
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. ๐๐
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku ๐ค
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya ๐
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata ๐ค
Happy Reading
***
Pagi telah menjelang.
Semalam adalah malam yang paling panjang dan indah untuk Sean.
Bagaimana tidak? Istrinya semalam sungguh luar biasa. Apa kalian tau? Yang memimpin sepanjang permainan semalam adalah istrinya.
Bahkan Sean tidak pernah menyangka itu. Bahkan tidak pernah terfikirkan di otaknya jika istrinya akan menjadi segresif itu.
Setelah itu Sean memilih bangkit dari tidurnya dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan. suara. Sean takut jika pergerakan yang ia lakukan akan membangunkan tidur istrinya.
Disandarkannya tubuhnya ke sandaran ranjang. Kedua bola matanya langsung tertuju pada istrinya yang sedang tertidur pulas di sebelahnya. Sebuah senyuman tulus tersungging di bibirnya. Tidak ada seringai atau senyuman miring yang biasa tersungging di bibirnya. Yang ada sekarang hanya sebuah senyuman manis yang tulus. Senyuman yang tersungging karena istrinya.
Diusapnya pelan surai rambut istrinya dengan sayang. "I love you." Ujar Sean dalam hati. Dipandangnya wajah damai dan cantik itu yang tengah tertidur pulas.
Lagi dan lagi Sean di buat jatuh ke dalam pesona yang ada di istrinya. "I will never let you go." Kata Sean dengan suaranya yang terdengar lirih.
Sean mengingat permintaan istrinya semalam.
Latihan tembak-menembak dan kebebasan.
Iya Sean tau jika istrinya membutuhkan kebebasan atau sekedar hanya bermain di udara luar. Namun, tetap saja Sean tidak rela jika ada yang memandang kecantikan istrinya. Sean tidak ingin membagi kecantikan istrinya ke khalayak umum. Sudah cukup Sean merasa uring-uringan karena Nick yang diam-diam mencintai istrinya. Apalagi kalau Sean memberi ijin kebebasan istrinya. Bisa di jamin Sean akan semakin banyak saingan. Kalian sudah tau bukan kalau istrinya benar-benar sangat mempesona. (Author: Padahal kamu juga harus berkaca Sean jika kamu sangat tampan. Bahkan saingan Dara tidak hanya satu orang, tapi ribuan bahkan puluhan ribu perempuan. Tapi, Dara tetap percaya padamu)
Dirasa puas telah memandang wajah istrinya, lantas Sean langsung turun dari tempat tidurnya. Dengan tubuh yang bertelanjang dada, Sean berjalan menuju ke dalam kamar mandi.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Sean segera melepas celananya hingga tidak ada sehelai benangpun yang tertempel di tubuhnya.
Kini terpampang indah tubuh berotot dengan beberapa bekas luka yang terdapat di punggungnya. Bekas goresan benda tajam dan siksaan yang dulu ia dapat masih terlihat jelas. Bekas luka yang menjadi kenangan menyakitkan bagi dirinya ketika masih kecil.
Dengan langkahnya yang tegas, Sean segera berjalan menuju shower. Dinyalakannya shower itu dan Sean berdiri tepat di bawah shower yang telah mengeluarkan air.
Sean akan memulai rutinitas mandinya.
Jam masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Hawa masih terasa dingin. Akan tetapi Sean tetap memilih air dingin untuk mandinya. Sean ingin mendinginkan otaknya dan juga tubuhnya.
__ADS_1
Digosoknya tubuhnya dengan sabun yang ada disana. Rambutnya yang kering di guyur dengan air shower yang dingin.
Namun kilasan masa lalu mulai datang menghampirinya.
"Hah.. Hah.. Hah.." Deru nafasnya mulai terdengar tidak beraturan. "Shitt! Kenapa kilasan masa lalu datang disaat waktu yang tidak tepat?! Padahal sudah beberapa bulan yang lalu telah datang. Kenapa sekarang harus datang lagi?!" Umpat Sean dalam hati.
Sean dengan mati-matian berusaha mengontrol deru nafasnya yang mulai terasa menyesakkan. Dengan kasar, Sean mencengkram dadanya.
"Ampun paman.. Ampun.. Ampun.." Suara penuh permohonan dari masa lalu datang dan mulai terdengar. Hanya Sean yang mampu mendengarnya.
Nb: Baca di Part 71. disana sudah ada kilasan masa lalu Sean.
"Jangan lagi." Lirih Sean dengan mencengkram kasar rambutnya.
Sean berusaha mempertahankan kesadarannya. Dengan sekuat tenaga Sean membersihkan tubuhnya dari busa-busa sabun. Lalu, dirasa telah bersih Sean memutuskan untuk menyudahi acara mandinya.
Dengan langkah gontainya Sean berjalan kesudut ruangan. Mengambil handuk dan ia lilitkan di pinggangnya.
"Arghh.."
Kepalanya mulai berdengung. Kepalanya seakan ditusuk oleh ribuan jarum.
Suara jeritan kesakitan memenuhi otaknya.
Itu adalah suaranya. Suara dari masa lalunya.
"Paman, ampun."
Waktu itu, sudah ribuan kata ampun terus keluar dari bibirnya yang pucat. Tapi, sang paman tak memberinya ampun sama sekali. Dan saat itu Sean sudah tidak tahan untuk menghadapi semuanya. Tubuhnya terasa remuk redam dan terasa sangat sakit sekali. Karena di setiap perlawanan yang ia lakukan, maka sayatan dan cambukan akan ia terima. Pamannya benar-benar tidak memberinya ampun. Bahkan tidak ada rasa kasihan sama sekali.
Sean mengabaikan rasa sakit dikepalanya. Dengan langkahnya lemah Sean berjalan keluar kamar mandi.
Brak
Pintu kamar mandi terbuka secara kasar.
Sontak saja hal itu membuat Dara langsung terbangun dari tidurnya. Dengan perlahan kedua bola mata indah itu terbuka dan mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang berada di dalam kamarnya.
"Aghh.."
Suara rintihan kesakitan membuat Dara langsung bangun dan pandangannya langsung tertuju ke sumber suara.
Disana ada suaminya yang tengaha berdiri dengan bersandar kedinding.
Dengan tergesa-gesa Dara langsung menyibak selimutnya dan segera memakai kemeja suaminya dengan asal. Ingat, Dara dari semalam tidak memakai pakaian sama sekali.
"Sean.." Ujar Dara dengan khawatir.
__ADS_1
Langkahnya yang mungil berjalan menghampiri suaminya.
"Sean kamu kenapa?" Tanya Dara dengan khawatir. Bahkan suaranya terdengar sedikit bergetar. Untuk kedua kalinya Dara melihat keadaan suaminya seperti ini. Dengan perlahan kedua tangannya terangkat dan menyentuh wajah suaminya dengan lembut.
Wajah yang semula menunduk langsung terangkat.
Kini terlihat jelas wajah ketakutan dan kesakitan suaminya yang terukir dengan jelas.
"Kamu kenapa?"
Sean menggeleng pelan.
"Arghhh.."
Lagi, suara jeritan kesakitan terdengar di pendengarannya. Kiladan masa lalu terukir jelas di ingatannya.
Trauma dari masa lalu mulai datang lagi.
Tubuhnya langsung jatuh begitu saja. Membuat Dara sedikit menjerit karena terkejut.
"Sean!" Jerit Dara.
"Jangan. Ampun. Ampun." Lirih Sean dengan mencengkram rambutnya.
Dengan sigap Dara menahan kedua tangan suaminya yang terus mencengkram rambutnya. "Jangan seperti ini. Aku mohon."
Tubuh Sean bergetar takut. "Bunuh aku. Bunuh aku." Rintih Sean dengan kedua bola mata yang menatap kosong.
Dara menggeleng pelan. Hatinya terasa sakit melihat suaminya yang seperti ini.
Dipeluknya tubuh suaminya dengan erat. "Jangan seperti ini. Aku mohon. Ada aku disini." Ujar Dara berusaha menenangkan suaminya.
***
Author mau tanya ke kalian, bagaimana si kesan kalian saat pertama kali membaca novel My Possesive Husband? Dan apa keinginan kalian untuk novel MPH kedepannya? (Keinginan yang membangun ya bukan yang menjatuhkan๐ค)
Silahkan jawab di kolom komentar..๐ค๐ Terimakasih๐
- Suami idaman sejuta umat๐ Btw Dara, kamu beruntung bamget bisa dapetin Sean๐ญ Author pengen juga๐ญ
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya ๐
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga ๐
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana ๐
Aku tunggu notif dari kalian ya ๐ Terimakasih teman-teman.. โค