
Vlavia duduk di depan cermin besar. Dia masih tidak percaya dengan sosok gadis cantik di depannya itu. Padahal jelas jika itu ialah gambaran dirinya yang sudah di sulap oleh pegawai salon menjadi gadis yang cantik dan sangat jauh berbeda dari tadi ketika dia memasuki Salon.
" Ser, Mil." Panggil Vlavia lirih kepada kedua temannya yang sedari tadi setia menunggunya.
" Apa sayang? Gimana suka nggak?." Tanya Serin yang langsung di angguki oleh Vlavia dengan senyum.
Vlavia beranjak dari duduknya, lalu memeluk kedua temannya yang sedang tersenyum ke arahnya.
" Banget, bi**g thanks gaes." Ucap Vlavia lirih.
Serin dan Mila mengangguk bersamaan, kemudian mereka melepaskan pelukan Vlavia, menatap Vlavia dengan penuh arti.
" Gue nggak nyangka Lo bisa secantik ini Vi." Puji Mila melihat Vlavia yang memang terlihat berbeda dari tatanan rambutnya yang tadi.
" Ini belum di poles make up, kalau sudah Gue rasa yang terkesima bukan cuma Kristan tetapi emang seluruh Kampus deh Vi." Sambung Serin yang juga memuji Vlavia.
" Jangan berlebihan kalian." Jawab Vlavia malu.
" Kita lihat saja besok di Kampus." Jawab Serin yang di angguki oleh Mila.
Mereka kini menuju ke toko make up, jelas peralatan make up juga sangatlah di butuhkan untuk menunjang penampilan. Meskipun tidak harus berlebihan cara pemakaiannya.
Semua Vlavia percayakan kepada Serin dan Mila yang lebih tahu memang tentang jenis-jenis make up yang baik dan aman di gunakan. Setelah selesai mereka akhirnya memutuskan untuk makan malam bersama, sudah pukul setengah 7 malam memang, dan menemnai Vlavia berbelanja membutuhkan tenaga juga untuk Serin dan Mila.
" Gue berasa kayak lagi nggak bareng Vi deh tapi sama tuan putri." Cibir Mila melihat Vlavia yang terlihat sangat cantik.
" Jangan gitu, Gue malu." Jawab Vlavia membuat kedua temannya tertawa.
" Boleh malu Vi, tapi jangan pemalu banget ya sekarang? Lo tuh cantik Gue yakin si Marisa lihat Lo yang sekarang juga bakal panas dingin Vi." Jelas Serin yang di setujui oleh Mila.
Mereka makan malam bersama di Mall yang mereka kunjungi hari ini. Acara hari ini memang untuk menemani Vlavia berbelanja saja.
__ADS_1
Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang. Tadinya Mila mengajak untuk nonton di bioskop. Tapi karena Vlavia yang sudah lelah, akhirnya mereka urungkan dan berniat akan nonton di bioskop sabtu sore depan.
Vlavia pulang ke rumah Om Albert. Karena memang malam ini jatahnya tidur di rumah. Setelah kepergian Serin dan Mila yang mengantarkannya sampai depan Rumah. Vlavia segera masuk, dia mendapati Mommy Selena dan Om Albert yang baru saja selesai makan malam bersama.
" Baru pulang sayang?." Tanya Mommy Selena yang di angguki oleh Vlavia.
" Kamu sudah makan Nak? D**ad sama Mommy sudah makan baru saja." Jelas Om Albert kepada Vlavia.
" Vi sudah makan Dad tadi bareng temen-temen Vi." Jawab Vlavia yany di angguki oleh Om Albert.
Mommy Selena dan Om Albert memang sengaja makan malam terlebih dahulu, karena mereka tahu jika Vlavia sudah pasti akan makan malam bersama kedua temannya.
Vlavia sedikit kecewa tidak melihat adanya Visko di rumah. Jujur saja dia ingin Visko melihat penampilannya sekarang, ntah kenapa Vlavia ingin tahu pendapat Visko.
" Vi ke kamar dulu ya Mom, Dad." Pamit Vlavia yang di angguki oleh kedua orang tuanya.
" Vi." Panggil Om Albert menghentikan langkah Vlavia.
" Kamu cantik sekali sayang." Puji Om Albert yang membuat Vlavia tersenyum malu.
Mommy Selena tersenyum seraya mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh suaminya, membuat Vlavia tersenyum malu, tapi juga merasa senang.
Vlavia kembali menunu kamarnya. Dia menghempaskan dirinya di ranjang kamarnya yang sudah cukup lama tidak dia tempati.
Pikirannya mengarah kejadian tadi ketika dirinya di cium oleh Visko sangat dalam di toilet Kampus. tanpa terasa jemarinya meraba bibirnya sendiri, Vlavia tersenyum mengingat kejadin itu, jujur saja Visko adalah lelaki pertama yang sudah mengambil ciuman pertamanya.
Visko Kakak tirinya yang nakal, tetapi Vlavia suka di perlakulan seperti itu oleh Visko.
Visko lelaki pertama yang juga sudah mengisi hati Vlavia, meskipun Vlavia sadari jika perasaannya terhadap Visko ialah salah. Semua begitu rumit, rumit untuk dia hadapi, karena meskipun dirinya berkeinginan untuk menolak, tetapi nyatanya hati dan perasaannya kini malah yang mempermainkannya.
" Kak kamu dimana?." Gumam Vlavia lalu memejamkan mata berniat untuk menghilangkan pikirannya tentang Visko.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Visko sudah meneguk beberapa botol minuman di depannya. Dendry dan Harry tidak lagi mencegah karena mereka tahu pikiran Visko sedang kalut dengan perasaannya yang mencintai adik tirinya.
Ponsel Visko juga sedari tadi terus berbunyi, Marisa menghubungi Visko berkali-kali, dia ingin menemui Visko malam ini, tetapi dengan sengaja ponsel Visko di matikan oleh Harry, kedua sahabat Visko sangatlah tahu jika Visko sangat menghindari Marisa, apa lagi dalam keadaan mabuk berat seperti sekarang ini.
Bisa bahaya nanti jika Visko sampai benar-benar melakukan long night dengan Marisa.
Jelas Visko akan menyalahkan kedua sahabat bast*rdnya yang sudah membiarkan dirinya ternodai oleh Marisa. Pokoknya Harry tidak mau mengambil resiko tentang itu.
" Vis sudah ayo kita pulang." Ajak Harry kepada Visko yang sudah fly di sebelahnya.
" Santai dulu Man, Gue mau Vi merasa kangen karena Gue tinggal di sini." Jawab Visko sudah sedikit ngelantur membuat Dendry dan Harry saling pandang terdiam.
Apa yang mereka kira benar adanya, jika semua karena adik itirnya.
" Gue heran sama Visko, cakepan juga Marisa kemana-kemana, kenapa bisa dia segila itu sama adik tirinya?." Ucap Harry seraya mengamati Visko.
" Dasar bod*h, mata Lo emang nggak bisa bedain gadis cantik yang sesungguhnya Ry." Jawab Dendry mencibir Harry.
" Sialan Lo, Gue paling tahu soal wanita man." Jawab Harry tidak terima. Tetapi Dendry hanya tersenyum miring menanggapinya.
Harry memang menyukai wanita yang sexy dan bermake up tebal, matanya seakan sudah di butakan oleh wanita-wanita yang mau menemani malam panjang bersamanya di ranjang. Jelas dia tidak bisa membedakan gadis cantik yang sesungguhnya dengan yang sudah banyak di permak oleh keahlian dokter jaman sekarang. Yang penting bagi Harry ialah gadis itu sexy, cantik, dan mau menemaninya di ranjang.
Tidak lama ponsel Dendry berbunyi, Om Albert yang menghubungi Dendry untuk menanyakan keberadaan Visko, jelas ini sesuatu yang langka jika Om Albert sampai menanyakan keberadaan Visko. Padahal biasanya Visko tidak akan sampai di perhatikan seperti itu.
Om Albert menyuruh Dendry untuk membawa Visko pulang ke rumahnya.
" Om Albert?." Tanya Harry yang di angguki oleh Dendry.
" Gila sih, Mommy Visko yang sekarang benar-benar perhatian." Jawab Harry membuat Dendry hanya mengangkat bahunya.
Baik Dendry ataupun Harry sudah paham jika yang menyuruh Om Albert untuk menanyakan dan membawa Visko pulang ke rumah ialah Ibu tiri Visko. Karena jelas Om Albert bukanlah Ayah yang perhatian seperti itu dengan Visko. Terlebih bertahun-tahun mereka melakukan perang dingin, sampai membuat keduanya terkadang seperti bukan Ayah dan seorang Anak.
__ADS_1