My Possesive Husband

My Possesive Husband
158. BAGAIMANA PENDAPATMU?


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


"Saya sekretaris baru disini." Lanjut perempuan itu dengan nada suara yang terdengar lembut.


Tubuh Sean membeku di tempatnya. Tangannya mengepal kuat. Tatapannya menatap tajam perempuan di hadapannya. Apakah itu Raya? Apakah dia perempuan yang berada di dalam foto waktu itu?


Lidahnya seakan terasa kelu untuk menjawab sapaanya. Tubuhnya seakan beku. Bergerak dan beranjak saja seakan tak sanggup.


"Tuan.." Suara bodyguard di belakangnya langsung menyadarkannya dari lamunannya.


"Ah.. i--iya.." Jawab Sean dengan suara yang sedikit terbata.


Pandangannya langsung jatuh pada sosok perempuan yang tengah berdiri di hadapannya.


Wajahnya sama persis. Rambutnya, hidungnya, matanya dan bibir itu. Sean masih mengingat jelas bagaimana bibir itu berkata dan mengucapkan kata putus dengannya. Namun ada sedikit yang berbeda. Gaya pakaiannya sekarang terlihat lebih berbeda, yaitu lebih kalem dan girly. Sean menggeleng pelan. Berusaha menyadarkan pikirannya ketika mengingat pesan istrinya tadi.


"Ingat pesan ku Sean. Dilarang nakal dan bermain mata dengan perempuan lain diluar sana. Jangan lupa menghubungiku."


"Cepat minggir. Kau menghalangi jalanku." Ujar Sean dengan suaranya yang dingin dengan wajah yang datar.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat Alice langsung merasa malu dan segera bergeser. "Maaf tuan." Ucap Alice dengan menundukkan kepalanya. Niat ingin tampil memukau malah menjadi memalukan.


Sean menatap datar perempuan tersebut. Berusaha menormalkan degup jantungnya ketika melihat wajah itu. "Itu bukan Raya, Sean. Bukan." Kata Sean dalam hatinya. Berusaha menekankan pada dirinya sendiri bahwa itu bukan Raya. Orang yang telah mati tidak mungkin akan hidup kembali.


"Bagaimana Sarah bisa menerima mu begitu saja? Sopan santun dan tata kelakuan saja kau tidak punya." Ujar Sean dengan sura yang dingin. Setelah itu berjalan melewati perempuan yang tengah menundukkan kepalanya. Tidak peduli sama sekali dengan perasaan perempuan yang sedang merasa malu sekarang.


Sedangkan karyawan lain yang melihat itu hanya menatap miris Alice.


Setibanya di ruang kerjanya Sean langsung duduk bersandar di kursi kebesarannya.


Kepalanya sedikit berkeringat. Sungguh, bertemu dengan perempuan yang memiliki wajah sama dengan perempuan dari masa lalu itu sangat menakutkan. Bahkan sangat menyeramkan.


Ternyata benar, yang horor itu bukan saat bertemu dengan hantu, tapi saat bertemu dengan mantan. Yang mirisnya lagi mantan itu telah tiada. Horornya terasa lebih menyeramkan dua kali lipat.


"Ekhem.."


Deheman dari Elden langsung membuat Sean menatap pintu ruang kerjanya. Disana ada Daddynya yang tengah berdiri dengan bersandar di pintu.


Elden menatap datar anaknya. "Kau sudah bertemu dengan sekretaris barumu?" Tanya Elden dengan berjalan mendekati Sean.


Sebuah smirk langsung tersungging di bibirnya. "Bagaimana menurutmu?"


Sean mengerti dengan maksud smirk itu. Pasti Daddynya sudah bertemu dengan Alice. "Maksud Daddy?" Tanya Sean dengan kening yang berkerut, heran.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan sekretaris barumu yang bernama Alice itu?"


Sean menghela nafasnya pelan. "Aku tidak peduli itu Daddy. Mau dia Raya, Alice ataupun orang asing yang kebetulan berwajah mirip dengan Raya, aku tidak peduli itu. Aku sudah memiliki istri dan aku sangat mencintainya. Aku tidak akan bodoh untuk menghancurkan perempuan yang aku sayang hanya gara-gara masa lalu yang tiba-tiba datang menyapa. Dan itu juga sudah bukan urusan ku. Istriku lebih cantik daripada dirinya dan istriku lebih berharga daripada apapun. Aku juga tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Cukup waktu itu aku berbuat kesalahan fatal karna masa lalu. Aku tak ingin melakukannya lagi." Jawab Sean dengan serius. Apapun yang berkaitan dengan istrinya, Sean tak akan main-main..


"Good boy. Itu baru anak Daddy." Puji Elden dengan tersenyum tipis.


Sean menyeringai tipis mendengar pujian Elden. "Ada apa Daddy kesini?" Kata Sean dengan menatap wajah Elden. Bukankah tadi bilangnya jam sembilan? Inikan masih jam setengah sembilan. Padahal masih kurang tiga puluh menit lagi.

__ADS_1


Lantas Elden langsung berjalan ke arah sofa dan duduk di sofa empuk itu dengan menggulung lengan kemejanya. Memperlihatkan otot-otot tangan yang terbentuk nyaris sempurna. "Ada yang ingin Daddy bicarakan mengenai Geng Mafia Crowned Eagle dengan Geng Mafia The King Of Blood." Ujar Elden dengan menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Lalu, Sean bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke sofa dan duduk berhadapan dengan Elden. "Kenapa Daddy ingin membahas itu?" Tanya Sean heran. Karena setelah sekian lama, baru kali ini Elden membahas Geng Mafianya dan Geng Mafia The King Of Mafia.


"Memangnya kenapa kalau Daddy bertanya son? Apakah itu salah?" Ucap Elden dengan senyum miring yang tersungging di bibirnya.


Sean memalingkan wajahnya. Berusaha mengontrol mulutnya agar tidak mengumpat.


"Kenapa kalian tidak saling bekerjasama? Bukankah itu baik? Kalian bisa saling mendukung satu sama lain dan kalian bisa saling memperkuat posisi kalian satu sama lain."


Sean menggelng tidak setuju. "Itu buruk Dad. Menurutku itu bukan ide yang bagus. Mengingat hubungan ku dengan Garvin itu tidak baik."


Elden menghela nafasnya pelan. "Masih karena masalah itu?"


Sean terdiam lalu menjawabnya dengan aura dingin yang memancar dari tubuhnya. "Daddy tidak perlu bertanya. Daddy pasti tau jawabannya."


"Iya Daddy tau. Tapi apa salahnya jika mencoba dahulu?" Bujuk Elden dengan menyesap minuman yang telah tersedia di meja.


"Geng Mafia kita berbeda Dad. Geng Mafia Crowned Eagle dan Geng Mafia The King Of Blood itu adalah 2 hal yang berbeda. Bagaikan minyak dan air. Mereka tidak bisa disatukan. Aku tau jika dunia Mafia memang keras. Tapi isi dari geng Garvin itu terlalu gelap dan kejam. Apalagi anggota intinya. Mereka semua dikenal sebagai orang paling ditakuti. Dan aku paling tidak suka dengan Lucas. Dia adalah buronan negara."


Elden menghela nafasnya pelan. "Yasudah. Setidaknya kalian jangan saling menyerang satu sama lain. Ingat, kalian berdua bersaudara." Ujar Elden berusaha mengingatkan anaknya.


"Saudara tiri Dad bukan saudara kandung." Ujar Sean dengan dingin.


***


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari

__ADS_1


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤


__ADS_2