My Naughty Brother

My Naughty Brother
Parno


__ADS_3

Seperti janjinya tadi pagi, Vlavia kali ini belum keluar dari kelasnya. Dia berniat untuk menunggu Kristan di dalam kelas saja. Vlavia merasa tidak nyaman jika menunggu Kristan di tempat parkir.


Bahkan tadi Vlavia juga sudah menyuruh Mang Dani untuk tidak menjemputnya, awalnya Mang Dani menolak karena takut dengan Om Albert, sebagai sopir pribadi Vlavia, dia memang sudah di tugaskan untuk mengantar Vlavia kemanapun, tapi setelah Vlavia menjelaskan akhirnya Mang Dani mengiyakan permintaan Vlavia.


" Serius Lo mau nunggu Kristan di sini?." Tanya Serin yang di angguki oleh Vlavia.


" Lo mau kencan ya ma Kristan?." Ledek Mila membuat Vlavia menggeleng sembari tersenyum.


" Kita cuma jalan saja, mana mungkin kencan kita kan cuma berteman." Jawab Vlavia membuat kedua temannya itu tersenyum.


" Sekarang memang masih teman Vi, tapi besok bisa saja setatus kalian udah berubah jadi pacar." Ledek Mila lagi-lagi seraya menyiku lengan Vlavia.


" Mila jangan begitu, aku tidak ada perasaan sama Kak Kristan." Ucap Vlavia jujur.


Memang benar dia tidak ada perasaan lebih untuk Kristan selain berteman, apa yang Vlavia katakan memanglah benar adanya, karena yang mampu menggetarkan hatinya malah Visko, Kakak Vlavia sekarang.


" Ya udah Lo hati-hati ya, kita pulang dulu, kalau ada apa-apa hubungi kita langsung oke?." Ucap Serin yang langsung di angguki Vlavia dengan senyum manisnya.


" Lo tuh cantik tau Vi, tapi pemalu." Ucap Mila sembari menarik pipi Vlavia dengan gemas.


Vlavia hanya tersenyum sembari menggembungkan pipinya, tidak marah tapi juga sedikit kesal dengan perlakuan Mila.


" Jangan mulai deh, ayo kita pulang." Ajak Serin yang di angguki oleh Mila.


" Duluan ya Vi kita." Pamit mereka seraya keluar dari dalam kelas.


" Hati-hati!!." Teriak Vlavia yang di acungi jempol oleh kedua temannya.


Setelah kepergian kedua temannya itu, Vlavia kembali mengambil ponselnya untuk bermain game, dia pikir dari pada lama menunggu Kristan lebih baik memainkan game yang berada di ponselnya, itu akan mempercepat waktunya, pikir Vlavia.


Keadaan kelas sudah sangat sepi. Tinggal dirinya saja memang yang masih duduk anteng dengan ponselnya, Vlavia menoleh ke arah pintu kelasnya tetapi belum ada tanda-tanda kemunculan Kristan menghampiririnya.

__ADS_1


" Jadi nggak sih Kak Kristan?." Gumam Vlavia merasa sudah bosan menunggui Kristan yang terasa sangat lama.


Tap... Tap... Tap....


Terdengar suara langkah kaki seseorang, Vlavia mengira jika itu Kristan yang datang, dia menaruh ponselnya ke dalam tasnya lagi.


Suara langkah kaki itu berhenti, membuat Vlavia menautkan alisnya bingung, untuk apa coba kalau Kristan harus menghentikan langkahnya sedangkan dia sudah membuat Vlavia menunggu begitu lama.


Hufh...


Vlavia menghela nafasnya pelan, suasana kampus yang sepi membuatnya sedikit takut. Tidak lucu bukan kalau tiba-tiba ada mahluk tak kasat mata yang mencoba mengganggunya.


Vlavia kini mulai merasa takut dan tegang, dia takut jika apa yang dia pikirkan benar terjadi, dengan perasaan yang masih takut, Vlavia menoleh ke arah samping kanan dan kirinya, lalu dia berdiri dan lari keluar dari kelasnya.


Saking takut dan cepatnya Vlavia sampai menabrak seseorang yang sedang berdiri tepat di depan kelasnya.


Bruk...


" Vi... Bangun Vi...." Ucap Kristan mencoba membangunkan Vlavia.


Tapi tetap saja Vlavia tidak bergeming, dia baru saja pingsan dalam keadaan takut, mana mungkin semudah itu untuk membangunkannya lagi.


Dengan segera Kristan mengangkat tubuh Vlavia dan berjalan untuk membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Sedangkan Visko yang melihat kejadian itu sedikit memanas, lagi-lagi Visko mengepalkan tangannya kuat, tadinya dia ingin menemui Vlavia dan mengajaknya untuk pulang saja, tapi dari kejahuan Visko melihat Kristan yang berjalan ke arahnya, membuat Visko akhirnya bersembunyi dan mengurungkan niatnya.


" Brengs*k!!." Kesal Visko menendang pintu kelas Vlavia.


Visko berjalan menuju parkiran. Mobil Kristan sudah tidak terlihat, mungkin Kristan sudah melajukan mobilnya dan membawa Vlavia ke rumah atau malah ke hotel. Pikir Visko.


" Apa ke hotel? Tidak bisa di biarkan." Gumam Visko masuk ke dalam mobil mewahnya dan langsung menancapkan gasnya.

__ADS_1


Tentu saja itu semua hanya pikiran aneh Visko, sangat tidak mungkin seorang Kristan membawa Vlavia ke hotel. Tapi siapa yang tau coba kalau Kristan tiba-tiba khilaf menatap Vlavia yang sedang terkapar karena pingsan.


Memikirkah hal itu malah membuat Visko jadi seperti orang gila sendiri.


Ponselnya sedari tadi terus berbunyi, tapi tidak dia hiraukan sama sekali, Harry dan Dendry secara bergantian menghubungi Visko. Mereka sekarang sudah berada di dalam apartemen Visko. Benar kan apa yang Visko takutkan, jika kedua sahabat bej*dnya itu tidak mungkin menuruti dirinya untuk tidak ke apartemen dulu.


Dendry dan Harry begitu tekejut melihat banyak pakain wanita di dalam lemari kamar sebelah. Banyak juga barang-barang milik wanita, kamar yang biasanya kosong itu kini seperti di huni. Bahkan masih tercium bau parfum yang Vlavia gunakan tadi pagi. membuat tanda tanya besar dalam otak mereka.


Beruntung Vlavia tidak memajang foto dirinya sama sekali di kamar apartemen Visko yang dia tempati itu. Jadi semua tidak akan serumit yang Visko takutkan.


Visko terus berfikir yang tidak-tidak tentang Vlavia dan Kristan, dia tidak mau sampai Kristan menyentuh Vlavianya, cukup hanya sekedar pelukan saja, tapi bibir Vlavia tidak boleh sampai di sentuh oleh lelaki manapun.


" Ah... Sial, kemana Kristan bawa Vlavia pergi?." Gumam Visko memukul setir mobilnya.


Visko sudah sangat frustasi memikirkan hal gila yang akan di perbuat oleh Kristan. Seakan dewi fortuna sedang mengerti kegundahannya, ponselnya tiba-tiba berdering kembali, kali ini menampilkan nama Mom Selena yang tertera pada layar ponselnya.


Dengan segera Visko mengangkat telepon dari Ibu tirinya itu. Mommy Selena mengatakn jika Vlavia pingsan dan kini pulang ke rumah dengan di antarkan temannya.


Visko yakin yang Mommy Selena maksud teman Vlavia ialah si Kristan. Setelah memutuskan sambungan teleponnya, dengan kecepatan tinggi Visko melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.


Sampailah mobilnya di depan rumah megah dengan nuansa putih tulang itu. Visko masuk ke dalam rumah. Berpapasan dengan Kristan yang akan pamit untuk pulang.


Visko hanya melirik Kristan sekilas, tapi sangat tajam, lalu dia menuju ke atas tanpa mengucapkan apa-apa dengan Kristan dan juga Mommy Selena yang masih berdiri di tempatnya.


Jujur saja Mommy Selena sedikit merasa tidak enak dengan Kristan, bukan karena dirinya yang tidak di sapa oleh Visko, tapi karena Visko yang menatap Kristan begitu tajam tadi, meskipun hanya sekilas tapi Mommy Selena cukup tau, jika Visko tidak suka dengan Kristan, atau sebenarnya di antara mereka ada sesuatu yang di sembunyikan.


Visko masuk ke kamar Vlavia tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Visko mengira jika Vlavia masih berbaring karena pingsan. Tapi betapa terkejutnya Visko melihat Vlavia yang sedang berganti baju dengan membiarkan pintu kamarnya tanpa di kunci.


Bod*h, Vlavia sangatlah bod*h membiarkan siapapun bisa masuk ke dalam kamarnya dan melihat tubuh indahnya seperti apa yang saat ini sedang Visko lihat.


" Shit." Umpat Visko bersusah payah menelan air ludahnya.

__ADS_1


__ADS_2