
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Nb: Harap baca sambil dengerin lagu sedih! agar feelnya semakin dapat! Kuatkan hati saat membaca part ini!
"Maaf tuan, baby twins tuan tidak bisa kami selamatkan dan istri tuan sekarang sedang kritis. Saya turut berduka cita atas baby twins kalian. Kami sudah melakukannya dengan semampu dan sebisa kami. Tapi, nayatanya Tuhan berkehendak lain."
"Sekali lagi kami turut berduka atas baby twins kalian. Tuan bisa datang keruangan saya untuk mendengarnya lebih lanjut. Dan istri tuan akan dipindahkan keruangan VIP untuk melanjutkan perawatan. Saya permisi tuan."
Deg
Tubuhnya menegang mendengarnya. Dunianya seakan runtuh di saat itu juga.
Tuhan, kenapa kau mengambilnya disaat aku telah menjaganya dengan sebaik mungkin?
Malaikatnya. Bayinya. Anak pertamanya. Anak yang ia nanti-nanti akan kehadirannya, sekarang pergi meninggalkannya begitu saja.
Tubuhnya langsung jatuh terduduk dia atas lantai. Kedua kakinya seakan tak kuasa lagi untuk menopang berat tubuhnya.
Buliran kristal langsung jatuh membasahi kedua bola matanya. Dipukulnya beberapa kali dadanya yang terasa menyesakkan.
Kenapa sesakit ini Tuhan?! Kenapa harus sesakit ini?!
"Arghhh!" Jeritnya frustasi. Membuat orang yang berlalu lalang menatap nanar padanya.
Kedua tangan Roy mengepal kuat. Rahang-rahangnya mengetat kuat. Tuhan, tidak bisakah kau mengembalikan anak mereka?
"Brengsek! Sialan! Sialan!" Umpat Sean dengan beberapa kali memukul lantai rumah sakit yang dingin. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang ia rasakan di tangannya, Sean tetap memukul kuat lantai dingin itu hingga buku-buku jarinya berdarah.
Kedua bola mata yang selalu terkesan dingin. Wajah yang selalu datar dan tegas, kini telah berubah. Hanya kesedihan dan duka yang terpancar dikedua bola matanya. Buliran kristal terus membasahi kedua bola matanya seakan tak pernah habis.
Kenapa?! Kenapa harus seperti ini?! Aku telah menjaganya Tuhan! Aku telah melakukannya dengan sebaik mungkin. Tapi kenapa?! Kenapa harus malaikat kecilku? Kenapa harus istriku?! Tidak bisakah kau mengembalikannya? Tidak bisakah aku saja yang merasakan sakitnya? Jangan istriku. Jangan malaikat kecilku.
Hatinya teriris pilu. Isakan tangis keluar dari bibirnya.
Roy memutuskan untuk berjalan mendekati Sean. Dirangkulnya tubuh tegap yang kini terlihat sangat rapuh.
"Tuan, tuan harus kuat. Tuan harus kuat untuk nona Dara. Tuan harus tegar untuk nona Dara." Ujar Roy yang berusaha menenangkan Sean.
Sean menggelang lemah. "Apa ini balasanku setelah semua apa yang telah ku perbuat Roy?" Lirihnya pelan.
Tubuh Roy membeku mendengarnya.
"Tidakkah ini terlalu kejam untuk ku? Istriku."
Kedua tangan Roy semakin mengepal kuat.
"Semesta seakan sedang bercanda denganku Roy!" Bentak Sean dengan frustasi.
Lalu, didorongnya tubuh Roy dengan kasar.
__ADS_1
"Roy, kau pergi keruangan dokter tadi. Kau cari tau apa penyebab keguguran istriku. Aku akan menjaga istriku malam ini." Titah Sean dengan tegas.
"Baik tuan." Jawab Roy dengan menunduk hormat.
Tubuhnya langsung berbalik untuk menuju ruangan VIP istri tercintanya.
Diusapnya dengan kasar wajahnya yang telah basah dengan air matanya.
Lihatlah sekarang. Seorang ketua Mafia yang selalu ditakuti, selalu terlihat tegas dengan aura menakutkan, kini telah berubah menjadi laki-laki yang sangat rapuh.
Srek
Pintu kamar terbuka.
Ruangan VIP kelas 1.
Tangan Sean mengepal kuat. Berusaha menguatkan dirinya.
Lalu, dengan perlahan langkah kakinya memasuki ruangan rawat inap istrinya.
Deg
Tubuhnya membeku.
Pintu kamar tertutup.
Disana istrinya tercintanya terbaring lemah dengan berbagai alat yang menunjang hidupnya. Perut buncit yang selalu ia usap dengan istrinya, kini tampak rata. Menjelaskan jika benar-benar malaikat kecilnya telah pergi meninggalkannya. Padahal Sean berharap jika ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Tapi, ternyata ini semua adalah nyata.
Dengan langkah yang bergetar. Sean berjalan mendekati istrinya.
Tuhan, kenapa harus semenyakitkan ini?
Tubuhnya langsung luruh begitu saja, ketika melihat wajah pucat istrinya.
Sakit.
Sesak.
Dicengkramnya dadanya yang terasa menyesakkan.
Kau bodoh Sean! Kau brengsek! Kau gagal! Kau telah gagal menjaganya! Kau suami yang tak berguna!
Dan lagi, buliran kristal itu jatuh membasahi kedua bola matanya.
Dengan tangan yang bergetar. Digengamnya salah satu tangan istrinya.
Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku sayang. Maafkan aku yang telah lalai menjagamu. Maafkan aku yang telah gagal menjadi suami.
Bibirnya bergetar. Isakan yang ia tahan sedari tadi langsung lolos begitu saja.
Digengamnya dengan erat jemari istrinya. Dikecupnya dengan sayang jemari itu.
You are my best wife. We can definitely get through this, baby. Stay with me. I love you.
(Kamu adalah istri terbaik ku. Kita pasti bisa melewati ini, sayang. Tetap bersamaku. Aku menyayangimu.)
Malam ini menjadi malam kerapuhannya. Menjadi malam kehancuran yang tak pernah ia rasakan.
Tangisnya langsung pecah begitu saja.
Tak memperdulikan jika dirinya adalah seorang ketua Mafia.Tak peduli jika dirinya adalah seseorang yang paling ditakuti. Sean hanyalah manusia biasa yang mempunyai perasaan.
__ADS_1
Apakah ini balasan yang telah aku lakukan selama ini Tuhan?
Apakah ini balasan untukku?
Tapi,
Tidak bisakah kau berbelas kasih padaku? Tidak bisakah kau berbelas kasih pada istri dan anakku?
Kenapa kau harus mengambil orang yang kusayang?! Kenapa kau harus mengambil malaikat kecil kami?
Deg
Nafasnya tercekat.
Tuhan, apa yang harus aku katakan jika istriku telah sadar nanti?
Apa yang harus aku katakan padanya, Tuhan?
Tangisnya semakin pecah.
Istriku begitu menyayangi bayinya. Begitu menanti-nanti akan kehadirannya. Begitu tidak sabar untuk menjadi seorang ibu. Tapi, sekarang?
Harusnya aku yang kau hukum! Tidak perlu istriku.
Dilepasnya genggaman tangannya dijemari mungil istrinya.
Lalu, Sean segera bangkit dari posisinya ketika ponselnya bergetar, menandakan jika panggilan masuk.
"Apa kata Dokter itu Roy?" Tanya Sean to the point dengan suaranya yang serak dan basah.
"Tuan, penyebab keguguran nona Dara keguguran karena memakan makanan yang telah dicampur dengan obat keguguran."
"Apa maksudmu Roy?"
"Jadi kemungkinan terbesar ada yang ingin menggugurkan janinnya."
Ponselnya langsung jatuh ke lantai. Terlalu terkejut dengan apa yang Roy katakan.
Tangannya mengepal kuat hingga menonjolkan otot-ototnya.
Rahangnya mengeras. Tatapannya menajam. Tak ada binar kesedihan lagi disana. Hanya sebuah seringai tipis yang menakutkan tersungging disana.
Kalian salah karena telah bermain-main denganku.
Kalian salah karena telah menyentuh istri dan anakku.
Larilah dan sembunyilah dengan sebaik mungkin. Tertawalah sekarang. Bersenang-senanglah sekarang sebelum aku menemukan kalian dan menghabisi nyawa kalian dengan tanganku sendiri.
Kau sentuh istriku. Berarti kau bermain-main dengan nyawamu.
***
Siapa yang dulu pengen Sean tersiksa?😂
Bagaimana Part ini menurut kalian? Yuk 500 Komentar dan 2000 Like 😉 Untuk spoilee nwxt chapter kalian bisa follow instagram aku. 🤗
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤