
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Nick tersenyum puas mendengarnya. Setelah itu Nick berjalan mengambil sebuah kursi kayu. Diangkatnya kursi kayu dan..
Bug Bug Bug
Dipukulnya seluruh tubuh Peter dengan menggunakan kursi kayu itu hingga mati.
"Rasakan itu. Kau telah melukai perempuan yang aku cintai. Maka kau harus menerimanya sepuluh kali lipat."
Darah Peter hingga muncrat ke wajah Nick. Namun, sayangnya Nick tidak peduli itu. Yang ia lakukan sekarang hanyalah ingin membunuh orang yang menjadi sumber kesakitan perempuan yang ia cintai.
Damian bergidik ngeri melihat kondisi Peter sekarang. Sedangkan Nick tersenyum puas melihatnya.
"Tidak ku sangka ternyata kau bisa sesadis ini Nick." Ujar Damian menanggapi apa yang dilakukan Nick tadi sambil bertepuk tangan.
Nick menatap puas kondisi Peter yang mengenaskan. Tubuhnya dipenuhi sayatan dengan tangan yang patah dan juga kaki yang tidak sesuai dengan kondisinya. "Ingin rasanya aku mengeluarkan seluruh organ-orang di tubuhnya."
Damian yang mendengar itu menjadi heran dengan Nick yang sekarang. Bukankah yang psycopath di Geng Mafia Crowned Eagle ini adalah dirinya? Tapi kenapa yang terlihat menyeramkan itu Nick? Apa yang mengubah sahabatnya menjadi seperti ini?
Drrtt Drttt
Ponsel Damian berdering. Dikeluarkannya ponsel miliknya yang ada didalam saku celananya. Damian kira istrinya yang menelfon nya. Ternyata bukan. Damian bisa bernafas dengan lega.
"Ada apa?" Tanya Damian membuka pembicaraan.
"......"
"Baiklah. Sisanya akan aku urus." Jawab Damian.
Setelah itu Damian memasukkan kembali ponselnya setelah menyudahi acara menelfon nya.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya Nick?" Tanya Damian.
Tubuh Nick berbalik dan berjalan menjauhi jasad Peter. Dibersihkan tangannya dengan sapu tangan miliknya. "Kita bakar rumah ini. Kita buat seolah-olah ini seperti sebuah tragedi kebakaran."
"Ternyata kau cerdas juga."
Nick dan Damian yang mendengar suara langkah kaki dari arah tangga langsung menoleh. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Nick dengan menatap James yabg membawa sebuah kardus. "Mengambil barang pribadi milik Raya."
"Kita harus segera keluar dari sini. Biar anak buahku yang mengurusnya." Kata Nick dengan segera menghubungi anak buahnya.
Setelah itu Damian, James dan Nick berjalan keluar dari rumah Raya.
Ternyata disana hanya ada Darren yang sedang menunggunya. "Apa yang kau lakukan disini? Kemana perginya Sean?" Tanya Nick.
__ADS_1
"Sean sudah pulang. Katanya Sean sudah merindukan istrinya." Jawab Darren dengan menegakkan tubuhnya. "Apa kalian sudah selesai?" Tanya Darren lagi sambil melihat kondisi Nick yang terlihat sangat berbeda.
"Sudah. Sisanya anak buah Nick yang akan mengurusnya." Sahut Damian yang diangguki oleh Nick.
"Lalu, perempuan yang bernama Flow kau kemanakan?" Tanya Darren ketika baru mengingatnya.
"Akan aku jadikan sebagai salah satu koleksiku." Jawab Nick dengan senyum iblisnya.
"Terserah kau."
"Kita melupakan satu hal, kemana perginya perempuan yang bernama Alice?" Kini James mulai bersuara.
Lantas Darren meneggakan tubuhnya. "Itu akan aku urus. Dia sedang melarikan diri." Jawabnya.
Setelah itu Damian, Darren dan Nick pergi meninggalkan halaman rumah Raya. Begitupun juga dengan James yang ikut pergi meninggalkan halaman rumah Raya.
Kini beberapa anak buah Nick datang. Mereka langsung melaksanakan tugas yabg diperintahkan oleh tuannya. Tidak lupa juga memindahkan tubuh gadis yang berusia 17 tahun itu kedalam mobil dan membawanya pulang ke mansion pribadi Nick.
Rumah itu langsung mereka bakar habis hingga tidak menyisakan barang bukti.
Sesuai perintah Nick, mereka buat itu seperti sebuah tragedi kebakaran.
Bahkan jasad Peter dan Ava sudah tidak berbentuk secara utuh lagi.
***
Sean kini sampai di mansion nya. Jam 4 pagi Sean baru sampai di mansion nya.
Sean segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi tamu.
"Tunggu pembalasanku Derrick." Desisnya pelan. Tangannya mengepal kuat hingga jari-jarinya memutih.
Dua puluh menit kemudian Sean sudah menyelesaikan acara mandinya.
Dengan menggunakan celana pendek tanpa atasan Sean berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika Roy datang menghampirinya. "Selamat malam Tuan." Sapa Roy dengan hormat.
Sean hanya diam menatap Roy.
"Tadi nona Dara terbangun dan mencari tuan. Sepertinya nona tadi terlihat habis menangis."
"Kau bisa lanjut bekerja." Ujar Sean menanggapi laporan Roy.
"Baik tuan."
Dengan langkah lebarnya Sean segera berjalan menuju kamarnya. Entahlah Sean masih tidak ingin terlalu banyak bicara dengan Roy.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Sesuai yang ia duga sebelumnya, sekarang istrinya tengah tidur terlelap memunggunginya.
Dengan gerakan hati-hati Sean naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di samping istrinya.
Dipeluknya tubuh istrinya dan di dekapnya hangat. Lalu dikecupnya kepala belakang istrinya. "Aku sayang kamu. Mimpi indah sayang." Bisiknya pelan dengan suaranya yang lembut.
Dara yang mendengar bisikan lembut itu, kedua bola matanya langsung terbuka lebar. Sedari tadi Dara tidak bisa tertidur. Tubuhnya langsung berbalik dan menghadap ke arah suaminya.
"Kemana saja?" Tanya Dara dengan nada yang merajuk lucu. "Kenapa kau pergi tidak bilang padaku? Apakah kamu ingin membuatku janda?" Cercah Dara dengan menatap wajah suaminya.
__ADS_1
Sean langsung tertawa renyah di buatnya. "Tadi aku ada urusan penting sayang. Dan ingat, aku tidak akan pernah membuat mu janda. Kamu ada aku."
"Hm.."
"Apakah kamu ingin sesuatu?" Bujuk Sean dengan mengusap pipi istrinya.
Dara yang mendengar perkataan suaminya itu langsung mendekatkan wajahnya dengan Sean. Bahkan Dara bisa merasakan hembusan nafas hangat suaminya.Sebuah ide cemerlang terlintas di otaknya. "Aku ingin proyek tunggal putra kita berhasil." Bisik Dara dengan meniup pelan telinga suaminya.
Seketika Sean merasakan ada yang mengeras di bawah sana.
Ada yang keras tapi bukan baja.
"Baiklah jika itu mau mu sayang. Apapun untuk istriku tersayang." Bisiknya pelan dan dengan gerakan cepat Sean langsung mengukung tubuh mungil istrinya.
"Mari kita buat berhasil proyek tunggal putra kita dan nanti kita beri nama Kenzo Julian Crishtian." Ujar Sean dengan seraya mengecupi wajah istrinya.
Seketika wajah Dara memerah di buatnya. Sebelum melakukan hubungan intim yang lebih jauh, Dara menahan dada bidang suaminya dengan kedua tangannya. "Kita belum tau jenis kelamin bayi kita. Kenapa kamu langsung memberikan nama?" Tanya Dara dengan menatap wajah suaminya yang telah di liputi gairah.
Ditenggelamkannya wajahnya di ceruk leher Dara. "Karena aku tau, jika anak kita akan setangguh dan sekuat Daddynya." Jawab Sean dengan menggigit pelan leher Dara. Membuat jejek kepemilikan disana.
Hal itu sukses membuat Dara mengerang dan mendesah tertahan. Kalau seperti ini Dara ingin memimpin permainan seperti kemarin!
"Mari kita mulai proyek tunggal putra kita hingga pagi sayang."
Dengan tersenyum menggoda Dara mengusap dada bidang suaminya hingga ke roti sobek milik suaminya. "Mari kita lakukan."
***
HARI INI AKU AKAN DOUBLE UP! CEK LAGI JAM 11 SIANG YA 😊🥰 PART BARUNYA AKU UP JAM 11 SIANG ❤️
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤
__ADS_1