
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
"Nona jika saya sudah berhasil mengalihkan perhatian perempuan itu, nona harus segera berlari. Ingat pesan ku nona jangan menoleh ke arah belakang."
Dara mengangguk mengerti. Kedua tangannya saling bertautan satu sama lain. Dapat Dara rasakan kini bayinya tengah menendang-nendang di dalam sana. "Tetap bersama mommy sayang." Ujar Dara dalam hati. Berusaha meyakinkan diri jika semua pasti akan baik-baik saja. Di dalam hatinya tidak berhenti mengucapkan doa dan harapan. "Tuhan lindungi Sean untuk ku. Tolong jaga dia disana. Jangan sampai ada sesuatu hal yang berbahaya mengancam nyawanya. Dia adalah orang satu-satunya yang ku punya setelah kedua orang tuaku. Dia adalah satu-satunya warna di hidupku. Jika kau ambil dia, maka siapa yang akan memberi warna di hidup ku lagi? Dia adalah cahayaku. Dia adalah sumber kebahagiaan ku. Tapi, jika kau memilih mengambil dirinya maka aku mohon, ambil aku juga Tuhan. Aku ingin tetap bersamanya hingga ajal menjemput. Aku ingin selalu bersamanya."
Dor
Dor
Dor
Roy keluar dari tempat persembunyiannya dan menembak berkali-kali ke arah Alice. Namun dengan gesit Alice langsung menghindar dan bersembunyi di balik almari. Bahkan Alice di lindungi oleh 7 anak buahnya.
Lalu tujuh anak buah itu langsung menyerang Roy secara bersamaan. Pertarungan sengit terjadi antara Roy dan tujuh bodyguard itu tidak bisa terelakkan lagi. Sedangkan Alice tersenyum puas menontonnya.
Dara yang merasa sudah aman lantas keluar dari persembunyiannya dan segera berlari.
Namun sayang Alice melihat itu. Alice yang
melihat Dara berlari lantas langsung menodongkan pistolnya dan menembak tepat arah Dara.
Dor
"Arghh!"
Sedangkan disisi lain..
Lagi dan lagi rasa pusing menghantam kepala Sean lagi. Sean menggelengkan kepalanya pelan demi mengusir rasa pusingnya. Akan tetapi tetap saja, rasa pusingnya tetap menghantam kepalanya. Bahkan kepalanya sekarang berdenyut sakit.
Derrick yang tau jika Sean tengah lengah langsung mengeluarkan pisau tajamnya. "Kau akan mati di tanganku Sean. Kau akan mati!"
Derrick langsung menyerang Sean dengan menggunakan pisau tajamnya. Sean yang mengetahui itu langsung menghindarinya. Namun sayang pisau itu berhasil mengenai perutnya.
Srett
Darah merembes keluar dari perutnya. "Akhh." Sean meringis sakit. Wajahnya berkeringat. Tubuhnya terasa dingin dan Sean langsung jatuh terduduk.
Sebuah senyuman puas tersungging di bibir Derrick. "Kau kalah Sean!" Kata Derrick dengan suara yang memenuhi penjuru ruangan mansion. "Kau kalah malam ini! Hahahaha!" Derrick tertawa puas. "Dan selanjutnya adalah istrimu. Apakah istrimu akan selamat? Ataukah tidak?" Kedua bola matanya menatap Sean dengan puas. Wajah Derrick terlihat bagaikan iblis yang berwujud manusia. "Tapi akan aku beritahu kau satu hal padamu. Kau tau Alice? Anak dari keluarga yang telah kau bantai bersama Geng Mafia mu itu." Bisik Derrick dengan suaranya yang rendah. Salah satu tangan Sean mengepal kuat. "Dia adalah seorang psycopath gila."
Deg
Sean begitu terkejut dengan perkataan Derrick tadi.
Mansion Sean terlihat seperti kapal hancur. Darah dimana-mana. Mayat tergelatak begitu saja di lantai dengan bersimbah darah.
Setelah mengatakan hal itu Derrick mengeluarkan pistolnya dari dalam saku celananya. Diarahkannya pistol itu ke kepala Sean.
Darah terus saja mengucur dari perut Sean akibat sayatan pisau. Sean terus saja menekan bagian luka dengan menggunakan tangan kirinya untuk menghentikan pendarahan. Belum lagi darah yang keluar dari kepalanya terus saja mengalir sehingga membuat Sean semakin melemah.
__ADS_1
"Katakan selamat tinggal."
Dor
Dor
Dor
Bunyi nyaring tembakan terdengar.
Bruk
"Hampir saja terlambat." Ujar Darren dengan tersenyum tipis. Di belakangnya ada Elden yang tengah menatap terkejut ke arah anaknya.
Sedangkan Derrick langsung terjatuh. Tangan kanannya dan kedua kakinya menjadi sasaran tembakan Darren tadi.
Lantas Elden langsung berlari menghampiri Sean. Begitupun juga dengan Darren.
"Terimakasih Darren." Ujar Sean dengan berusaha bangkit.
Elden memegang lengan Sean. "Kau harus ke rumah sakit son." Kata Elden dengan menatap khawatir anaknya.
Sean menggeleng pelan. "Istriku Dad. Istriku sedang berada dalam bahaya. Aku akan menyusulnya terlebih dahulu." Tolak Sean dengan menatap penuh harap ke Daddynya.
"Istri mu akan Daddy urus. Nick dan James juga tengah menyusul ke gudang. Jadi kau harus mendapatkan perawatan sekarang son."
Sean menggeleng lemah. Menolak saran dari Daddy nya. "Tidak Dad. Aku tidak mau." Tolak Sean lembut. "Bagaimana bisa aku berbaring di atas ranjang yang empuk sedangkan istriku sedang membutuhkan bantuan ku." Tambahnya lagi. Lihat? Sean tetap teguh dengan pendiriannya.
Elden menyerah. Elden lebih memilih mengalah daripada cercok dengan anaknya.
"Bagaimana dengan parasit ini?" Tanya Darren. "Aku tidak berminat membunuh nya. Apa salah satu dari kalian mau membunuh nya? Aku benar-benar tidak minat padanya. Menurutku tidak ada rasa sama sekali. Seperti aku membunuh sampah yang di buang tempat sampah." Ujar Darren mengeluarkan pendapatnya.
"Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Lihat uncle? Dia seperti seekor anjing yang menggonggong." Adu Darren seperti anak kecil yang mengadu ke ayahnya.
"Kau!!"
"Kenapa?" Tanya Darren dengan alis yang terangkat. "Ada apa dengan ku?" Hawa dingin menyeruak dari tubuh Darren.
"Uncle biarkan aku membunhnya. Sean kau bisa beristirahat selama 2 menit. Aku akan menghabisi sampah itu dalam waktu 2 menit."
Derrick yang melihat itu berusaha beridiri.
Lantas Darren lamgsung berlari menyerang Derrick. Begitupun juga dengan Derrick yang maju menyerang dengan tangan kosong.
Namun sebuah seringai tipis tersungging di bibirnya. "Ini balasannya karena kau telah melukai sahabat ku." Ujar Darren yang masih terdengar oleh Derrick.
Di tangan kanannya Darren mengeluarkan sebuah pisau tajam miliknya. Pisau yang bernama The Gem Of The Orient seharga 350 Miliar.
Dengan gerakan tak terbaca Darren langsung mengores leher itu.
Deg
Tubuh Derrick terdiam. Lalu, langsung meluruh begitu saja.
"Belum selesai." Dengan seringai yang tersungging di bibirnya Darren mengatakannya.
Ditariknya rambut itu hingga membuat kepala itu mendongak. Tubuh Derrick mengejang kuat merasakan ajal yang menjemputnya. "Dan ini balasan untuk istri darri sahabat ku."
Dipatahkannya kepala itu dengan menggunakan tangannya hingga menimbulkan bunyi nyaring yang mengerikan.
Krak
__ADS_1
Elden bergidik ngeri sendiri melihat kepala Derrick yang patah.
"Misi selesai." Ucap Darren dengan tersenyum. "Sekarang kita menyusul Dara."
"Kerja bagus Darren. Kau memang selalu membanggakan." Puji Sean.
Setelah itu Sean, Elden dan Darren segera berjalan menyusul Dara ke dalam gudang.
Sean semakin khawatir ketika menghubungi Roy yang tidak di jawab sam sekali. Pikirannya berkecambuk. Perasaanya terasa campur aduk. Air matanya menetes dari kedua bola matanya yang tajam. "Tolong tunggu aku sebentar lagi sayang. Aku akan menyusul mu." Kata Sean dalam hatinya.
"Hahaha." Gelak tawa kepuasan terdengar sangat nyaring.
Dara tertembak tepat di kakinya. Dara menangis. Rasanya sangat menyakitkan. Untuk pertama kalinya Dara merasakan sebuah tembakan.
Roy yang mendengar nada tembakan ingin menyelamatkan Dara. Namun sayang Roy tengah di kepung oleh anak buah Alice. Sedangkan 5 bodyguard Roy telah tumbang.
Akibat dari kelengahannya sekarang Roy telah di bekuk. "Jangan kau sentuh nona Dara!" Bentak Roy dengan suara yang melengking.
Alice menyeringai tipis. "Memangnya kenapa? Bukankah itu terserah padaku?" Dengan suaranya yang rendah Alice mengatakannya. Sambil berucap Alice berjalan menghampiri Dara.
Dara menggeleng takut. Takut jika Alice menyelakai bayinya.
Dengan kasar Alice langsung mencabut kalung itu. "Kembalikan kalungku!" Bentak Dara dengan suara yang keras. Mengabaikan rasa sakit yang berada di kakinya. Itu adalah kalung satu-satunya peninggalan mendiang ibu dan ayahnya. Dan Dara tidak ingin kehilangan itu. Pistol? Entahlah Dara tidak tau perginya pistol itu. Pistol itu terlempar karena tembakan tadi.
Plak
Dengan kuat Alice langsung menampar kuat pipi Dara hingga mengeluarkan darah di sudut bibirnya. "Dasar jala*g murahan!" Bentak Alice dengan menatap penuh benci ke arah Dara. "Kau adalah perempuan paling menjijikan yang pernah aku kenal. Kau berani menikahi mantan dari kekasih sahabat mu sendiri. Sahabat yang telah menemani mu dan kini telah tiada! Kau adalah perempuan paling hina yang pernah aku kenal!" Bentak Alice.
Kepala Dara mendongak menatap tajam ke arah Alice. "Aku bukan jala*g! Aku bukan perempuan hina! Aku tidak salah!" Jawab Dara. Lalu dengan kasar Alice langsung menjambak kuat rambut Dara. Menariknya ke belakang hingga membuat kepala Dara mendongak. Sakit itulah yang Dara rasakan.
"Lihat saja. Kau akan mati malam ini di tanganku."
***
Jangan lupa follow instagram mereka ya 🤘
@eldencrishtian
@lexacrishtian
@garvincrishtian
@seancrishtian
@daracrishtian
@kenzocrishtian
@crownedeagle_03
@nickalbertreal
@raraagathareal
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤
__ADS_1