My Possesive Husband

My Possesive Husband
68. PENYESALAN TAK BERUJUNG


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Pagi telah menjelang. Burung-burung berkicau saling bersahutan satu sama lain.


Sekarang jam menunjukkan pukul 9 pagi. Dara masih duduk terdiam di atas kursi rodanya. Duduk menghadap ke arah jendela kamar yang memperlihatkan pemandangan pagi yang menakjubkan. Namun, tidak seperti dengan hatinya yang sekarang. Dihatinya hanya ada beribu rasa penyesalan terus datang menghampirinya. Dipegangnya dengan erat foto Liya yang tengah tersenyum kearah kamera. Foto yang ia dapatkan dari Afi. Karena tadi Dara meminta Afi untuk mengambilkan foto Liya yang ada. Dan untungnya masih ada foto Liya.


"Liya. Maafkan aku. Ayah, bunda, maaf. Ini semua salahku. Ini salahku. Maaf. Hiks!" Dan lagi buliran kristal itu jatuh membasahi kedua bola matanya.


Kedua bola mata cantiknya yang biasanya memancarkan kebahagiaan, berbinar senang, kini berubah menjadi kosong. Tak ada binar kebahagiaan, hanya kesedihan dan kekosongan yang terpancarkan dari mata tersebut.


Ceklek


Pintu kamar terbuka. Disana Afi datang dengan membawa nampan yang berisi makanan dan buah-buahan.


Afi segera masuk kedalam kamar dan meletakkan nampan yang berisi makanan di atas meja dekat tempat tidur.


Sedari tadi Afi sudah merasa aneh dengan sikap Dara. Sejak ia mandikan dan menyisir rambut Dara, Dara hanya diam dan sesekali menetaskan air matanya yang tampak seperti mayat hidup.


Setelah meletakkan nampan berisi makanan, Afi segera berjalan dan menghampiri Dara yang tengah duduk dikursi rodanya. Afi memilih jongkok dihadapan Dara.


"Nona, nona harus makan." Ujar Afi lembut. Afi tidak tau apa yang telah terjadi dengan Dara. Namun Afi sangat tahu betul bagaimana perasaan Dara. Apalagi saat Dara memaksanya untuk mengambilkan foto Liya dikamarnya. Kamar yang sekarang menjadi miliknya adalah kamar milik Liya waktu masih hidup dulu.


Setelah mendapatkan foto Liya, Dara hanya diam dan memandang kosong ke arah depannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu yaitu Ayahnya, Bundanya dan Liya. Orang-orang yang snagat ia sayang. Dan lagi, buliran kristal itu turun membasahi kedua mata cantiknya.


"Nona.." Panggil Afi lagi. Namun, nihil. Dara masih terdiam ditempatnya. Tidak merespon sama sekali. Rasa iba muncul diperasaanya. Jika Afi mempunyai anak dan melihat keadaan anaknya seperti Dara, Afi pasti akan merasa sangat sedih.


Ceklek


Pintu kamar terbuka. Dara sangat tau siapa yang masuk kedalam kamar. Sean. Suaminya.


Tap


Tap

__ADS_1


Tap


Derap langkah tegas terdengar memasuki kamarnya. Afi segera bangkit dan membungkuk hormat ke arah Sean.


Sean menghela nafasnya kasar melihat keadaan istrinya yang tampak kacau. Setelah itu, Sean memberi isyarat ke Afi agar segera pergi meninggalkan dirinya bersama istrinya.


Afi yang mengerti akan kode tersebut, langsung segera membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan kamar sepasang kekasih tersebut.


Setelah Afi pergi meninggalkannya berdua bersama Dara, lantas Sean berjalan mendekati istri kecilnya itu dengan langkah tegasnya.


Sean berjalan dan berdiri berhadapan dengan istrinya.


Deg


Hatinya seakan teriris melihat kondisi istrinya yang seperti sekarang. Mata sembab, hidung memerah, wajah pucat dan kedua matanya yang tampak kosong, tak memancarkan aura kehidupan sama sekali.


Dengan perlahan, Sean memilih jongkok dan memegang kedua tangan istrinya. Tak ada penolakan sama sekali. Tak ada nada riang setiap kali ia memegang kedua tangan istrinya.


"Sayang, ayo makan." Ajak Sean dengan lembut. Ditatapnya wajah cantik istrinya yang tampak memucat.


"Sayang.." Ucap Sean.


Namun, nihil. Istrinya tak menanggapi panggilannya sama sekali. Bahkan hanya untuk melihatnya saja, istrinya tak melakukannya sama sekali.


Hatinya bagaikan tertimpa ribuan beton melihat kondisi istrinya yang sekarang. Sayang, aku rindu kamu yang dulu..


Ya, sekarang tidak ada lagi. Tidak ada gerakan memakan lahap makanannya. Hanya kebisuan yang keluar di bibir itu. Tak ada sepatah kata apapun yang keluar dari bibir mungil istrinya. Dan hal itu sukses membuat Sean merasa terpukul.


Dengan lembut, dipegangnya wajah mungil istrinya dengan menggunakan kedua tangannya yang hangat. Warna kulitnya sangat kontras dengan warna kulit istrinya.


Sentuhan tiba-tiba di wajahnya membuat Dara yang awalnya menatap lurus kedepan langsung menatap wajah tegas dan tampan itu. Wajah Sean. Suaminya sekaligus yang menjadi penghancur segala kebahagiaanya.


Saat menatap lekat kedua iris mata Sean, sekelebat kejadian datang memnuhi otaknya. Air matanya langsung jatuh memabasahi kedua matanya lagi dan lagi.


"Apa aku boleh meminta sesuatu padamu Sean?" Tanya Dara dengan menatao kosong wajah suaminya.


Sean mengangguk ragu. "Iya sayang, kau ingin minta apa?"


"Hidupkan Liya, Sean." Ujar Dara dengan tenang.


Deg


Tubuh Sean mematung mendengar permintaan istrinya.


"Hidupkan Liya. Kembalikan Liya padaku Sean. Aku mohon.." Mohon Dara. "Kembalikan Liya. Kembalikan Liya. Hiks!" Isak Dara dengan tangisannya langsung pecah begitu saja.

__ADS_1


Tubuh Sean menegang mendengar permintaan dari istrinya.


"Kembalikan Liya. Dia tidak tau apa-apa. Hiks!" Ujar Dara lagi. "Harusnya kau yang bunuh aku Sean! Harusnya kau yang menghukumku, membunuhku. Bukan Liya, Sean. Bukan. Aku yang memintanya untuk membantuku lari darimu. Aku yang memaksanya untuk berjanji padaku. Tapi.. tapi kenapa kau malah membunuhnya? Hiks!" Aura kesedihan dan kekecewaan sangat terpancar kuat dari kedua bola mata Dara. "Liya sudah ku anggap sebagai keluargaku. Kakakku. Tapi kenapa kau merenggutnya?!" Bentak Dara. "Tidak cukupkah kau menyakitiku? Menghancurkan perasaanku. Apa itu tidak cukup Sean?"


Mulut Sean seakan terkunci rapat. Sean tidak tau harus menjawab apa. Sean junga tak mungkin bisa melakukannya.


"Maafkan aku." Jawab Sean dengan lirih yang masih terdengar jelas dipendengarannya Dara. "Aku tak bisa melakukannya."


"Kau boleh memukulku. Kau boleh menghajarku. Kau boleh melakukannya. Asal satu, kau jangan memintaku untuk melepaskanmu. Aku tak akan bisa melakukannya." Ujar Sean.


Dara langsung histeris. Tangisnya semakin kencang. Kepalanya menggeleng. Kedua tangannya yang awalnya memegang erat foto Liya langsung berganti mencengkram kerah baju Sean.


Aiar matanya jatuh begitu deras, bagaikan hujan lembat yang mengguyur kota.


Ini semua salahku. Ini semua terjadi karena kesalahanku..


Karena keegosianku yang begitu menginginkan sebuah kebebasan..


Mengakibatkan orang-orang terdekatku yang menjadi korban..


Maaf..


Maafkan aku..


Harusnya aku sadar, aku hanyalah sebuah malapetaka untuk orang terdekatku..


Harusnya aku sudah ikut tewas dalam pembantaian itu..


Harusnya sekarang aku sudah hidup bahagia dengan kedua orang tuaku, para maid dan bodyguard yang ikut tewas dalam pembantaian itu..


Harusnya aku tidak ada disini..


Harusnya aku sudah tiada..


Maafkan aku Liya..


***


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊

__ADS_1


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤


__ADS_2