
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Dara langsung terbangun dari tidurnya dengan memegang erat kalung yang selalu bertengger manis dilehernya.
"Bi Marta, apa kabar disana? Apa bibi baik-baik saja?" Lirihnya pelan dengan memegang erat kalung miliknya.
Dara terdiam di atas tempat tidurnya. Memikirkan semuanya.
Ditekuknya lutut miliknya dan dipeluknya erat kedua lututnya. Wajahnya ia tenggelamkan di kedua lututnya dengan terisak pelan.
Rasa rindu terhadap kedua orangtuanya mulai datang lagi. "Ayah, bunda. Hiks!" Isaknya pelan.
Buliran kristal di kedua bola matanya semakin mengalir begitu deras bagaikan hujan yang disertai badai. Tubuhnya bergetar hebat. Jika kalian di posisi Dara mungkin akan seperti Dara.
Di umurnya yang genap 20 tahun waktu itu, di saat itu jugalah Dara harus kehilangan orang yang sangat ia sayangi. Dara harus rela kehilangan kedua orangtuanya dan juga maid serta orang-orang yang selama itu mengisi hari-harinya.
"Hiks! Ayah.. Ayah.." Isaknya pelan. "Aku rindu Ayah, bunda. Hiks!"
Kedua matanya sembab dengan hidung yang memerah karena menangis. Sungguh, Dara benar-benar rindu dengan kedua orang tuanya. Rindu dengan kebersamaan keluarganya.
Hingga kilasan masa lalu datang menghampirinya.
Kenangan indah yang selama ini tercipta bersama kedua orangtuanya.
Louis Claire merupakan sosok ayah yang sangat di idolakan oleh semua teman-temannya. Sosok ayah pekerja keras dan begitu mencintai anak dan istrinya. Sesibuk apapun ayahnya dipekerjaanya, ayahnya pasti selalu meluangkan waktu untuk bersama keluarganya. Untuk menemaninya belanja, bermain dan menemani bundanya.
Sedangkan ibunya yang bernama Marshel Claire adalah sosok ibu bagaikan malaikat. Begitu lembut dan cantik. Ramah dan juga suka menolong orang disekitarnya. Seorang perempuan berhati malaikat yang selalu memberinya nasehat yang baik.
Tapi kenapa? Kenapa ada orang yang membenci ayahnya? Ibunya? dan keluarganya? Kenapa orang lain menginginkan kematian ayahnya?
Ayahnya selama ini baik. Tidak hanya pada keluarga, tapi juga baik dengan seluruh pekerja yang bekerja di perusahaan ayahnya.
Iri?
Apa yang harus di irikan dari keluarganya? Bukankah selama ini ayahnya bekerja keras sendiri untuk meraih kesuksesannya? Tapi kenapa? Kenapa harus ayahnya?
Dara menggeleng pelan. Kepalanya mendongak dengan menatap atap kamarnya yang terlihat begitu indah.
Hatinya berdenyut sakit ketika mengingat suara tembakan yang menewaskan kedua orang tuanya.
Suara tembakan timah panas.
__ADS_1
Suara langkah kaki itu.
Dan jangan lupakan jeritan kesakitan dan permohonan ampun yang masih terekam jelas di otaknya.
Air matanya semakin deras membasahi kedua bola matanya.
Dara masih mengingat betul perkataan ayahnya padanya "Jadilah perempuan tangguh yang tidak bergantung pada siapapun. Jadilah perempuan kuat yang bisa membantu orang sekitar."
Yaps, Dara masih mengingat betul perkataan ayahnya waktu itu. Ayahnya mengatakannya dengan tersenyum padanya. Menatapnya penuh kelembutan dan membelai lembut puncak kepalanya.
Namu, sekarang apa? Hanya kekosongan yang Dara rasakan sekarang.
Apalagi bundanya. Bundanya adalah sosok perempuan yang selama ini Dara idolakan.
Dara masih mengingat betul perkataan bundanya waktu itu "Jika kamu menjadi bunga, jadilah bunga tulip yang berada di puncak gunung yang sulit di dapatkan tapi beruntung bagi penemunya. Jangan jadi bunga mawar yang berada di puncak gunung. Meskipun sulit di dapatkan tapi akan melukai orang yang megenggamnya."
"Hiks!" Tangisnya semakin pecah.
Dara paling lemah jika dihadapkan dengan orangtuanya. Dara selalu lemah jika dihadapkan dengan orang yang ia cintai.
Di dalam kamar itu, Dara menangis seorang diri. Memeluk tubuh mungilnya sendiri.
Lalu, setelah dirasa mulai tenang, Dara mengusap air matinya dengan jemarinya.
"Hubby kemana?" Monolog Dara pada dirinya sendiri ketika menyadari jika tidak ada suaminya yang berada di sampingnya.
Tangisnya semakin pecah ketika kedua bola matanya yang indah itu mengedarkan pandangan ke sepenjuru ruangan kamar.
Nihil. Suaminya tidak ada sama sekali.
Apa Sean selingkuh?
Atau Sean sedang pergi ke Klub?
Apa suaminya sedang sibuk bekerja?
Tidak. Ini sudah tengah malam. Apa mungkin suaminya sedang mencari Alice?
Alice? Dasar perempuan menyebalkan! Kenapa dia datang disaat kebahagiaan akan segera ia raih?!
Tapi tenang saja Dara. Suami mu adalah tipe suami setia.
Tapi...
Se-setianya laki-laki jika berhadapan dengan orang yang memiliki wajah cantik mirip seperti mantannya, pasti akan goyah. Meskipun sedikit. Tapi tetap saja pasti goyah.
Apakah suaminya juga seperti itu?!
Jika iya! Lihat saja, Dara akan bersama Nick atau bersama Garvin.
Itu adalah cara paling ampuh untuk balas dendam yaitu dengan dekat mendekati seseorang yang paling dicemburui Sean.
Diusapnya kedua bola matanya yang memerah dengan menggunakan punggung tangannya.
__ADS_1
Dicepolnya ke atas rambutnya yang awalnya berantakan. Setelah itu Dara memutuskan untuk turun dari tempat tidurnya.
Dirapikannya baju tidur miliknya itu agar terlihat lebih rapi.
Setelah itu dengan langkahnya yang mungil Dara berjalan keluar kamarnya.
Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri ketika mendapati dua bodyguard yang sedang menjaga di depan pintu kamarnya.
"Sean kemana?" Tanya Dara pada kedua bodyguard itu.
Sontak saja suara dari belakang tubuh mereka yang datang secara tiba-tiba membuat mereka berdua langsung terlonjak kaget. Mungkin terlalu fokus dalam menjalankan tugasnya membuat mereka langsung terkejut.
Dara yang melihat dua bodyguard itu terkejut langsung tersenyum canggung. Dara merasa bersalah karena telah membuat mereka terkejut.
"Maafkan aku karena membuat kalian berdua terkejut." Ucap Dara dengan tersenyum tulus.
"Iya nona. Tidak apa-apa. Kami baik-baik saja." Jawab salah satu bodyguard itu.
Dara menenggakan tubuhnya dan berjalan keluar kamar. Setelah itu berdiri tepat di depan kedua bodyguard itu. "Apa kalian tau Sean sedang ada dimana?" Tanya Dara lagi karena tadi tidak mendapatkan jawaban.
"Tuan sedang pergi untuk melakukan rapat bersama Geng Mafia Crowned Eagle, nona. Kemungkinan besok pagi tuan baru pulang. Tadi tuan berpesan jika kami harus menjaga nona."
Dara mengangguk, mengerti. "Baiklah. Terimakasih."
Lalu, di tempat yang berbeda terlihat sosok laki-laki tengah duduk menghadap ke jendela besar.
Ditangan kanannya memegang sebuah pisau lipat sedangkan di tangan kirinya memegang sebuah foto seorang laki-laki tengah tersenyum ke arah kamera dengan merangkul seorang perempuan dengan tersenyum gembira. Foto itu diambil disebuah taman yang indah.
Hingga sebuah seringai menakutkan tersungging di bibir tipisnya. "Kau akan mati ditanganku." Ujarnya dengan menatap penuh kebencian kearah foto yang ia genggam. Setelah itu tangannya dengan gerakan cepat menusuk tepat di jantung laki-laki yang berada di foto itu. Dan lagi, sebuah smirk terbit di bibirnya. "Kau akan mati ditanganku."
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
__ADS_1
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤