
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Tik.. Tik.. Tik..
Suara jam berputar terdengar di sepenjuru ruangan kamar mewah.
Jam telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Disebuah mansion mewah milik sang ketua Mafia Crowned Eagle terlihat ketat pengawasannya. Beberapa bodyguard telah siaga dalam melakukan tugasnya. Dan sebagian dari mereka ada yang tengah tertidur. Mereka telah menjalankan tugas yang telah diperintahkan oleh tuannya.
Lalu, tidak jauh dari mansion Sean, terlihat mobil hitam dengan layar kaca yang gelap. Ada sosok memakai baju serba hitam dengan topi yang bertengger di kepalanya. Menutupi sebagian dari wajahnya.
Sosok tersebut tersenyum miring ketika melihat mansion Sean yang telah di jaga dengan ketat. Bahkan tidak main-main, bodyguard yang dimiliki Sean adalah bodyguard terlatih milik Elden. Bodyguard yang telah diseleksi ketat dengan pelatihan dua tahun.
Sosok teesenyum tersenyum miring. Sepertinya ini akan jauh lebih sulit dari bayangannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memutar balik mobilnya dan memutuskan kembali ke tempatnya.
Setelah itu di sebuah tempat tidur yang berukuran king size itu terlihat seorang perempuan tengah tertidur dengan gelisah. Tubuhnya berkeringat dengan kening yang telah basah karena keringat miliknya. Kedua matanya masih terpejam erat sedangkan kedua jemarinya mencengkram erat sprei tidurnya. Perempuan yang tengah tertidur itu adalah Dara.
Dara tengah tertidur sendirian karena Sean sedang pergi diam-diam untuk menyelesaikan urusannya. Dara terlihat gelisah dan tidak nyaman ketika tertidur.
Sebuah kilasan tragedi datang menghampirinya lewat mimpi. Mimpi buruk lagi yang merupakan trauma dari masa lalunya. Meskipun sudah hampir 1 tahun itu terjadi, tapi tetap saja Dara masih belum bisa melupakannya. Hal itu masih terekam jelas di ingatannya. Tapi kenapa harus sekarang kilasan masa lalunya itu datang disaat Dara merasa semuanya telah baik-baik saja.
"Ayah, bunda, bibi.." Lirihnya pelan. Kepalanya menggeleng pelan.
__ADS_1
Tolong bangunkan Dada tidurnya. Siapapun itu. Tolong bangunkan Dara.
Tampak seorang gadis yang tengah tertidur pulas. Tidurnya terlihat nyenyak. Apalagi setelah perayaan ulang tahunnya di umur 20 tahun. Gadis itu terlihat bahagia membayangkan jika besok akan pergi berliburan dengan kedua orangtuanya. Meningat jika Ayahnya adalah seorang pembisnis yang sibuk dengan pekerjaanya. Tapi, tanpa ia duga ayahnya telah menyiapkan tiket liburan ke Italia bersama. Tentu saja hal itu membuat dirinya sangat bersangat. Namun sayang, sepertinya kebahagiaan yang ia tunggu tidak akan terjadi.
Pukul 20.00, gadis tersebut menggeliat pelan ketika seorang pelayan yang berusia 47 tahun tengah tergesa-gesa memasuki kamarnya.
"Nona.. bangun, kita harus cepat pergi dari sini" dengan suara pelan, Bi Marta yang merupakan pengasuhnya membantunya untuk bangun dari tidurnya.
Dara langsung bangun dari tidurnya dan terduduk, heran. "Tapi Bi, Dara masih mengantuk" dengan nyawa masih baru terkumpul setengahnya Dara berusaha bangun menuruti keinginan pengasuhnya yang sudah ia anggap menjadi Ibunya sendiri.
Dorr.. Dorr.. Dorr..
Suara tembakan yang terdengar seketika membuat nyawanya langsung terkumpul begitu saja. Matanya langsung terbuka lebar. "Bi,ada apa ini? Kenapa ada suara tembakan? Ayah dan Bunda kemana Bi??" Tanyanya khawatir ketika ia baru mengingat kedua orang tuanya.
"Nanti saya jelaskan non, kita harus pergi dahulu dari sini" Bibi Marta dan Dara langsung keluar kamar dengan mengendap-ngendap. Mereka berdua akan keluar dari rumah ini melalui ruangan bawah tanah yang sudah ayahnya siapkan dari dulu apabila ada sesuatu yang menimpanya sewaktu-waktu.
Ayahnya adalah seorang pembisnis handal dan terkenal. Banyak orang yang memusuhinya bahkan sudah beberapa kali berancana untuk membunuh ayahnya. Hanya karena mereka merasa tersaingi dan iri dengan kekayaan kedua orang tuanya. Padahal, ayahnya adalah orang yang baik dan ramah.
Kini Dara dan Bi Marta sudah berada didepan pintu lorong bawah tanah. Dengan perlahan-lahan Bi Marta membuka pintu otomatis tersebut agar tak menilmbulkan suara apapun.
Setelah pintu terbuka, mereka berdua langsung masuk kedalam lorong ruangan bawah tersebut. "Nona, ini kalung dari Nyonya. Ini untuk nona Dara."
Dara langsung menerima kalung indah tersebut. Kalung bundanya dari pemberian ayahnya dulu. "Tapi Bi, apa ayah dan bunda baik-baik saja? Kenapa hanya kita berdua disini?" Pikiran negatif mulai menghantuinya. Mungkinkah Ayah dan Bundahnya?? Tidak mungkin kan??! Dara mulai terisak.
"Nona yang sabar ya, mungkin ini memang sudah kehendak Tuhan. Kita tidak bisa menghentikannya. Kita hanya bisa mendoakan tuan dan nyonya. Ikhlaskan ya Nona." Kata Bi Marta lembut sambil mengelus pundak Nonanya yang telah dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Dara hanya menangis terisak. Ayah dan Bundanya yang sangat ia sayangi bahkan pelayan-pelayannya yang telah dianggapnya sebagai keluarganya telah mati terbunuh.
Tap.. Tap.. Tap..
Terdengar suara dibalik pintu rahasia tersebut. Lantas Dara dan Bi Marta langsung mempercepat langkahnya. "Kita harus cepat Non. Nona harus cepat melarikan diri. Ingat, Nona harus lolos dan bersembunyi. Di kalung itu merupakan sandi Bank uang simpanan orang tua Nona. Gunakan uang itu sebaik mungkin dan mulailah hidup baru. Pergilah cepat dari negara ini. Nona harus menyelamatkan nyawa nona." Titah Bi Marta.
"Lalu bibi bagaimana?" Dara menatap khawatir Bi Marta.
"Bibi akan baik-baik saja Non. Kita berpencar Non. Nona segelarah berlari kejalan raya. Nona bisa meminta pertolongan ke orang yang melintas disana."
__ADS_1
"Baiklah bi. Terimakasih bi" Dara langsung memeluk Bi Marta dengan erat. Mereka menangis sedih. Lalu merekapun berpencar. Mereka berlari sekuat dan semampu mereka. Hingga, pada akhirnya Dara ketahuan oleh seseorang yang menjaga di ujung jalan sana.
"Hei berhenti disana" ucap salah satu orang berbadan besar. Dara langsung berlari dengan semampunya. Ia tak berani untuk menoleh kebelakang sama sekali. Dara terlalu takut untuk melakukannya. Hingga Dara melihat mobil yang melintas, Dara semakin mempercepat laju larinya, dan bertemulah Dara dengan pria berwajah dingin tersebut.
Deg
Dara langsung terbangun dari tidurnya dengan memegang erat kalung yang selalu bertengger manis dilehernya.
"Bi Marta, apa kabar disana? Apa bibi baik-baik saja?"
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
__ADS_1
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤