
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Nb : Harap sambil dengerin lagu mellow/sad!
Setelah menghadiri rapat penting selama 2 jam, akhirnya rapat itu telah selesai. Rapat itu ditutup dengan hasil sangat menguntungkan bagi SC Tecnology. Semuanya bertepuk tangan. Mereka benar-benar kagum dengan hasilnya. Tidak ada pihak yang dirugikan. Yang ada mereka semakin diuntungkan dengan bekerjasama Sc Tecnology.
Elden tersenyum bangga dan berjalan menghampiri Sean dengan langkah tegasnya. Membuat orang yang berada dalam ruangan itu terkagum-kagum. Mereka tidak menyesal bekerjasama dengan perusahaan SC Technology. Mereka mengakui jika Elden dan Sean memang sebelas dua belas. Sama-sama tak bisa diremehkan dalam dunia bisnis maupun dunia gelap.
Ditepuknya dengan pelan bahu Sean, bukti bahwa Elden bangga dengan hasil yang sangat memuaskan dari rapat hari ini.
"Daddy bangga padamu son." Ujar Elden dengan tersenyum bangga.
Sean tersenyum tipis menanggapi pujian dari Daddy-nya itu. "Iya Dad, ini semua berkat ajaran dan didikanmu." Jawab Sean.
Semua mata mengamati interaksi antara anak dan ayah itu. Terlihat sangat dekat dan baik-baik saja. Berbanding terbalik jika dengan orang lain. Mereka akan sama-sama datar dan dingin. Bahkan terlihat kejam.
"Bagaimana kabar istrimu son?" Tanya Elden dengan menatap wajah anaknya. Jika bukan istrinya yang merengek memintanya untuk menanyakan kabar istri anaknya, Elden tak akan mau menanyakannya. Karena Elden akan terbakar api cemburu jika ada pria lain yang menanyakan kabar atau keadaan istrinya. Bahkan melihat anaknya sendiri meminum ASI langsung dari Lexa, itu saja membuatnya terbakar oleh api cemburu. Membuatnya uring-uringan dengan istrinya. Karena dulu, Elden merasa tersisihkan dan terkalahkan oleh Sean sewaktu masih kecil. Bisa dibilang, tingkat kecemburuan Elden lebih tinggi daripada anaknya. Elden itu childish jika bersama istrinya.
Sean membalas tatapan Elden. "Kurang baik Dad. Dara sedang sakit sekarang." Ujar Sean dengan tenang. Tanpa ada rasa gundah sedikitpun.
Dahi Elden mengerut, heran. "Bukankah kemarin istrimu baik-baik saja son."
Sean menghela nafasnya kasar. Otaknya dipenuhi dengan wajah istrinya sekarang. "Dara sedang kurang enak badan Dad. Dan salah satu kakinya sedang sakit Dad. Tapi sekarang sudah sedikit lebih baik."
Elden mengangguk mengerti. "Baiklah. Lain kali Momy dan Daddy akan mengunjungimu. Tapi, menunggu proyek ganda putri sudah selesai." Ujar Elden dengan sumringah.
Sean yang mendengar perkataan Elden ternganga tidak percaya. "Ingat umurmu Dad. Daddy sudah tua sekarang. Kasihan Momy."
Tawa lepas keluar dari bibir Elden ketika mendapat jawaban frontal dari anaknya. Membuat orang yang mendengarnya merinding seketika. "Daddy mu masih muda son. Dan momy juag masih mampu mengimbanginya. Hahaha, kau lucu sekali son." Kekeh Elden yang diselingi dengan tawanya.
Sean menatap bingung wajah Daddy-nya. Membuat Sean menggeleng tak percaya. Memang benar-benar ya..
"Daddy pergi dulu. Ada yang harus Daddy urus sekarang." Pamit Elden dan berjalan meninggalkan Sean dengan dikawal oleh beberapa bodyguard. Sean yang melihat itu sampai geleng kepala. Jarang sekali melihat Daddy-nya dikawal seperti itu. Dan bukankah Daddy-nya itu jago bela diri. Tapi kenapa harus ada bodyguard? Apa mungkin karena sudah faktor umur? Mungkin bisa jadi.
Semua pegawai yang berpapasan dengan Elden langsung membungkuk hormat. Begitupun juga jika berpapasan dengan Sean. Mereka semua menunduk hormat.
Setelah semua rapat telah selesai, Sean tidak langsung pulang. Karena sekarang tujuannya adalah untuk bertemu dengan Darren. Darren mengajaknya bertemu disebuah restorant mewah berbintang 5 di London.
Tepat pada pukul 8 malam Sean baru saja sampai di restorant tersebut.
Darren yang melihat kedatangan Sean hanya menatapnya datar.
Sean mengambil duduk berhadapan dengan Darren. Di meja tersebut telah tertata rapi makanan dua porsi daging steak dan dua gelas minuman anggur. Terlihat seperti dinner romantis.
__ADS_1
"Apa kau tak bisa mengajakku bertemu di tempat lain selain tempat ini?" Ucap Sean dengan sinis.
Darren menatap Sean dengan alis yang terangkat. "Jangan banyak protes. Kau tau, aku juga sibuk sekarang." Jawab Darren dengan dingin.
Tangan Sean mengepal. "Jangan membantahku Darren." Ujar Sean dingin.
Darren menghela nafasnya. Lebih baik mengalah daripada menanggapi ocehan Sean yang tak akan ada habisnya.
"Jadi apa yang telah kau temukan?" Tanya Sean serius.
Darren mengeluarkan sebuah map yang berwarna coklat dan ditaruhnya di meja.
"Derrick akan kembali ke London bersama kekasihnya minggu depan. Jadi yang harus kita lakukan adalah memancingnya keluar dari persembunyiannya. Apalagi Derrick memiliki bodyguard yang menjaganya. Jadi kita tak akan bisa langsung menculiknya begitu saja." Jelas Darren.
Sean hanya diam mendengarkan penjelasan Darren. Lalu, diambilnya map coklat itu dan dibukanya.
Sean begitu rerkejut dengan hal yang berada di dalam map coklat itu. Map itu berisi tentang biodata Derrick. Namun, keterkejutan itu tak berlangsung lama yang kemudian tergantikan dengan sebuah seringai yang menakutkan.
"Darren bagaimana jika kita menghancurkan perlahan-lahan? Atau menyiksa habis laki-laki itu hingga membuatnya ingin mati sendiri?"
"Terserah kau Sean. Sesuka kau. Kalau aku lebih memilih opsi nomor dua. Karena itu lebih menantang. Kalau perlu kau sayat habis tubuhnya." Jawab Darren dengan sebuah seringai yang menakutkan.
"Ide bagus Darren."
Pengunjung yang tanpa sengaja melihat seringai itu langsung bergidik ngeri. Itulah yang terjadi jika dua Mafia berkumpul menjadi satu . Memiliki sifat yang sama-sama dingin dan ditakuti.
🐙🐙🐙
Dara masih diam di posisinya. Duduk dikursi roda yang mengarah ke arah pemandangan malam yang menakjubkan. Ditangannya terdapat sebuah foto perempuan yang tengah tersenyum. Foto itu adalah foto Liya.
... "Iya nona aku janji. Asal nona juga berjanji satu hal, jangan pernah menoleh kebelakang apapun yang terjadi. Tetaplah berlari dengan sekuat tenaga nona dan tutup rapat kedua telinga Nona. Tetaplah berlari meskipun banyak bunyi nyaring yang menakutkan." Kata Liya dengan tersenyum. "Tetaplah menjadi seorang perempuan yang berhati lembut nona. Jangan pernah menyerah."...
"Liya. Hiks. Liya." Isaknya pelan.
Sejuta penyesalan dan rasa bersalah menyelimuti dirinya.
Kenapa Liya? Kenapa secepat ini? Kenapa? Jika aku tau semua ini akan terjadi, aku lebih baik mati bunuh diri Liya. Hiks! Tuhan, aku mohon kembalikan Liya. Hidupkan Liya. Cukup Ayah, Bunda yang kau ambil. Jangan Liya. Liya jangan kau ambil Tuhan.
Kepala itu menggeleng kecil. Tangannya mengepal memukul dadanya beberapa kali yang terasa sesak. Kenapa takdir sangat jahat padanya? Kenapa?!
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Disana Sean telah pulang dengan keadaan yang terlihat sedikit berantakan.
Pukul 11 malam. Sean baru sampai di mansionnya. Setelah melakukan pertemuan dengan Darren, Sean datang mengunjungi beberapa markasnya. Mengatur apa bisnis gelapnya tetap berjalan lancar atau tidak.
Sean berjalan mendekati istrinya yang membelakanginya. Dikecupnya dengan sayang puncak kepala itu. Membuat Dara langsung menoleh dan menatap wajah Sean dengan kedua matanya yang sembab oleh air mata.
Sean langsung membalik kursi roda itu hingga istrinya berhadapan dengan dirinya. Lalu, Sean jongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan istrinya.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Sean khawatir. Diusapnya dengan sayang buliran kristal itu.
Dara menggeleng pelan. "Liya kemana Sean? Aku sedari tadi menunggunya, tapi kenapa tak kunjung datang juga. Kenapa kau mengganti Liya dengan Afi? Bukankah Liya sudah bekerja disini sejak lama." Rentetan pertanyaan terus meluncur di bibir mungil itu.
Sean terdiam. Tangannya memegang erat sisi kursi roda itu. Rahangnya mengetat, bukti bahwa Sean tak suka dengan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Liya pergi kemana Sean?" Ujar Dara dengan menatap tepat ke iris mata tajam itu. "Katakan Sean, Liya kemana. Maid dan Roy aku tanyai mereka tak mau menjawabnya. Katakan Sean, Liya kemana?!" Bentak Dara dengan tangisan yang pecah begitu saja.
Sean menggeram marah mendengar bentakan keras dari istrinya.
"Kamu tak perlu mencari Liya lagi. Ada aku disini." Jawab Sean dengan tatapan wajahnya yang datar.
Deg
Dara meremat foto Liya yang berada digenggaman tangannya.
"Tidak. Aku tidak mau Sean. Aku mau Liya. Aku mau bertemu Liya." Jawab Dara dengan tegas. Tak mau dibantah.
Sean bangkit dan berdiri menjulang tinggi dihadapan Dara. Tampak angkuh dengan aura intimidasi.
"Liya sudah tiada. Jadi kamu tak akan pernah bertemu dengan Liya lagi. Jadi buang-buang jauh nama Liya." jawab Sean dengan tenang. Seolah tak akan terjadi apapun dengan dengan perkataanya.
Deg
Dara menggeleng kuat. "Tidak! Tidak mungkin Hiks!" Buliran krisatl itu semakin deras membasahi kedua bola mata cantiknya. "Cabut kata-kata mu itu Sean!" Bentak Dara. "Katakan iti tidak benar, hiks! Liya pasti sedang jalan-jalankan? Pasti Liya sedang marah padaku kan? Iyakan? Atau sedang bersembunyi? Iyakan Sean?" Ujar Dara dengan menatap wajah Sean sendu.
Sean tersenyum miring. "Penghianat itu harus mati sayang. Bukankah sudah ku bilang dari awal, jika ada yang menghianatiku pasti akan mati. Liya menghianatiku karena membantumu lari dariku. Jadi nyawa balasannya. Liya sudah mati."
Deg
"Argghh!! Tidak mungkin. Tidak!" Teriak Dara dengan memegang erat kepalanya. Kepalanya seakan dipukul dengan kuat. "LIYA! JANGAN PERGI! HIKS!"
Badannya membungkuk. Dicekalnya dengan kuat bahu istrinya itu, hingga membuat Dara menatap kedua mata Sean.
"Kau iblis Sean! Kau bukan manusia. Hiks!" Bentak Dara dengan keras dan mencoba untuk melepaskan cengkraman dibahunya. Namun, cengkraman dibahunya semakin menguat.
"Ya, aku memang iblis. Dan iblis ini adalah suamimu." Ujar Sean dengan tatapannya yang dingin. Aura menakutkan langsung terasa diruangan seisj kamar.
Tubuh Dara membeku mendengar perkataan Sean. Tubuhnya mulai bergetar ketakutan. "Kenapa kau membunuhnya?! Bunuh aku Sean. Liya tak bersalah. Hiks! Aku yang memintanya untuk membantuku. Aku yang salah Sean. Bukan Liya!" Lirihnya pelan.
"Kenapa kau begitu mudah membunuh seseorang Sean? Nyawa itu bukan mainan. Kenapa kau tak berfikir keadaan orang yang ditinggalkan? Kenapa? Apa kau tak pernah merasakan ditinggalkan orang yang tersayang karena dibunuh?" Ujar Dara.
Cengkraman dibahu Dara semakin menguat. Dan itu pasti akan meninggalkan bekas ruam merah dibahunya. "Ya. Aku memang tak pernah merasakannya." jawab Sean datar. "Jika kau lari dariku, maka orang yang berada disekeliling mu akan menjadi taruhannya. Mati atau sekarat. Itu pilihannya sayang." Kata Sean sambil merapikan beberapa heleaian rambutnya.
Telinganya seakan berdengung. Sean seperti tampak ada dua. Kesadarannya mulai terenggut. Perlahan mata sembab itu mulai tertutup. Dengan sigap Sean memegang tubuh mungil istrinya.
"I hate you Sean." Lirih Dara.
"I love you too sayang." Jawab Sean sambil menyeringai tipis.
***
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤
__ADS_1