
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. ππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku π€
dan jangan lupa beri bintang 5 ya π
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata π€
Happy Reading
***
"Info penting apa yang ingin kalian sampaikan?" Tanya Sean dengan duduk menyilangkan salah satu kakinya. Terkesan gagah dan sangat berwibawa.
Darren menarik nafasnya berkali-kali. Aura menegangkan sangat terasa diruangan itu. "Aku tau.."
Bug
"Shitt!!" Umpat Darren ketika tiba-tiba saja mendapat lemparan bantal dari Nick.
"Jangan sok tegang Darren. Kau buat mood ku semakin hancur." Ucap Nick dengan memasang wajah malasnya.
Hal itu sontak membuat Damian langsung tertawa renyah. "Hahaha, kenapa dengan wajah kusutmu itu Nick?" Tanya Damian dengan menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Nick.
"Mungkin Nick kurang mendapat servis dari Rara makanya sekarang kusut seperti itu." Jawab Darren sekenanya.
Hal itu membuat Sean mengangkat alisnya heran. "Kau ada hubungan dengan Rara, Nick?" Tanya Sean.
Nick menggelengkan kepalanya pelan. "Untuk apa aku menjalin hubungan dengan kekasih pelaku pembantaian dari keluarga Dara? Kau tau, aku sama sekali tak berminat padanya. Aku hanya ingin bermain-main dengannya. Kalian tau ssndiri bukan, kalau begitu banyak perempuan yang tergila-gila padaku, jadi untuk apa aku bersamanya? Aku tidak akan seperti Damian yang terlalu bucin dengan perempuan." Kata Nick dengan entengnya sambil melirik Damian melalui ekor matanya.
Damian yang merasa tersindir lantas langsung menoleh. "Jangan membicarakan tentang Sena, Nick. Atau kutebas kepalamu itu lalu kuberikan ke kucing peliaraanku." Ujar Damian dengan menatap tajam wajah Nick.
"Oy, santui bung." Kata Nick dengan mengangkat kedua tangannya. "Aku hanya bercanda." Lihat bukan, Damian begitu bucin dengan istrinya. Sungguh, Nick tidak mengerti apa yang Sena lakukan hingga membuat Damian begitu patuh dan nurut padanya seperti ini. Bagaikan anak itik yang selalu manja pada induknya. Kemana perginya seorang Damian sang psycopat sejati sejak lahir itu?
Sean menghela nafasnya pelan. "Informasi penting apa yang akan kau sampaikan Darren? Kau tau, aku tidak ingin membuang-buang waktuku." Ujar Sean dengan dingin.
Hening.
Mereka langsung terdiam ketika merasakan aura mematikan yang keluar dari tubuh Sean. Aura menegangkan langsung sangat kental terasa.
"Jadi, aku ingin memberi tau informasi padamu Sean, jika Derrick tak ada kaitannya dengan peristiwa kegugurannya istrimu. Aku sudah mencari taunya. Dan hasilnya nihil, semua bukti dan dugaan yang aku dapat tidak mengarahkan padanya sama sekali."
"Lalu? Siapa dibalik dalang keguguran itu?" Kata Nick dengan menautkan kedua alisnya, heran. Jika bukan Derrick, lantas siapa?
"Aku juga belum mendapatkan dalang dibalik semua ini. Tapi, aku sudah menangkap Afi, kepala pelayan barumu itu ketika dia akan pergi meninggalkan kota. Untung saja pergerakan aku cepat." Kata Darren dengan menyeringai tipis.
Wow. Damian dibuat cengo dengan apa yang dikatakan Darren barusan. Dengan spontan Damian langsung bertepuk tangan. Begitu kagum dengan apa yang dikatakan Darren barusan tadi. Dan lihat, Damian lagi-lagi bertingkah seperti anak kecil yang senang karena diberi lolipop.
"Tutup mulutmu Damian." Ujar Darren dengan memutar kedua bola matanya malas.
Sebuah seringai tersungging dibibir Sean. "Kerja bagus Darren. Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengan wanita tua itu."
Darren tersenyum miring. "Kau tau Sean, aku adalah orang paling bisa diandalkan daripada mereka berdua." Ucap Darren dengan tenang.
Sontak saja hal itu membuat Nick dan Damian merasa kesal. Untung saja mereka sabar dalam menghadapi mulut pedas mikik Darren.
"Dimana dia sekarang?" Tanya Sean.
"Sekarang dia berada di gudang markas (Gudang bawah tanah)."
__ADS_1
Lalu, Sean langsung bangkit dari tempat duduknya. "Aku akan kesana." Kata Sean dengan dingin. Setelah itu, Sean langsung berjalan menuju gudang diikuti Darren, Damian dan juga Nick yang berjalan dibelakangnya.
Tap
Tap
Tap
Ceklek
Pintu ruangan yang terbuat dari besi tua itu terbuka. Bau anyir darah terasa sangat kental terasa.
Dan terlihatlah seorang perempuan tengah duduk terikat ditengah-tengah ruangan.
Dengan langkahnya yang tegas, Sean berjalan mendekati orang yang duduk terikat dikursi tersebut.
"Jadi, apa kau yang mencampurkan makanan istriku dengan obat keguguran?"
Afi yang semula menunduk langsung mendongakkan wajahnya. Sebuah senyuman miring tersungging dibibirnya. "Bagaimana? Apa sekarang bayimu sudah mati?" Ujar Afi dengan seringai yang tersungging dibibir tipisnya. Terasa sangat berbeda dengan wajah yang biasa ia tunjukkan ketika bekerja di mansion.
Kedua tangan Sean mengepal kuat. "Dasar keparat tidak tau diri!" Dengan kasar Sean langsung menarik kuat rambut Afi. Tak memperdulikan jika Afi adalah seorang perempuan. Karena tarikkannya yang kuat, hal itu membuat beberapa helaian rambutnya langsung rontok. Rasa sakit langsung menyerang ke kulit kepalanya. Sean tidak main-main ketika menarik kuat rambutnya.
Namun, rasa sakit yang ia rasakan sekarang, ia abaikan begitu saja. "Hahahaha.." Afi langsung tertawa keras. "Dilihat dari respon tuan, sepertinya bayi yang telah tuan nanti-nanti telah mati." Ucapnya dengan seringai tipis yang tersungging dibibirnya.
Rahangnya mengetat. Urat-urat dilehernya menonjol. Bukti jika Sean tengah diliputi emosi. "Brengsek kau!" Ditamparnya dengan kuat wajah Afi hingga mengeluarkan darah disudut bibirnya.
Sedangkan Darren dan Damian sudah tidak terkejut dengan apa yang dilakukan Sean tadi.
Nick mengepalkan kedua tangannya kuat. Sungguh, Nick ingin menghancurkan wajah wanita itu dengan menggunakan tangannya sendiri.
"Uukhh.." Rintih Afi ketika mendapatkan tamparan kuat di wajahnya.
"I want to kill you." Ujar Sean dengan wajah yang menggelap dilingkupi emosi.
Lalu, Sean mengeluarkan pisau lipatnya dari dalam saku jasnya. Sebuah seringai tipis tersungging dibibirnya.
"Aku punya beberapa pertanyaan untukmu. Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Sean dengan menempelkan ujung pisau ke leher Afi.
Afi menahan nafasnya ketika wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Sean.
"Jawab!" Bentak Sean dengan suara yang menggelegar.
"Untuk apa aku memberitahumu?" Jawab Afi dengan tersenyum miring. "Aku tidak bekerja padamu."
Sean menyeringai tipis mendengarnya. "Baiklah kau yang memintanya." Dengan perlahan, Sean mulai menggores leher itu.
Afi mengginggit kuat bibirnya. Ketika perlahan demi perlahan Sean menggores lehernya. Rasa sakit dan nyeri langsung ia rasakan sekarang.
"Katakan sekarang atau aku yang akan membuatmu mengatakannya dengan caraku sendiri." Ujarnya. "Kau tau, pilihanmu buruk jika memintaku yang membuatmu berbicara." Ucap Sean dengan tersenyum miring.
"Kau pasti tau bukan jika aku paling benci dengan penghianat?" Ucapnya dengan tenang seraya menatap leher Afi yang telah mengeluarkan darah. "Penghianat maka sama dengan mati." Ujar Sean dengan menyeringai tipis.
Tanpa rasa takut, Afi membalas tatapan kedua bola mata Sean. "Aku tidak akan pernah mengatakannya." Jawab Afi yang tetap teguh dengan pendiriannya.
"Hahahaha.." Gelak tawa langsung mengisi ruangan bawah tanah itu. Gelak tawa yang menyiratkan akan tanda sebuah kematian dan kepedihan. Dicengkramnya dengan kuat rahang Afi seperti ingin menghancurkannya. "Kau tau Afi, kau telah salah karena bermain-main denganku. Karena, orang yang bermain-main denganku maka sama saja dengan bermain-main dengan nyawanya." Ujar Sean dengan tersenyum miring.
"Pertanyaan terakhir, kenapa kau tega melakukan pada anakku? Kau punya urusan denganku! Bukan pada bayi yang tak berdosa!" Bentak Sean dengan suara yang menggelegar.
__ADS_1
Deg
Deg
Deg
Jantung Afi berdegup cepat. Sungguh, ini diluar dugaanya jika akan tertangkap seperti ini. Tidak pernah ia kira jika dirinya akan berhadapan dengan seorang Sean Crishtian sang ketua Mafia Crowned Eagle.
"Bukankah itu pantas untukmu tuan?" Ujar Afi dengan menatap wajah Sean yang memerah dilingkupi emosi.
"Hah.." Dengan kasar Sean langsung bangkit dan menendang salah satu kursi kosong disana. Hingga membuat salah satu kaki kursi itu langsung retak dan patah. Sean benar-benar menggunakan seluruh tenaganya untuk melampiaskan emosinya ke kursi malang itu.
Brak
"Aku sudah cukup berbaik hati padamu Afi. Aku mempercayakan istriku padamu. Bahkan istriku bilang padaku jika kau telah dianggap sebagai ibunya sendiri. Tapi kau malah membalas kebaikan istriku dengan ini? Dengan membunuh kedua malaikat kecil kami?! Hah?!!." Ujar Sean dengan mengusap kasar wajahnya. Berusaha menutupi kedua bola matanya yang basah dengan air matanya. "Aku tidak habis pikir denganmu Afi. Harusnya kau membalasnya kepadaku. Bukan ke malaikat kecil yang tak berdoasa itu! Dimana jiwa keibuan yang kau tunjukkan selama ini? Dimana belas kasihan dan hati nuranimu saat melakukannya? Dimana?!!!"
Tubuh Afi menegang. Begitupun dengan Damian, Darren dan juga Nick yang ikut merasakan kesedihan yang Sean rasakan sekarang.
"Aku tidak pernah menyangka, jika orang yang selama istriku anggap baik, ternyata sangat busuk dibelakang. Aku bahkan terlalu bodoh untuk mempercayakan istriku padamu Afi." Lirih Sean dengan nada yang tersirat akan kekecewaan yang sangat dalam.
"Darren.." Panggil Sean dengan suara dinginnya.
"Iya Sean." Jawab Darren.
"Kau yang urus Afi. Aku tidak bisa melakukannya Darren. Istriku sudah menganggap Afi sebagai ibunya sendiri. Aku tidak ingin membuat istriku semakin sedih jika aku melakukannya." Ujar Sean.
Nick mengepalkan tangannya kuat. Nick merasa bodoh karena tidak bisa melakukan apapun.
"Nick sekarang kau yang mengawasi Derrick. Jangan sampai dia menyentuh istriku. Dan kau Damian, kau tetap urus persenjataan dan beberapa cabang perusahaan yang dibawah nauangan kita. Dan kau Darren, kau urus perempuan itu." Titah Sean dengan suaranya yang tegas.
Mereka mengangguk mengerti.
"Sedangkan aku, aku ingin meenjaga istriku dan akan memburu dalang dibalik semua ini." Ujar Sean dengan menghembuskan nafasnya pelan. Berusaha menenangkan emosi yang melingkupi dirinya. Sean tak ingin kelepasan seperti dulu lagi.
Drrrtt
Ponselnya bergetar. Tanda jika panggilan masuk kedalam ponselnya.
"Hallo Mom. Mom kenapa menangis." Tanya Sean dengan khawatir. Jantungnya sekan dipacu dengan sangat cepat.
"Sean, cepat kembali kerumah sakit. Istrimu.. Hiks!! Istrimuu--- tit"
Deg
Dunianya seakan runtuh begitu saja mendengar apa yang Momny katakan tadi. Telinganya seakan tuli. Tubuhnya membeku.
Please, stay with me sayang. Stay with me. Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Jangan hukum aku seperti ini. Please, jangan hukum aku seperti ini. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau adalah warna dalam hidupku. Kau orang yang sangat berarti untukku. Please..
You are my best wife. We can definitely get through this, baby. Stay with me. - Sean Crishtian. ||Kamu adalah istri terbaikku. Kita bisa melewati ini sayang. Tetaplah bersamaku||
***
400 KOMENTAR UNTUK NEXT CHAPTERπ Dan jangan lupa untuk Follow instgram Author yaπ Oh iya, untuk Part Rara dan Nick di Part 119 ternyata. Kalau aku ditaruh di part ini bakal panjang bgtπ
Part terpanjang yang pernah aku bikin nihπ Yukk jangan lupa komen yaaπ
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana π
__ADS_1
Aku tunggu notif dari kalian ya π Terimakasih teman-teman.. β€