pesan tersebut. Hatinya berdebar begitu kuat, matanya memanas saat melihat beberapa pesan mesra yang Mommy nya kirimkan untuk Om Albert. Dan apa ini? Mereka sudah merencanakan pernikahan sedari dulu?
Air matanya lolos begitu saja menyadari apa yang Visko katakan ternyata benar. Mommy nya dan Om Albert sudah saling kenal sejak dulu. Lalu apakah Mommy Selena bisa dikatakan sebagai perebut suami orang? bukankah mereka menikah baru saja beberapa bulan yang lalu?
Vlavia menggeleng. Tidak percaya denyan kenyataan yang baru saja diketahui olehnya.
"Tidak mungkin Kak, aku yakin ino bukan nomor yanh mereka gunakan dulu," ucap Vlavia dengan nada suara gemetar.
Visko tersenyum miring. "Itu ponsel Bokap gue jaman dulu, bahkan ketika Bokap baru balik dari Amrik," jelas Visko membuat Vlavia masih menggeleng pelan.
Air matanya kembali menetes, sesakit inikah jika orang yang disayanginya membohonginya? atau katakanlah Mommy Selena tidak berterus terang dengan Vlavia.
"Gue lebih sakit dari lo Vi, gue nggak tahu apa penyebab kematian nyokap gue sebenarnya," ucap Visko membuat Vlavia menatap ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.
Jujur saja Visko tidak tega melihat Vlavia menangis saat ini di hadapannya. Tetapi Visko sendiri tidak yakin jika kecelakaan itu yang membuat Mommy nya tiada. Bahkan ada rasa yang mengganjal dalam hatinya setiap kali mengingat kematian Mommy nya.
"Gue nggak berpikir seperti itu, gue hanya bilang kematian nyokap gue masih belum terungkap, kalau benar karena kecelakaan kenapa sampai sekarang jasad nyokap gue masih juga belum ditemukan? gue tahu itu kejadian dulu! tapi gue nggak yakin sebelum jasad nyokap gue ditemukan Vi!" jelas Visko dengan nada suara yang sudah bergetar.
"Lo nggak pernah tahu, setelah kecelakaan itu bokap gue selalu sibuk yang entah gue nggak tahu dia melakuakan apa dan dengan siapa, bahkan meskipun jasad nyokap gue belum ditemukan bokap sama sekali nggak ada niatan buat nyari! gue benci itu Vi! gue nggak terima!" kesal Visko. Lalu berdiri dari duduknya.
Dan sebuah pukulan di tembok dari kepalan tangan Visko membuat tangannya kini berlumur darah. Vlavia menangis. Dia tidak tahu kenapa semua begitu rumit seperti ini, Vlavia kecewa dengan Visko. Tetapi dia juga tidak pernah mengerti kesediham Visko selama ini.
Entah dorongan dari mana Vlavia mendekat ke arah Visko. Memeluk Visko yang sedang kacau dengan kebenaran dan semua teka-teki kematian Ibunya.
"Ma-maaf Kak, aku tidak ada maksud untuk itu," ucap Vlavia masih dengan memeluk tubuh Visko.
__ADS_1
"Nggak ada yang sayang dan peduli sama gue Vi, bahkan bokap gue sendiri," jawab Visko dengan nada suara begitu menyedihkan.
Visko tidak menangis karena dia begitu kuat. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, luka lama Visko kembali ternganga, dia masih ingin tahu apa penyebab kematian Ibunya.
"Gue sayang Kak Visko, gue akan selalu di samping Kak Visko," ucap Vlavia lagi membuat Visko menatap ke arahnya.
Visko menatap Vlavia lekat, tangannya menangkup wajah cantik Vlavia yang juga terlihat kacau sama seperti dirinya saat ini.
"Apa lo berjanji untuk bantuin gue?" tanya Visko membuat Vlavia terdiam sejenak.
Jika dia membantu Visko itu artinya sama saja dia mencurigai Mommy nya sendiri dan Ayah tirinya Om Albert. Tetapi untuk mendapat semua jawaban ini Vlavia memamg harus membantu Visko. Setidaknya Vlavia berada di samping Visko untuk membuat Visko semangat dan tidak lagi merasa sendiri karena tidak ada yang peduli dengannya.
Dengan pelan Vlavia mengangguk. "Iya, aku akan bantu Kakak," jawab Vlavia membuat Visko tersenyum.
"Lo nggak harus percaya sama ucapan gue yang belum pasti, lo bisa lihat sendiri nanti," jelas Visko lalu memeluk Vlavia dengan erat.
Setidaknya Vlavia mau membantunya. Visko sendiri tidak begitu berharap untuk Vlavia percaya dengan dirinya saat ini. Biarkan bukti nanti yang akan menjawab semua kebenarannya.
"A-aku tidak mau Kak Visko seperti tadi," ucap Vlavia membuat Visko melepaskan pelukannya.
Visko mengangkat sebelah alisnya. "Seperti tadi?" tanya Visko membuat Vlavia mengangguk.
"Jangan minum di saat sedang menyetir Kak, itu sangat bahaya," jawab Vlavia membuat Visko tertawa.
Rupanya Vlavia si adik polosnya bisa menebak apa yang tadi dia lakukan. Sudah ada peningkatan menurut Visko dari gadis polosnya. Visko dengan segera mendekatkan bibirnya ke arah bibir Vlavia. Rasanya sudah cukup lama dia tidak merasakan bibir manis Vlavia yang selalu membuat candu untuknya.
Bahkan meskipun mereka tadi sempat bertengkar hebat. Nyatanya mereka kini bisa bersatu kembali. Kekuatan cinta Vlavia membuat dirinya mengalah dari ego. Vlavia tidak akan bisa melihat Visko tersakiti apa lagi karena dirinya.
__ADS_1