
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Nick mendengus geli. "Jangan terlalu menganggap remeh orang lain. Dia atas langit masih ada langit." Ucap Nick dengan tersenyum ramah. Meskipun berbanding terbalik dengan maknanya.
"Oh jadi kau yang bernama Nick Albert? Yang bekerjasama dengan Derrick?" Kini Marvin mulai angkat bicara.
"Tapi sayang tikus bodoh itu di jebak." Sahut Alfa dengan menatap wajah Nick. Tatapan yang tak bisa di artikan.
"Jangan membuang-buang waktu ku. Ada apa kedatangan kalian malam ini?" Sean yang sudah jengah dengan situasi ini lantas menegakkan tubuhnya.
"Apakah salah jika aku mengunjungi saudara tiri ku?" Ujar Garvin menanggapi perkataan Sean tadi.
Elden yang mendengar hal itu langsung menghela nafasnya pelan. "Itu tidak salah. Tapi kenapa kau harus mengajak kawan-kawan mu?" Tanya Elden dengan menatap satu-persatu sahabat Garvin. Memang benar, informasi yang telah Rafael dan Darren cari memang benar adanya. Mereka semua adalah orang-orang yang tidak bisa di anggap remeh sama sekali. Mereka bukan musuh yang semudah itu.
Daniel yang mendengar perkataan Elden langsung mendengus geli. "Bukankah kalian audah mengetahui ke datangan kita?" Jawab Daniel.
"Iya bahkan Darren mencari informasi tentang kita." Sahut Marvin sambil menyeringai tipis.
"Aku tidak pernah menyangka jika mereka sepenasaran itu dengan masa lalu kita. Atau mungkin mencari titik kelemahan kita?" Ujar Alfa sambil meminum minumannya.
__ADS_1
Lucas yang melihat Alfa meminum-minumannya lantas juga ikut-ikutan. Sontak saja apa yang di lakukan Lucas membuat semua mata tertuju padanya. "Aku juga haus sedari tadi. Apalagi mendengar kalian berdebat. Itu membuat ku merasa bosan." Ucap Lucas tanpa dosa.
"Kalian keluarlah." Dengan suara yang terdengar dingin Garvin mengatakannya. Tentu saja dengan patuh mereka langsung melakukannya.
Setelah itu Sean juga menatap ke tiga sahabatnya. "Kalian juga keluarlah." Titah Sean dengan suara yang tegas.
Damian, Darren dan Nick hanya bisa mengikuti titah Sean. "Ingat Nick jangan memancing keributan." Ucap Sean lagi.
Nick yang mengerti akan hal itu hanya bisa tersenyum miring. "Kalau mereka yang memulai, jangan salah kan aku." Jawab Nick sambil berjalan melenggang pergi.
Kini di ruangan itu hanya ada Elden, Sean dan Garvin.
Suasana hening dan terasa dingin.
"Daddy ingin berbicara ke kalian berdua." Ucap Elden memulai pembicaraan serius.
Garvin dengan tenang hanya duduk bersandar di sofa. Wibawa dan aura sebagai seorang ketua Gengster Mafia di Dunia sangat terlihat. Apalagi tato di seluruh tubuhnya. Hal itu semakin memperkuat jati dirinya sebagai ketua Gengster Mafia di Dunia.
"Tidak bisakah kalian sudahi perselisihan kalian?" Ujar Elden dengan menatap satu persatu wajah Sean dan Garvin..
Garvin yang mendengar hal itu langsung tertawa renyah. "Sudahi? Apa Daddy tidak salah bicara?" Ujar Garvin dengan menatap wajah Elden.
"Sudah ku bilang Dad, kami memang tidak cocok untuk di jadikan saudara." Kata Sean sambil menatap wajah Daddy nya.
"Kau benar. Kita memang tidak cocok untuk di jadikan saudara. Kita cocok nya di jadikan musuh." Dengan wajahnya yang datar Garvin mengatakan. "Kita cocok untuk di jadikan lawan. Bukankah itu seru?" Tambahnya lagi.
Elden menghela nafasnya pelan. "Pikirkan Mommy kalian. Bukankah kalian menyayangi mommy kalian?" Kata Elden dengan lembut. Berusaha menjadi air antara Sean dan Garvin.
Sean langsung bangkit adri duduknya. "Aku sudah memikirkan perasaan Mommy, Dad. Tapi, apakah dia memikirkan perasaan Mommy?" Emosi melingkupinya. Rahangnya mengeras. "Oh, ku rasa tidak .Bahkan dia saja tidak peduli ketika Mansion Daddy di serang. Dia hanya duduk diam menikmatinya." Tangannya mengepal kuat. Tatapan menajam. Aura dingin mulai kental terasa.
"Kau tidak tau apa-apa." Ucap Garvin sambil menatap angkuh ke arah Sean. "Kau masih terlalu kecil untuk mengetahuinya." Dengan tenang Garvin mengatakannya.
__ADS_1
Sean yang tidak terima dengan perkataan Garvin langsung berjalan menghampiri Garvin dengan langkahnya yang lebar. Di cengkram dengan kuat kerah jaket Garvin hingga membuat Garvin tertarik dan berdiri dari posisinya. "Sudah berapa kali ku bilang. Aku bukan anak kecil. Aku bukan anak kecil yang dulunya sering kau bodohin." Dengan nada penuh penekanan Sean mengatakannya.
Tidak ada jarak di antara mereka. Wajah mereka bahkan saling berdekatan satu sama lain. Elden yang melihat akan hal itu langsung mengusap wajahnya kasar. "Jika kalian tidak bisa mengontrol emosi kalian jangan salahkan sosok Daddy yang dulu datang kembali."
Dengan kasar Sean langsung melepas cengkramannya.
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
@nickalbertreal
@raraagathareal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QnA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊