
Semua mahasiswa atau pun mahasiswi yang berada di kelas menatap Vlavia dengan tidak percaya. Bahkan diantara mereka mulai saling berbisik seraya melihat Vlavia dengan tatapan berbeda.
Serin dan Mila mendekat kearah Vlavia. Lalu memeluk Vlavia dengan erat "Harusnya tamparannya Gue tambahin tadi." Ucap Serin merasa kurang memberi pelajaran untuk Marisa.
"Bentar, memangnya ada apa sih di grup chat?" tanya Mila yang membuat Serin mengangkat kedua bahunya.
Mila membuka grup yang berisi beberapa mahasiswa dan mahasiswi. Matanya terbelalak kala melihat isi video tersebut.
"In-ini Lo Vi?" tanya Mila seraya menatap Vlavia tidak percaya.
Dapat Mila lihat dengan jelas jika gadis yang sedang berciuman dengan seorang laki-laki itu ialah Vlavia. Tinggi badan dan bajunya sama persis seperti apa yang Vlavia kenakan hari ini.
"Marisa buat ulah apa sih Mil?" tanya Serin membuat Mila buru-buru memberikan ponselnya kepada Serin.
Kini tatapan Mila juga berbeda kepada Vlavia. Ada hal aneh yang Mila rasakan. Gadis seperti Vlavia ternyata bisa melakukan hal seperti itu. Terlebih di lingkungan kampus. Mila benar-benar tidak menyangka selama ini sikap polos Vlavia hanyalah palsu belaka.
Setelah melihat apa yang membuat teman-teman kampusnya menatap Vlavia aneh. Serin juga sama terkejutnya dengan mereka. Bahkan Serin sampai menutup mulutnya tidak percaya.
"Iku Gue." Ajak Serin seraya menarik tangan Vlavia dan Mila.
Serin membawa Vlavia dan Mila ke taman Kampus. Kebetulan di sana dala keadaan cukup sepi. Jadi tidak akan ada gangguan untuk mengintrogasi Vlavia. Atau mungkin ini saatnya juga untuk menjelaskan kepada Mila.
"Ini beneran Lo kan Vi?" tanya Serin membuat tubuh Vlavia bergetar.
Rasanya Vlavia merasa begitu bersalah sudah membohongi kedua temannya, atau tidak jujur dengan mereka tentang hubungannya dengan Visko. Dan sekarang Vlavia malah membuat kesalahan besar. Ini salah Vlavia dan juga Visko yang tidak bisa menjaga sikap dan mau menahan sampai nanti di apartemen.
"Ya iyalah itu Vi. Siapa lagi gadis yang sedang memakai baju seperti itu." Jawab Mila dengan nada suara ketus.
"Mil sudah. Kita harus tanya baik-baik dengan Vi." Ucap Serin mengingatkan.
Mila tidak lagi menjawab. Dia lebih memilih untuk diam seraya bersekedap dada.
"Vi jawab Gue." Lanjut Serin.
Kali ini Vlavia mengangguk pelan. Tetapi kepalanya masih menunduk ke bawah. Vlavia merasa takut. Mungkin jika bukan seperti ini kasusnya Vlavia akan mencoba untuk berani melawan Marisa. Tetapi di sini Vlavia memanglah salah.
__ADS_1
"Ma-maafin aku, a-aku salah." Ucap Vlavia terbata.
Air mata yang sedari tadi ingin keluar masih dia coba untuk tetap menggenang di pelupuk matanya.
"Ceritain semua ke kita. Kalau Lo mau kita bantuin." Ucap Serin membuat Vlavia terkejut.
Vlavia mengira jika Serin akan memutuskan hubungan pertemanannya dengan Vlavia setelah tahu kejadian itu. Tetapi ternyata Serin begitu dewasa dia mengambil keputusan yang sangat bijak.
"Ser Lo gila." Ucap Mila tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Serin barusan.
Jelas Mila tidak setuju. Mengingat apa yang Vlavia lakukan dan juga sikap Vlavia yang selama ini begitu polos di depan mereka membuat Mila sedikit muak.
Mila memanglah gadis yang baik. Tetapi Dia tidak suka gadis munafik. Seperti Vlavia saat ini menurutnya.
"Lo diam Mil. Ada yang harus Lo tahu juga, dan mungkin ini saatnya." Jelas Serin membuat Mila menghela napasnya kesal.
Mila masih menatap Vlavia tidak suka. Kenapa bisa gadis polos seperti Vlavia begitu menyebalkan sekarang ini? pikir Mila masih tidak percaya.
Vlavia memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan dirinya. Membiarkan air mata yang sedari tadi di tahan olehnya untuk keluar. Sedikit lega rasanya meskipun kini keadaan semakin tegang. Tetapi Vlavia harus bisa menjelaskan dan mungkin menyelesaikannya.
Mila menatap Vlavia tidak percaya. Berbeda dengan Serin yang memang sudah lebih dulu tahu tentang kebenaran itu.
"Kita saling menyukai." Jawab Vlavia dengan nada suara gemetar.
Vlavia takut mengatakan hal ini. Banyak kebohongan yang Vlavia tutupi selama ini kepada kedua temannya. Termasuk tentang hubungannya dengan Visko.
"Lo." Tunjuk Mila semakin tidak percaya.
Vlavia hari ini membuat keheboha dalam hidupnya. Bukan skandal tentang ciuman panasnya di belakang Kampus. Tetapi tentang pernyataan perasaannya. Dan Mila semakin yakin jika cowok yang bersama dengan Vlavia di belakang kampus ialah Visko.
"Ah.. Sial, Gue baru ingat tadi memang Visko memakai baju yang sama dengan lawan main Lo." Ucap Mila lagi masih dengan nada suara yang sama seperti tadi. Kesal atau bahkan kecewa dengan Vlavia.
Vlavia tidak menjawab, Dia memilih untuk tetap diam, menyiapakan ungkapan kebenaran yang akan dia katakan lagi kepada kedua temannya. Tidak perduli jika nanti mereka akan memutuskan hubungan pertemanan dengan dirinya setelah tahu semuanya. Yang terpenting Vlavia sudah tidak lagi menyimpan kebohongan dengan orang-orang disekitarnya.
"Jadi selama ini Kakak yang Lo maksud itu Visko kan?" tanya Mila seraya tersenyum kecut.
__ADS_1
Merasa bodoh karena sudah menunggu seseorang yang selama ini dikenalinya. Meski tidak dekat tetapi Mila sering melihat dan bahkan bertemu.
Vlavia mengangguk, membenarkan apa yang Mila katakan "Aku benar-benar minta maaf Mil." Ucap Vlavia masih dengan nada suara yang bergetar.
Mila tersenyum miring. Merasa muak dengan Vlavia yang terus saja mengatakan maaf kepadanya.
"Jangan ada lagi yang Lo tutupi Vi. Kalau Lo tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi di masa mendatang. Dengan Lo nutupin kebenaran Lo sama aja nggak mengakui kita sebagai teman." Jelas Serin tanpa menatap Vlavia.
Vlavia mengangguk, lalu kembali berucap "Dan sekarang kita tinggal bersama di apartemen" Jelas Vlavia lalu segera menarik napasnya dalam.
Vlavia harus siap dengan respont dari kedua temannya saat ini. Ntah mereka akan ikut mencibirnya atau tetap bertahan dan memberi semangat meskipun Vlavia sudah membohonginya.
Benar saja Mila semakin tidak percaya. Ternyata banyak sekali kebohongan Vlavia yang di sembunyikan kepada dirinya.
"Lo... Emang bi*ch." Ucap Mila seraya menunjuk Vlavia. Lalu Mila pergi yang ntah kemana.
Serin tidak lagi mencegahnya. Karena mungkin butuh waktu untuk Mila menenangka diri.
Sedangkan Vlavia kembali menangis. Dia merasa begitu bersalah karena dari awal tidak berkata jujur. Tetapi mau bagaimana lagi. Vlavia memang orang yang tertutup. Dia bisa mengatakan semuanya juga karena percaya dengan kedua temannya sekarang. Vlavia merasa bersalah jika terus berbohong.
"Ser.. Maafin aku, harusnya aku berterus terang dengab kalian." Ucap Vlavia.
Bahka bahasa yang Vlavia gunakan juga sudah tidak sesantai kemarin-kemarin. Vlavia terlalu takut. Bukan karena makian dari teman-teman kampusnya saja. Tetapi takut kehilangan kedua temannya yang sudah begitu baik dengannya.
"Gue tahu tidak mudah jadi Lo Vi, Gue harap Lo lebih terbuka lagi dengan kita." Ucap Serin seraya menarik Vlavia kedalam pelukannya.
Vlavia mengangguk, masih berada di pelukan Serin. Rasanya tidak ada yang bisa Vlavia ungkapkan selain rasa bersyukur karena Serin begitu mengerti dirinya.
"Sekarang tinggal bagaimana caranya agar masalah itu tidak sampai tersebar ke Pak Dosen Vi. Ini hal yang biasa sebenarnya di kampus ini. Banyak kejadian yang lebih dari kesalahan yang udah Lo lakuin. Tapi Gue yakin Marisa punya maksud tertentu melakukan hal ini." Jelas Serin membuat Vlavia melepaskan pelukannya. Lalu menatap Serin bingung.
"Bisa saja Marisa sengaja buat Lo down Vi dengan menyebar video itu. Dia akan manfaatin untuk membuat Lo takut dari kasus ini. Dan Lo nggak boleh takut Vi, Lo harus tunjukin ke dia." Lanjut Serin lagi membuat Vlavia berpikir sejenak.
"Tapi Mila Ser?" tanya Vlavia yang masih mengkhawatirkan Mila yang pergi begitu saja dalam keadaan kesal dengannya.
"Udah, Lo jangan pikirin Dia.. Mila biar Gue yang urus, sekarang Lo pikirin bagaimana caranya untuk melawan Marisa. Kalau perlu kita balas apa yang udah Marisa lakukan." Jelas Serin lagi membuat Vlavia kembali mengangguk.
__ADS_1
Siapa yang udah ngasih video itu ke Marisa? Batin Vlavia penuh dengan pertanyaan.