
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. ππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku π€
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya π
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata π€
Happy Reading
***
Note Penting! Wajib dengarkan lagu sedih sambil membaca part ini!
Jantung Sean seakan terpacu dua kali lipat. Nafasnya memburu. Wajahnya mulai pucat. Langkahnya tertatih. Namun sekali lagi Sean berusaha menguatkan dirinya.
Elden dan Darren berjalan terlebih dahulu di depannya. Sean berusaha menghilangkan rasa pusing yang menyerang kepalanya.
Lalu, sesampainya di depan pintu gudang, Elden dan Darren memberinya sebuah isyarat agar berhati-hati dalam mengambil langkah. Hal itu bertujuan agar keberadaan mereka tidak di ketahui oleh musuh di dalam sana.
Darren yang merupakan seorang sniper lantas menyiapkan pistol kesayangannya yang telah terisi penuh dengan peluru.
Sean berjalan mendekat ke arah Elden. Kedua bola matanya membulat sempurna ketika melihat istri kesayangannya jatuh bersimpuh dengan kaki yang terluka. Baju tidurnya lusuh dan kotor akibat lantai gudang yang kotor. Kedua bola matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata. Hatinya terasa remuk redam ketika melihatnya.
"Aku akan maju menyerang mereka. Sean kau selamatkan istrimu sedangkan kau Darren bantu kami dengan menembaki mereka dari jarak jauh." Titah Elden yang disetujui oleh Sean dan Darren.
"Bergerak sekarang." Instruksi dari Elden tadi lantas membuat Sean langsung berlari ke arah musuhnya. Begitupun juga dengan Elden yang langsung berlari dan melompati meja besar dan menendang dada musuhnya dengan menggunakan kakinya.
"Ayo maju kalian. Akan aku habisi kalian semua!" Ucap Elden dengan menyeringai tipis. Lantas musuhnya langsung maju menyerang Elden.
Roy yang merasa ada peluang lantas langsung memukul rahang musuhnya yang memeganginya. Membuat musuhnya langsung melepas cengkraman nya.
Alice yang melihat kedatangan Sean dan Elden sungguh terkejut. "Sial!" Lantas Alice segera berlari ke arah anak buah yang bisa melindunginya.
Dara yang mengerti itu langsung tersenyum. Masih ada harapan dirinya akan selamat. Apalagi ketika melihat suaminya yang datang menyelamatkannya. Dara bernafas lega ketika melihat keadaan suaminya yang baik-baik saja. "Sayang.." Ujar Sean dengan suara yang bergetar. "Terimakasih Tuhan karena kau telah memberiku kesempatan untuk melihat istriku." Ucap Sean dalam hati.
"Akhh!" Rintihan kesakitan lolos dari bibir mungil itu ketika dirinya berdiri dibantu suaminya.
"Sayang kaki kamu tertembak?!" Suaranya membentak. Namun, terdapat rasa khawatir yang melingkupi perasaan Sean.
"Aku tidak apa-apa Sean. Aku baik-baik saja." Jawab Dara dengan tersenyum. Meskipun kakinya sekarang tengah berdenyut sakit akan tetapi Dara berusaha menyembunyikannya. Wajahnya tersenyum dengan air mata yang meluncur deras dari kedua bola matanya. "Aku takut." Lirih Dara. Tubuhnya bergetar hebat. Dipeluknya tubuh suaminya.
Dor
Dor
Dor
Dari jauh Darren menembaki musuhnya dengan menggunakan pistol kesayangannya. Membantu Elden yang tengah bertarung sengit dengan 4 musuhnya.
Sean membalas pelukan itu dengan hangat. "Ayo sayang.." Ujar Sean dengan membantu istrinya berjalan.
Kondisi Dara yang sedang hamil besar itu membuatnya sedikit kesulitan. Pelan tapi pasti Sean membantu istrinya melangkah.
Namun sebuah suara instruksi membuat Sean berhenti melangkah dan langsung menoleh. Disana ada Alice yang tengah menatap remeh padanya.
"Mau sampai kapan kalian bermesraan di hadapanku?" Dengan santai Alice mengatakannya. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya ketika melihat tatapan tajam dari Sean. "Maju dan bunuh Sean sekarang!" Titah Alice kepada bawahannya.
Sean yang mengerti itu langsung melepas pelukannya. "Aku akan mengurusnya." Ucap Sean. Lalu dilepasnya pegangannya di tubuh istrinya. Dengan langkahnya yang lincah Sean berlari ke arah musuhnya.
Pertarungan sengit tidak bisa terelakkan lagi.
__ADS_1
Serangan demi serangan Sean lakukan demi mengalahkan musuhnya.
Wajahnya memucat. Keringat dingin dapat ia rasakan.
Dipukulnya wajah musuhnya dengan menggunakan kakinya hingga membuat musuhnya terjatuh. Setelah itu Sean beralih ke musuhnya yang lain.
Tubuh Dara bergetar takut ketika melihat perkelahian antara suaminya dengan musuhnya. Bunyi patahan tulang manusia terdengar ke seluruh penjuru ruangan.
Darren yang mengerti situasi ini adalah situasi yang tepat untuk menyelamatkan Dara, lantas Darren segera berjalan menghampiri Dara. Membantu Dara berjalan dan mengamankannya di luar gudang. "Kau tunggu disini Dara." Ujar Darren yang di angguki oleh Dara.
Kedua bola matanya masih menatap fokus ke arah Sean. Darren menjaga Dara dengan tetap waspada. Namun saat melihat luka tembakan di kaki Dara, lantas Darren mengeluarkan sapu tangan yang ia bawa. Dibungkus nya luka tembakan itu dengan menggunakan sapu tangan miliknya.
Dara hanya diam. Tidak berbicara apapun. Diusapnya perutnya yang buncit itu. "Kau kuat sayang. Daddy mu juga pasti kuat." Lirih Dara.
Kedua anak buah Alice yang menjadi lawan Sean telah kalah.
Alice menggigit bibirnya pelan. Alice merasa akan kalah. "Tidak. Aku tidak mau kalah." Itulah yang ada di pikiran Alice sekarang. "Jika Raya tidak bisa bersama Sean. Maka Sean juga tidak boleh bersama Dara."
Dengan tangan yang bergetar Alice menodongkan pistolnya ke arah Sean yang tengah fokus melawan musuhnya.
"Selamat tinggal Sean dan bersatulah dengan Raya disana."
Dor
Bunyi tembakan nyaring terdengar.
Tubuh Dara membeku sempurna. Kedua bola mata membulat. "Please, aku mohon. Jangan.. Jangan.."
Dara menggeleng pelan. Buliran kristal jatuh membasahi kedua bola matanya.
Bunga yang mekar mulai layu..
Bunga yang semulanya segar mulai mengering..
Bunga yang semula berwarna merah mulai menghitam..
Ternyata itu bukanlah sebuah angin lalu tapi itu semua adalah sebuah pertanda yang baru Dara sadari.
Tubuh Sean membeku sempurna. Elden langsung menoleh dan segera menghajar musuhnya dengan menggunakan balok kayu yang ia pegang.
Lalu, dengan penuh amarah Elden langsung berlari dan menyerang kedua anak buah Alice. Sedangkan Alice langsung melarikan diri.
"Jangan lari kau brengsek!" Umpat Elden.
Namun Alice mengabaikan itu. Baru saja sampai di pintu keluar. Langkah Alice langsung terhenti.
"Mau kemana kau?!" Disana ada Nick yang menghadang Alice dengan James yang berada di sebelahnya.
"Dasar perempuan gila!" Kini James yang bersuara. "Tidak ku sangka jika kau akan segila ini Alice."
Alice tersenyum tipis menanggapi perkataan Nick dan James.
"Kau baru menyadarinya James?" Tanya Alice.
Nick yang melihat perempuan yang ia cintai tengah terluka di sana sukses membuat Nick menggeram marah. Dengan kasar Nick menarik tubuh Alice lalu ia benturkan ke dinding gudang dengan kuat.
"Akhh!" Rintihan kesakitan keluar dari bibirnya. "Dasar pria gila!" Bentak Alice tidak terima.
"Iya aku gila. Bahkan aku lebih gila dari mu." Jawab Nick dengan seringai yang tersungging di bibirnya. "Sepertinya aku perlu mengingatkan satu hal pada mu Alice, jika Flow sedang bersama ku sekarang." Ujar Nick dengan berjalan mendekati Alice. Wajahnya ia dekatkan ke arah wajah Alice hingga nafasnya dapat Alice rasakan. "Ternyata Flow juga nikmat ketika aku mencicipinya. Meskipun tidak senikmat Rara. Namun, aku sedikit menyukainya. Bahkan dia melakukannya secara sukarela padaku. Itu membuatku sedikit bosan. Tapi setidaknya aku bisa menghancurkan Rara melalui Flow." Bisiknya. Kini wajah Nick bagaikan seorang iblis yang tersenyum penuh kemenangan.
Tatapan penuh kebencian Alice layangkan ke arah pria di hadapannya. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Rasa kesal dan benci menyelimutinya.
"Tenang saja, jika kau mati maka yang menanggung siksaan mu adalah Flow." Bisiknya dengan suara yang rendah. Dikeluarkannya sebuah pistol lalu ia todong kan ke arah perut Alice. "Sebenarnya aku ingin bermain-main dengan mu. Akan tetapi waktuku terlalu sibuk sekarang untuk mengurus mu. Jadi lebih baik aku langsung membunuh mu."
__ADS_1
Dan..
Dor
Dor
Dor
Dengan brutal Nick menembak perut Alice sebanyak 20 kali hingga perut itu berlubang. Bahkan darah dan isi bagian perut itu terlihat. "Dasar sampah menjijikan."
James yang melihat itu hanya memalingkan wajahnya. Merasa ngeri dengan kondisi Alice.
Sedangkan disisi lain tubuh Roy langsung terjatuh setelah menyelamatkan Sean dari tembakan Alice.
Dengan reflek Sean memegang tubuh Roy yang mulai melemah. Didekapnya tubuh itu. "Roy! Apa yang kau lakukan?!" Bentak Sean. Air matanya meluncur bebas membasahi kedua bola matanya. Ketakutan jelas terpancar dari kedua bola matanya.
Darah mengucur dari luka tembak itu. Sean berusaha menutup luka dengan menggunakan telapak tangannya. Akan tetapi itu semua sia-sia. Darah tetap keluar dari luka tembaknya.
Roy tersenyum melihat apa yang di lakukan Sean. "Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai bodyguard Tuan." Jawab Roy dengan wajahnya yang mulai memucat.
Sean menggeleng. "Kau bodoh! Kau bodoh. Kenapa kau mengorbankan dirimu Roy!" Sungguh hatinya hancur ketika melihat orang kepercayaannya sekarat di hadapannya.
"Tuan.." Lirih Roy.
"Panggil aku Sean! Sudah ku bilang panggil aku Sean! Kau sudah ku anggap sebagai saudaraku Roy. Kau sudah ku anggap sebagai kakak ku." Ujar Sean dengan nada yang penuh penekanan. Terlihat jelas jika Sean kini tengah emosi.
Rasa sakit mulai menyerang di tubuhnya. "Sean, maafkan aku karena pernah mengkhianati mu. Maafkan aku karena tidak bisa membantu menyelamatkan anak pertama mu waktu itu. Tapi, setidaknya sekarang aki bisa menembus kesalahan yang aku perbuat." Lirih Roy dengan nafas yang mulai tersendat. "Maafkan Liya juga Sean. Liya hanya ingin membantu istri mu waktu itu. Liya hanyalah perempuan yang berhati lembut hingga rela mengorbankan dirinya untuk membantu istri mu."
Sean terdiam mendengarkan. Digenggamnya salah satu tangan Roy yang berdarah. Hatinya teriris pilu.
"Kau tau Sean, aku sangat mencintai Liya. Setiap hari aku selalu mencintainya bahkan aku semakin mencintainya. Meskipun Liya sekarang tidak ada di samping ku secara nyata. Tapi aku selalu merasakan kehadirannya di samping ku. Bahkan Liya menemaniku setiap hari. Itulah mengapa aku selalu tersenyum." Dengan tersenyum Roy mengatakannya. Buliran kristal jatuh membasahi kedua bola matanya. Disana ada Liya yang tengah berdiri dengan tersenyum. "Sepertinya Liya sudah menungguku Sean." Roy terbatuk-batuk dengan darah yang keluar dari mulutnya. Wajahnya memucat. Nafasnya tersenggal, tidak beraturan.
"Terimakasih Sean. Aku bahagia telah menjadi orang kepercayaan mu. Terimakasih karena telah mempercayai ku. Maaf kan aku, aku hanya bisa menemani mu sampai disini. Padahal aku ingin sekali melihat Sean junior lahir. Aku ingin menjadi seorang paman yang menemaninya. Tapi sepertinya aku tidak bisa mewujudkannya."
Sean menggeleng kuat. "Tetap hidup! Itu perintah mutlak dari ku Roy! Jika kau melanggarnya maka aku akan menghukum mu!" Jerit Sean. Tangisnya semakin pecah.
Elden, Darren, Dara, Nick dan James hanya terdiam melihatnya. Dara menangis tergugu di tempatnya. Ingin menenangkan suaminya, tapi ini bukanlah waktu yang tepat.
"Liya, aku datang. Aku merindukan mu sayang." Ujar Roy dengan suara yang lirih. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Di tangan kirinya terdapat sebuah gelang yang masih setia ia pakai. Gelang yang sama ia pakai dengan Liya. Gelang ini menjadi bukti nyata betapa Roy mencintai Liya dari dulu hingga sekarang.
Dengan perlahan kedua bola matanya mulai menutup. Tangan yang semula memegang tangan Sean lantas mulai melemah.
"Terimakasih Sean." Lirihnya pelan yang masih terdengar jelas di pendengaran Sean
Kedua bola mata yang awalnya memancarkan kebahagiaan kini telah tertutup selamanya.
Roy telah tiada.
Roy telah meninggalkan kita semua.
"Argghh!" Jerit Sean. Air matanya meluncur deras membasahi kedua bola matanya.
Di dekap nya tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Sean meraung keras. Tangisnya pecah begitu saja.
"Jangan pergi Roy!"
Lalu apakah yang terjadi selanjutnya?
***
Sabtu, 24 Oktober 2020 - Selamat Jalan Royπ This is true true loveππ
__ADS_1
Terimakasih untuk hadiah yang kamu beri padaku saat usiaku menginjak 25 tahun beberapa bulan yang lalu. Aku sangat menyukainya. Roy, aku juga menyayangimu. Aku ingin hidup bersamamu. Tapi apakah itu terlalu berlebihan? Mungkin iya, mungkin tidak. Namun setidaknya aku merasa tenang sekarang. Kamu menerima perasaanku. Bahkan kamu menerima ciuman perpisahan kita. Hiduplah dengan baik. Kamu tampan. Kamu laki-laki yang baik. Banyak yang menyukaimu, termasuk aku. Jangan telat makan dan jaga kesehatanmu Roy. Aku menyayangimu selalu. - Liya
Kau tau Sean, aku sangat mencintai Liya. Setiap hari aku selalu mencintainya bahkan aku semakin mencintainya. Meskipun Liya sekarang tidak ada di samping ku secara nyata. Tapi aku selalu merasakan kehadirannya di samping ku. Bahkan Liya menemaniku setiap hari. Itulah mengapa aku selalu tersenyum. Liya, aku datang. Aku merindukan mu. - Roy