
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Sudah tiga hari Dara rawat inap di rumah sakit. Begitupun juga dengan suaminya. Hanya saja suaminya sampai sekarang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
Seperti biasa pagi ini Dara di bantu oleh Nick untuk menuju ke ruang rawat inap suaminya dengan menggunakan kursi roda. "Nick.."
Nick yang di panggil langsung tersenyum. Meskipun perempuan yang ia cintai tidak melihat wajahnya. Tetap saja Nick tersenyum. "Iya Dara?"
"Kenapa kamu tidak menjalin hubungan dengan perempuan?" Tanya Dara berusaha memberanikan diri. Meskipun perasaanya merasa tidak enak. Beberapa hari ini Dara baru menyadari jika Nick menyukainya. Mulai dari tatapannya, sikapnya hingga perlakuan Nick selama ini menunjukkan jika Nick diam-diam menyukainya. Dan sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk membicarakannya.
"Aku masih belum mau menjalin hubungan dengan perempuan lain diluar sana Dara. Aku sedang ingin menikmati masa lajang ku." Jawab Nick. Faktanya, Nick tidak menjalin hubungan dengan perempuan lain di luar sana adalah Dara. Nick masih begitu mencintai perempuan di hadapannya.
"Benarkah? Padahal aku ingin merasakan bagaimana rasanya berkumpul dengan istri mafia. Jika perlu aku ingin mengadakan arisan, minum teh, memasak bersama dan jalan-jalan bersama. Mungkin itu akan menyenangkan." Ujar Dara berusaha mencairkan suasana yang terkesan canggung.
Nick yang mendengar itu berusaha tersenyum. "Apakah kamu ingin mewujudkan itu?" Tanya Nick memastikan.
Dara mengangguk semangat. "Iya. Aku benar-benar ingin merasakannya."
"Baiklah. Mungkin aku akan menikah dalam beberapa bulan lagi. Jadi kamu bisa berkumpul dengan istri-istri mafia. Dan kamu bisa melakukan apapun yang kamu ingin kan itu." Jawab Nick. Apapun akan ia lakukan untuk membuat perempuan yang ia cintai bahagia.
Deg
Ada perasaan yang mengganjal ketika Nick mengatakannya tadi. "Hm." Dara hanya bisa berdehem pelan dan mengangguk. Dara tidak tau harus berkata apa.
Lalu sebuah pertanyaan muncul lagi di benaknya. "Nick semalam aku sempat mendengar obrolan kalian dengan Daddy, apakah benar jika yang melakukan pembantaian itu adalah Derrick, kekasih Rara?"
Langkah Nick langsung terhenti. Tepat di sebuah lorong rumah sakit menuju ruang VIP Sean.
Nick lantas berjalan dan jongkok di hadapan Dara. "Iya kamu benar. Pelaku pembantaian itu adalah Derrick. Baik di mansion Sean maupun pembantaian yang terjadi di keluarga kamu adalah Derrick."
Tubuh Dara membeku. Bibirnya terasa kelu. "Be--narkah? Bagaimana bisa itu terjadi?" Itulah yang Dara pertanyakan sekarang.
"Kejadiannya itu cukup panjang. Tapi ini.." Nick merogoh saku jaketnya dan dikeluarkannya sebuah kalung dengan permata berlian. Disana terdapat sebuah kunci kecil.
"Ini kalung milik ku yang di rebut Alice bukan?" Tanya Dara memastikannya.
Nick mengangguk.
"Hiks! Terimakasih Nick. Terimakasih." Ujar Dara dengan menangis terharu. Ini adalah barang peninggalan terakhir dari mendiang ibunya. Barang satu-satunya yang ia miliki.
__ADS_1
Nick tersenyum melihatnya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat perempuan yang ia cintai menangis bahagia karena nya. "Jangan menangis Dara. Aku mengambilnya karena aku tau ini adalah barang yang berharga untuk mu."
Dara mengangguk. Lalu di pakainya kalung itu ke leher jenjangnya. Bahkan kaitan kalung yang rusak juga telah Nick perbaiki. "Aku sangat menyukainya." Kata Dara dengan menatap tepat kedua bola mata Nick. Senyuman manis tersungging di bibirnya. Kedua bola matanya sangat jelas terpancar kebahagiaan.
"Sama-sama Dara." Jawab Nick dengan menagacak pelan puncak kepala Dara.
"Jangan di acak-acak Nick. Kau membuat rambut ku berantakan." Dengan kesal Dara mengatakannya. Namun, Nick hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Cukup melihat kamu tersenyum saja sudah cukup bagiku Dara. Meskipun aku tidak bisa memiliki mu, tapi setidaknya aku masih bisa menjaga mu dari jauh." Kata Nick dalam hatinya.
"Tunggu, lalu bagaimana dengan Rara? Apakah dia mengetahuinya Nick?" Kini perasaan khawatir menghantuinya. Dara tau jika sahabat nya itu begitu mencintai kekasih nya. "Apakah Rara ikut terlibat?" Tiba-tiba pertanyaan itu muncul.
Nick menggeleng pelan. "Rara tidak tau apapun mengenai pembantaian keluarga mu Dara. Bahkan peristiwa yang kemarin dia tidak terlibat sama sekali. Hanya saja, Rara menjadi jembatan dalam peristiwa pembantaian keluarga mu." Ucap Nick menjelaskannya.
"Terimakasih infonya Nick."
"Sama-sama."
Setelah itu Nick memutuskan untuk bangkit dari posisinya tadi. "Mau ke Sean sekarang?"
"Hm." Jawab Dara dengan mengangguk.
Lantas Nick langsung mendorong kursi roda Dara. Mendorongnya pelan sambil menikmati setiap detik kebersamaan nya dengan perempuan yang ia cintai.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka. Disana ada Darren, Elden dan juga Lexa yang tengah menemani suaminya.
Nick mengangguk menanggapinya. Mau menjawab tapi Nick merasa tidak enak dengan tatapan Elden yang tengah menatap tajam ke arahnya. Iya, Nick faham dengan tatapan itu. Tatapan kecemburuan.
Setelah itu kursi roda Dara beralih ke tangan Lexa. "Apa kamu sudah makan Dara?" Tanya Lexa dengan penuh perhatian.
"Sudah Mom." Jawab Dara.
"Apakah kamu ingin sesuatu? Makanan atau minuman?" Tanya Lexa lagi.
Dara berfikir sejenak. "Aku ingin minum susu sapi Mom." Jawab Dara dengan malu-malu.
Darren yang mendengar itu langsung bangkit dari duduknya. "Kebetulan sekali. Aku juga akan keluar untuk mencari makanan. Biar aku yang membelikannya." Dengan wajah yang datar Darren mengatakannya.
Lexa yang mendengar itu langsung mengangguk. "Belikan 2 liter susu Darren. Jangan lupa juga buah-buahan."
"Baik." Jawab Darren. Setelah itu Darren berjalan keluar ruangan.
"Dara.."
Suara yang terdengar lemah itu membuat semua pandangan langsung tertuju ke arah Sean.
Dengan cepat Lexa mendorong kursi Dara untuk mendekat ke arah Sean.
"Iya hubby. Ini aku." Jawab Dara dengan megenggam tangan Sean.
__ADS_1
"Aku akan memanggil Albert." Kata Elden.
Dengan perlahan kedua matanya terbuka. Namun karena silau dengan sinar lampu membuat Sean langsung menutup kedua matanya dengan menggunakan punggung tangannya.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Dara khawatir ketika melihat suaminya.
Sean menggeleng pelan. "Tidak ada sayang."
Kilasan kejadian malam itu langsung berputar di otak Sean. Tangannya mengepal erat. Kebencian dan dendam menyelimuti perasaanya. Apalagi mengingat Roy, tangan kanannya. Hal itu sukses membuat kebencian Sean terhadap Alice dan Daniel semakin memuncak. Apalagi Geng Mafia The King Of Blood. "Geng Mafia The King Of Blood, aku semakin membencinya." Ucap Sean dalam hatinya.
***
-Sean Crishtian
- Nick Albert
- Darren Kendrick
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
@nickalbertreal
@raraagathareal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤
__ADS_1