
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Mommy serahkan padamu Dara. Mommy percaya padamu." Ucap Lexa dengan menatap penuh harap ke arah Dara yang sedang menatapnya.
Dara hanya diam, mengangguk, mengiyakan perkataan Mommy Sean. Meskipun sebenarnya dirinya tidak yakin apa dirinya benar-benar bisa melakukannya atau tidak.
Setelah itu, Lexa dan Elden berjalan keluar kamar. Menutup pintu kamar, meninggalkan Dara sendiri di dalam kamar bersama Sean yang berada di dalam kamar mandi.
Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan apapun.
Dara menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Sean, ini aku." Ucap Dara dengan suara yang sedikit lebih keras. Ditatapnya pintu kamar mandi yang terkunci rapat itu. Kira-kira apa yang sedang Sean lakukan di dalam sana?
Tubuh Sean mematung mendengarnya. Suara istrinya. Suara yang ia rindukan selama ini.
"Aku akan membantumu." Kata Dara lagi. Jemarinya saling bertautan satu sama lain. "Akan aku usahakan untuk membantumu." Tambahnya.
Sean menggeram marah. Sungguh, kenapa dirinya bisa selemah ini untuk mengalahkan gairahnya karena obat-obatan itu.
"Sean, buka pintunya. Sebelum aku berubah pikiran Sean. Jika aku sudah berubah pikiran aku akan benar-benar tidak akan membantumu Sean. Aku akan membiarkanmu."
Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Dara mulai gemas sekarang. Apa sesulit itu untuk menjawab perkataannya?
"Akan aku hitung sampai sepuluh."
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Sean berfikir. Benar-benar berfikir. Sean takut jika melukai hati istri kecilnya lagi. Dan Sean tidak mau menyakiti perasaan Dara lagi.
"Empat."
"Lima."
"Enam."
Tapi, Sean juga benar-benar membutuhkan itu. Sial! Kenapa jadi rumit sekali gara-gara gairahnya ini?! Ini semua gara-gara Mommy-nya!
"Tujuh."
"Delapan."
Dara menghela nafasnya. Apa suaminya baik-baik saja di dalam sana?
"Sembilan."
"Sep--."
Ceklek
__ADS_1
Pintu kamar terbuka. Disana Sean berdiri dengan keadaan yang terlihat sangat kacau. Dengan rambut yang acak-acakan dan tubuh yang basah karena berkeringat. Dan satu hal lagi, Sean sudah tidak memakai bajunya. Hanya memakai celana kainnya. Kapan suaminya melepas bajunya?
Dara yang melihat itu langsung menelan air ludahnya. Kenapa suasananya menjadi secanggung ini?!
Sean berjalan mendekati istrinya yang tengah duduk di kursi rodanya.
"Stop. Tunggu sebentar dulu." Ujar Dara tiba-tiba. Membuat Sean langsung menghentikan langkahnya. Sean menatap wajah istrinya dengan menaikan salah satu alisnya. Sean benar-benar sudah tidak bisa menahannya sekarang.
Sedangkan Dara berusaha menormalkan detak jantungnya. Rasa gugup menyelimuti dirinya. Meskipun Dara pernah melakukannya bersama Sean, tapi kali ini seperti terlihat berbeda. Apalagi setelah permasalahan yang ia hadapi bersama Sean. Hal itu semakin sukses membuat dirinya semakin gugup dan tidak percaya diri.
Dengan gugup, Dara merapikan rambutnya. Menarik nafasnya dalam-dalam dan ia hembuskan.
Di mata Sean, apa yang dikakukan oleh Dara terlihat seperti sedang menggodanya. Benar-benar membangunkan singa yang tertidur di dalam dirinya.
Dara memantapkan hatinya. Lalu, tatapannya langsung menatap kedua bola mata yang selama ini menorehkan luka di hatinya. "Baiklah, ayo kita lakukan Sean." Ujar Dara.
Sean langaung berjalan menghampiri istrinya. Setelah itu, digendongnya tubuh mungil istrinya. Dengan reflek Dara langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Sean.
"Sean, apa semenyakitkan itu?" Lirih Dara. Nafasnya berhembus di leher Sean. Membuat Sean harus berkali-kali untuk menahan umpatannya. Hal itu sukses membuat gairah Sean semakin terpancing.
Lalu, ditidurkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Dikukungnya tubuh mungil itu. Lalu, saat Sean akan mencium leher istrinya, Dara langsung menahan tubuhnya lagi dengan menggunakan kedua tangan mungilnya.
"Sebentar Sean. Tunggu dulu." Ujar Dara tiba-tiba.
Sean menatap wajah istrinya dengan menatap bertanya-tanya. "Ada apa sayang?" Suara Sean terdengar serak-serak basah yang membuatnya terdengar sangat sexy dan maskulin.
"Matikan dulu lampunya." Rajuk Dara. Dara benar-benar malu jika melakukannya dengan keadaan lampu yang menyala terang. Apalagi Dara sudah lama tidak melakukan spa atau melakukan perawatan ditubuhnya.
"Tapi sayang, lebih enak dengan lampu yang menyala. Jadi aku bisa melihatnya." Bantah Sean.
Dara memberengut kesal mendengar nada penolakan dari Sean. "Sean mau melakukannya atau tidak sama sekali?" Ucap Dara dengan nada yang mengancamnya.
Sean menghela nafasnya kasar. "Baiklah." Sean bangkit lalu berjalan mematikan lampu kamarnya.
Deg
Sean langsung menghampiri istrinya. Dara yang merasakan sentuhan ditangannya langsung memeluk leher Sean. "Ini terlalu gelap banget Sean! Aku takut tau." omel Dara.
"Kan kamu yang minta sayang. Lampu di matikan."
"Tapi jangan segelap ini Sean. Akukan takut dengan kegelapan Sean." Omel Dara dengan nada suara yang terkesan menggemaskan di pendengaran Sean.
Oke. Sean lebih baik mengalah.
Dinyalakannya salah satu lampu tidurnya.
Cahaya remang-remang langsung meghiasi kamar tidur Sean dan Dara.
"Sudah?" Tanya Sean dengan menatap wajah cantik Dara yang tengah ketakutan.
Dara mengangguk lucu.
"Jadi apa bisa kita melakukannya?" Tanya Sean.
"Iya Sean. Tapi pelan-pelan. Kalau aku bilang berhenti, berhenti."
Sean mengangguk.
"Deal."
"Deal sayang."
Setelah itu, Sean langsung mengecup kening istrinya. "Aku mencintaimu. Maafkan aku."
Deg
__ADS_1
Deg
Deg
Bibir Dara bungkam. Tidak tau harus menjawab apa.
Sean tersenyum melihatnya. "Tidak apa Dara. Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Tapi aku akan berusaha untuk berubah. Aku akan meyakinkanmu. Aku akan berushaa untuk menjadi yang terbaik untukmu."
Setelah itu dikecupnya seluruh wajah istrinya. Mulai dari kening, hidung, kedua pipinya lalu jatuh ke bibirnya.
Dara terbuai dengan ciuman itu. Sean benar-benar lihai melakukannya seperti orang yang pro.
Dibalasnya ciuman Sean dengan kaku.
Sean yang merasakan balasan di ciumannya langsung tersenyum. Hatinya bersorak senang. Meskipun terasa kaku, tapi jika istrinya yang melakukannya itu tampak sangat spesial untuknya.
Deru nafas mereka saling beradu satu sama lain.
"Apa kamu siap?"
Dara mengangguk mantap.
Lebih cepat, lebih baik dan lebih cepat selesai.
Hingga akhirnya malam itu dilewati dengan sangat indah.
Penyatuan dua tubuh yang saling mencintai terluhat sangt indah.
Sean yang tidak berhenti untuk menyebut namanya dan mengatakan I love you disetiap pelepasannya.
Sedangkan Dara hanya tersenyum melihatnya.
"I love you too."
45 menit kemudian.
"Sean sudah."
"Sebentar sayang, 10 menit lagi."
Namun 1 jam kemudian Sean tidak berhenti melakukannya. Tapi semakin semangat untuk melakukannya.
"Sean katanya sepuluh menit lagi. Ini sudah satu jam." Protes Dara dengan berusaha mendorong tubuh Sean yang mengukungnya.
"Nanggung sayang." Jawab Sean sambil terus semangat untuk melakukan aksinya.
"Ini sudah tengah malam!"
Namun, Sean tak menjawabnya.
Sean sudah berpuasa beberapa minggu ini. Setelah melakukan malam pertamanya dengan istrinya, Sean sudah tidak pernah melakukannya lagi.
"Sean kenapa kamu ngeselin?!"
"Iya sayang. Aku juga sayang banget sama kamu."
SEAN BERSUMPAH TAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN ISTRINYA LEPAS DARINYA!
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤