
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. ππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku π€
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya π
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata π€
Happy Reading
***
Dara tersenyum menatap kepergian suaminya. Setelah itu Dara memutuskan untuk kembali berjalan masuk kedalam mansionya.
"Apa nona Dara membutuhkan sesuatu?" Tanya seorang maid yang tengah menunduk hormat.
Dara menggeleng pelan dengan tersenyum. "Untuk saat ini aku tidak membutuhkan apapun. Nanti jika aku membutuhkan sesuatu pasti aku akan memanggilmu." Kata Dara dengan suaranya yang lembut.
Lihat? Dara begitu ramah dengan orang lain. Begitu baik dengan semuanya. Berbanding terbalik denga Sean yang dingin dengan aura yang menakutkan.
"Baik nona." Jawab maid tersebut dengan sopan. "Saya permisi." Tambahnya.
Dara mengangguk.
Dara menghembuskan nafasnya pelan. Diusapnya dengan sayang perut ratanya. Ada perasaan sedih setiap kali Dara mengingat baby twinsnya. "Maafkan mommy yang tidak bisa menjagamu sayang." Lirihnya pelan dengan kedua bola mata yang mulai berkaca-kaca.
Semuanya terjadi karena kecerobohannya. Kelalaiannya. Jika saja Dara bisa lebih berhati-hati, mungkin sekarang buah hatinya masih ada di dalam perutnya. "I miss you." Ucapnya dengan mengusap pelan perutnya. Dara tersenyum getir jika mengingat penantiannya dengan suaminya. Perjuangan suaminya yang selalu menjaganya dan buah hatinya.
"Roy."
Roy langsung menghentikan langkahnya ketika Dara memanggil namanya. Jemarinya mengepal kuat.
Wajah yang semula menunduk itu langsung terangkat. "Aku ingin berbicara sesuatu dengan mu." Ujar Dara dengan menatap wajah Roy. Namun, berbeda dengan Roy, Roy enggan untuk menatap wajahnya.
"Baik nona." Jawab Roy dan membalikkan tubuhnya agar berhadapan langsung dengan Dara.
"Maafkan aku." Lirih Dara dengan suara yang bergetar. Jemarinya saling bertautan satu sama lain. Ada rasa penyesalan teramat yang menghinggapi perasaanya. Jujur, Dara juga merindukan sosok Liya. Dara juga ingin ada Liya yang berada disampingnya.
__ADS_1
Tubuh Roy membeku mendengar perkataan Dara.
Bukan Dara yang seharusnya meminta maaf. Tapi dirinyalah yang seharusnya meminta maaf.
"Jika saja waktu itu aku tidak egois. Tidak memikirkan keinginan aku sendiri, mungkin Liya sampai sekarang akan menemanimu."
Buliran kristal mulai jatuh membasahi kedua bola matanya.
Sungguh Dara juga sangat menyayangi Liya. Dara sudah menganggap Liya sebagai keluarganya sendiri. Tapi sekarang sosok tersebut telah berpulang ke rumah Tuhan. Sosok hangat tersebut telah mati di tangan suaminya sendiri dan itu karena keegoisannya.
"Nona tidak perlu meminta maaf padaku." Sahut Roy dengan menatap wajah Dara.
Dara menggeleng pelan. "Tidak Roy. Ini semua karna ku. Jika saja aku tidak kabur dari mansion Sean waktu itu mungkin sekarang Liya masih berada di sisimu."
Roy terdiam di tempatnya.
Terlalu banyak kata mungkin yang menjadi simbol harapan...
Terlalu banyak serpihan kaca yang telah pecah dulu untuk mencapai sebuah titik kebahagiaan sekarang..
Dan terlalu tidak mungkin untuk mewujudkan harapan itu..
Orang yang telah mati tidak akan pernah bisa hidup..
Jika Roy boleh berharap, bolehkah Liya terlahir kembali dan Roy akan menjaganya dengan sebaik mungkin..
Bolehkah Roy berharap pada keajaiban itu?
***
Sedangkan disisi lain Sean segera mengendarai mobil sport mewah miliknya untuk menuju perusahan SC. Tecnology miliknya.
Tiba-tiba Sean tersenyum tipis ketika mengingat istrinya tadi. "Hufft.. rasanya aku ingin segera pulang." Ucap Sean pada dirinya sendiri. Padahal baru beberapa menit yang lalu Sean pergi meninggalkan istrinya. Tapi sekarang sudah menjadi serindu ini. Apakah ini yang disebut sebagai bucin? Jika iya, berarti Sean sebucin itu dengan istrinya. "Hahaha.." Sean tertawa renyah. Ternyata benar, kalau cinta bisa merubah segalanya. Seperti Sean, contohnya.
Oh iya, Sean berangkat sendiri dan menyetir mobilnya sendiri. Jika bos yang lain selalu di antar dengan bodyguardnya atau dengan sopir pribadi, maka berbeda dengan Sean. Sean lebih suka berangkat sendiri. Karena menurutnya mandiri lebih baik daripada terlalu bergantung dengan orang lain. Lantas untuk apa Sean memperkerjakan dan menggaji bodyguardnya? Tentu saja untuk menjaga istri dan mansionnya dari hal yang tidak-tidak. Sean juga membutuhkan pengawal pribadi untuk menyerang balik musuhnya jika itu perlu dilakukan.
Perjalanan ia tempuh kurang lebih lima belas menit. Suasana kota terlihat cukup padat. Mengingat jika hari ini adalah hari bekerja dan jam kerja.
Lampu merah membuat Sean langsung menghentikan laju mobilnya.
__ADS_1
Jemarinya mengetuk pelan stir mobilnya dengan mengikuti irama lagu yang ia ciptakan sendiri.
Setelah itu tidak lama kemudian lampu lalu lintas telah berganti warna. Sean segera melajukan mobilnya lagi dengan kecepatan rata-rata.
Mobil sport miliknya menyita perhatian orang yang melihatnya. Siapa yang tidak kagum dengan mobilnya sportnya? Bahkan authorpun juga mengagumi mobil sport miliknya. (Apa perlu aku belikan thor?)
Tidak lama kemudian, akhirnya Sean telah sampai di perusahaan miliknya.
Sean memakirkan mobilnya di parkir mobil khusus kelas VIP.
Sean menghembuskan nafasnya lega ketika melihat beberapa orang yang berlalu lalang. Lalu, dibukanya pintu mobil sport miliknya dan ia kunci dengan menggunakan kunci mobil otomatis. Setelah dirasa semuanya telah siap dan tidak ada yang tertinggal, Sean dengan langkah tegasnya langsung berjalan keluar dan segera berjalan memasuki perusahaanya.
Jam telah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Berarti Sean telah datang tepat waktu. Bukankah pemimpin perusahaan harus memberikan contoh yang baik pada karywannya?
Disepanjang lorong perusahaanya, semua karyawan yang bekerja di perusahaanya tengah berbaris rapi menyambut kedatangannya dengan menunduk hormat.
Pandangannya menatap jeli perusahaanya. Mulai dari karywan hingga furniture-nya yang tidak luput dari pandangannya.
"Masih sama." Gumamnya pelan yang hanya di dengar olehnya.
"Selamat pagi tuan."
Langkahnya langsung terhenti ketika pandangannya jatuh ke seorang perempuan yang tengah berdiri dihadapannya dengan menatap wajahnya.
"Saya sekretaris baru disini." Lanjut perempuan itu dengan nada suara yang terdengar lembut.
Tubuh Sean membeku di tempatnya. Tangannya mengepal kuat. Tatapannya menatap tajam perempuan di hadapannya. Apakah itu Raya? Apakah dia perempuan yang berada di dalam foto waktu itu?
***
Sudah ada yang tau novel-novel terbaru aku yang aku upload di feed Instagram semalam?Ini aku kasih yang belum tauπ€ Jangan lupa follow IG pribadi aku Fullandari untuk mengetahui info selengkapnya ya π
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga π
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana π
Aku tunggu notif dari kalian ya π Terimakasih teman-teman.. β€