
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Jangan sia-siakan pengorbanan Liya nona." Ujar Roy dengan suaranya yang terdengar rendah.
Dor
Suara tembakan peringatan terdengar.
"Aku tau kau berada disana Dara."
Deg
Suara itu terdengar familiar di telinganya. Bukankah itu suara Alice?
"Mau sampai kapan kau akan bersembunyi?"
Tubuh Dara bergetar takut. Kedua tangannya mulai terasa sangat dingin. Apa yang ia pelajari selama ini seakan hilang bagaikan uap air. Mulai dari boxing, hingga teknik tembak-menembak seakan-akan tidak pernah Dara pelajari.
Roy yang mengerti ketakutan yang terpancar jelas di wajah istri Bosnya, lantas Roy langsung megenggam salah satu tangan istri Bosnya. Berniat untuk menenangkannya melalui genggaman tangannya.
Melalui genggaman itu Roy ingin menyampaikan jika semuanya pasti akan baik-baik saja. Roy tidak peduli jika nanti dirinya akan di tembak mati oleh Sean atau mungkin akan dimarahi habis-habisan karena berani menyentuh Dara. Persetan dengan semuanya. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Dara.
"Saya minta tolong ke nona. Nona cukup lari terus dan jangan menoleh ke belakang. Lari dan terus tatap ke depan. Nanti kami akan menyusul nona. Untuk sementara ini saya akan menghalangi perempuan gila itu." Bisik Roy yang di angguki oleh Dara. Dara sedikit terdiam. Dara pernah mendengar ucapan itu. Iya, ucapan yang hampir sama dengan ucapan Liya dulu.
Dara berusaha membangun tekatnya lagi. Berusaha menyemangati dirinya sendiri. Meskipun tubuhnya sekarang terasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Namun Dara berusaha mengabaikannya. Apalagi dalam kondisi hamil besar membuat Dara kesulitan berlari.
Akan tetapi saat melihat pengorbanan dan usaha dari Sean, Liya, Roy dan beberapa bodyguard yang ingin melindunginya dan bayi yang berada di dalam perutnya, hal itu membuat Dara termotivasi untuk melindungi dan menyelamatkan bayinya juga. Dara tidak akan menyianyiakan pengorbanan dan kerja keras mereka demi keselamatan dirinya.
Salah satu tangan Dara kini telah membawa sebuah pistol. Sesuai yang di ajarkan oleh Garvin saat latihan, Dara menerapkannya.
__ADS_1
Inilah pertempuran yang sebenarnya.
Sedangkan disisi lain kini Sean tengah kualahan menghadapi musuhnya. Disudut bibirnya mengeluarkan darah, wajahnya sedikit lebam. Sungguh Sean tidak pernah menyangka jika Derrick akan menyewa anak buah Daniel.
Punggungnya terasa nyeri dan terus berdenyut sakit. Sean yakin pasti punggungnya cidera sekarang. Namun Sean mengabaikannya. Sean harus segera menghabisi Derrick dan segera menyusul istrinya. Sean takut jika istrinya kenapa-kenapa.
Sang lawan maju menyerbu dengan bengis. Pertarungan lima lawan satu tidak bisa terelakkan lagi.
Sean menendang perut musuhnya, berusaha membuat sang musuh kalah telak dengan menyerang titik pusat bagian perut. Akan tetapi, sang musuh tidak menyerah begitu saja. Musuhnya langsung mengeluarkan sebuah pisau lipat untuk menyerang dirinya. Dengan gesit Sean menghindar dan memelintir tangan musuhnya ke belakang. Membuat pisau itu terlempar di atas lantai mansion yang telah kotor.
Lalu, tanpa Sean duga dari arah belakang Derrick mengambil sebuah guci hiasan yang berbahan kaca.
Ctar
Derrick memukul kepala Sean dengan menggunakan guci itu hingga membuat kepala Sean berdarah.
Tubuh Sean langsung bersimpuh. Rasa pusing langsung menyerangnya. "Sial! Sial! Jangan sekarang. Aku mohon jangan sekarang. Istrimu membutuhkan mu Sean." Umpat Sean dalam hati.
Musuh yang tadinya berada di cengkramannya langsung terlepas dan memukul telak tubuh Sean. Tapi sebelum memukul telak tubuhnya Sean sudah menangkis dan mematahkan kaki itu dengan menggunakan kedua tangannya. Sean menggunakan sisa tenaganya untuk melumpuhkan musuhnya itu.
"Arghhhh!" Jerit kesakitan terdengar.
Kedua bola mata Derrick membola terkejut ketika melihat Sean yang masih bisa bangkit lagi. Namun, Derrick menutupi keterkejutannya itu dengan ekspresi wajahnya. "Hahaha apa sekarang seorang Sean Crishtian kalah telak?" Ucap Derrick dengan tersenyum kemenangan.
"Brengsek kau Sean! Berani-beraninya kau menghinaku huh!" Bentak Derrick dengan penuh amarah. Ada perasaan tidak terima ketika dirinya di katai seperti itu.
"Bukankah itu kenyataanya Derrick?" Ujar Sean dengan menyeringai. "Kau bahkan rela menyewa anak buah Daniel untuk mengalahkan ku."
Perkataan Sean tadi sukses membuat Derrick naik pitam. "Kau tidak tau apa-apa brengsek!" Umpat Derrick dengan suara yang menggelegar. Tanpa aba-aba Derrick menyerang Sean. Memukul dan menghajar habis-habisan.
Sean yang mengerti itu langsung menyerang balik Derrick. Beberapa kali Sean menghindari serangan Derrick dan beberapa kali juga Sean terkena pukulan Derrick. Bahkan di pelipisnya sekarang mengeluarkan darah.
Begitupun juga sebaliknya. Wajah Derrick lebih babak belur daripada Sean. Pukulan Sean di wajahnya dan di dadanya tidak main-main. Pukulan itu sukses membuat nafas Derrick memburu.
Mereka berdua membuat jarak. Sean mengatur nafasnya yang memburu begitupula dengan Derrick yang mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan.
Deg
Pandangan di depannya terlihat berputar. Wajah Derrick yang semula terlihat jelas kini mulai terlihat buram.
Rasa pusing menghantam kepala Sean lagi. Sean menggelengkan kepalanya pelan demi mengusir rasa pusingnya. Akan tetapi tetap saja, rasa pusing tetap menghantam kepalanya. Bahkan kepalanya sekarang berdenyut sakit.
__ADS_1
Derrick yang tau jika Sean tengah lengah langsung mengeluarkan pisau tajamnya. "Kau akan mati di tanganku Sean. Kau akan mati!"
Sedangkan disisi lain kini Elden di bantu dengan James tengah melewan musuhnya.
Iya, seperti yang Elden bilang di telfon tadi. Jika Elden sekarang juga tengah di kepung di mansionnya. Untungnya ada James yang membantunya. Sedangkan Lexa telah Elden amankan di ruang rahasia bersama maid dan beberapa bodyguard kepercayaannya.
"Nick, kau datang kesini juga?" Dengan nafas yang memburu Elden bertanya. Meskipun umur Elden sudah tidak lagi muda, tapi jiwa dan stamina Elden tetap muda.
"Iya uncle. Saya kesini untuk membantu. Derrick sudah menuju ke mansion Sean. Kalau Damian tengah dikepung juga. Dia tidak bisa datang tepat waktu itu." Jelas Nick sambil menghajar musuhnya.
"Kita cepet selesaikan ini lalu kita datang ke mansion Sean bersama." Ujar Elden yang disetujui oleh Nick dan James.
***
3,3K like + 850 komentar langsung double UP 😘🤗
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
@nickalbertreal
@raraagathareal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
__ADS_1
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤