My Possesive Husband

My Possesive Husband
73. PROYEK TUNGGAL PUTRA


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Dara kini berada di dalam kamarnya. Duduk terdiam di atas tempat tidurnya sendirian. Sedangkan Sean? Sean tengah menyiapkan sesuatu untuknya.


Hatinya terasa sesak dan sakit. Di balik senyumnya tadi, tersimpan sebuah duka yang ia simpan rapat-rapat.


Tanpa ia sadari buliran kristal jatuh membasahi kedua bola mata cantiknya.


Bunda..


Ayah..


Liya..


Merupakan orang-orang yang paling berharga dan berpengaruh dalam kehidupannya. Tapi, sayang, mereka sama-sama mengalami sebuah kejadian naas yang harus membuat mereka pergi meninggalkannya selamanya.


"Hiks!" Isakan kecil lolos dalam bibirnya yang mungil. Dara berusaha mati-matian untuk menahan isakannya. Dara tidak mau terlihat lemah. Dara tidak mau orang lain melihat sisi lemahnya. Tidak mau lagi.


"Jangan menangis lagi Dara. Kamu harus kuat. Harus menjadi perempuan kuat. Jika kamu tidak kuat, tidak tangguh, semua ini tidak akan selesai. Yang mulai harus dari dirimu sendiri Dara. Bukan orang lain. Jika bukan dirimu, lalu siapa?" Ucap Dara dari dalam hati.


Diusapnya buliran kristal itu. Tatapannya jatuh tertuju pada salah satu kakinya yang sedang sakit. Diusapnya pelan. "Cepat sembuh ya. Agar bisa segera jalan sendiri. Agar bisa berdiri dengan kedua kakimu sendiri."


Ceklek


Pintu kamar terbuka. Disana Sean tengah membawa sebuah nampan yang berisi sepiring nasi goreng dengan salad buah sebagai pencuci mulutnya.


Pukul 11 siang tadi, Sean dan Dara baru sampai di mansion. Sekarang telah menunjukkan pukul 2 siang. Saatnya untuk makan siang.


Dengan senyuman yang tersungging di bibir Sean, Sean berjalan menuju tempat tidur istrinya.


Dara mengernyit heran, melihat senyuman sumringah itu. Ada apa dengan suaminya sekarang?


"Sayang, aku membuatkan nasi goreng untukmu. Nasi goreng spesial untuk istri tercintaku." Kata Sean dengan semangat empat lima.


Rasanya Dara ingin mual sekarang. Sejak kapan Sean berubah menjadi se-alay ini? Sejak kapan?


Lalu, Sean duduk di tepi tempat tidur, di sisi istrinya. Sean akan menyuapi istri kecilnya.


"Buka mulut mu sayang." Ujar Sean dengan menatap penuh cinta istrinya.


Dara yang tidak bisa menolaknya, lantas membuka mulutnya untuk menerima suapan sesendok nasi goreng.


Dikunyahnya nasi goreng itu dengan antusias.


Enak dan lezat. Mempunyai cita rasa tersendiri yang membedakan nasi goreng pada umumnya.

__ADS_1


"Enak?" Tanya Sean dengan antusias. Menunggu jawaban dan respon istrinya.


Dara mengunyah dengn menatap datar wajah suaminya itu. Dara berusaha menyembunyikan wajah bahagianya. Memang benar ya, nasi goreng buatan suaminya itu tiada duanya.


"Biasa saja." Jawab Dara dengan datar dan dingin. Inilah wajah yang Sean selalu tunjukkan untuk dirinya. Dara ingin membuat Sean merasakan apa yang ia rasakan ketika melihat wajah datar dari orang tercintanya.


Sontak saja, wajah Sean langsung berubah murung. Terlalu kecewa dengan jawaban istrinya. Sean kira, istrinya akan memuji masakannya. Karena biasanya, Dara selalu memeluknya jika merasa senang, apalagi setelah memakan nasi goreng buatannya. Istrinya selalu memeluknya dan mengucapkan kata sayang yang di bumbui dengan kata manis memujinya.


Dara yang melihat ekspresi Sean yang berubah menjadi murung jadi merasa bersalah. Apakah se-antusias itu Sean menunggu jawabannya?


"Ekhem." dehemnya pelan. Dara memalingkan wajahnya, "Nasi gorengnya enak. Aku tadi cuman bercanda." Kata Dara dengan pelan yang masih didengar di pendengaran Sean.


Sean yang mendengar itu langsung menatap wajah istrinya yang tengah berpaling menatap yang lain.


Lalu, diletakkannya piring nasi gorengnya di sisinya, di atas tempat tidur. Kedua tangannya langsung memegang wajah istrinya.


Dara terkejut dengan sentuhan tiba-tiba itu. Dara langsung menoleh dan menatap wajah suaminya. Suaminya tengah menatapnya dengan penuh arti dan berbinar senang.


"Terimakasih sayang." Ucap Sean dengan tesenyum tulus.


Deg


Deg


Deg


Wajah Sean mulai mendekati wajahnya.


Jantungnya berdetak tidak beraturan. Begitupun juga dengan Sean. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Rasanya, Sean ingin mencium lembut bibir mungil itu.


Oh tidak.


Dengan ganasnya, Dara langsung menahan wajah Sean.


"Sean, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ujar Dara dengan memberengut kesal.


Hal itu langsung membuat Sean langsung tersenyum canggung. Ternyata istrinya sekarang peka dengan keadaan.


"Kan gagal jadinya!" Gerutu Lexa dengan sebal di tengah pintu yang sedang asik mengintip anak bungsunya.


Hal itu sontak saja membuat Sean maupun Dara langsung menoleh ke arah pintu.


"Mommy sejak kapan ada disana?" Tanya Sean dengan terkejut. Dara juga merasa terkejut dengan kedatangan kedua orang tua Sean. Sean segera bangkit dari duduknya. Sedangkan Dara merapikan beberapa helaian rambutnya agar terlihat rapi dan cantik.


Sedangkan Elden hanya menatap datar wajah anaknya. Tak berminat menatap Dara sama sekali. Menurut Elden, hanya Lexa lah yang cantik dan enak di tatap.


Setelah itu, Lexa dan Elden langsung berjalan masuk ke dalam kamar anaknya.


"Mommy, sudah sedari tadi disana Sean. Apa kamu tidak menyadarinya?" Ujar Lexa dengan galak. Lalu, Lexa menatap menantunya. Istri anaknya. "Apa kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya Lexa dengan penuh perhatian dan duduk ditepi ranjang.


Dara tersenyum canggung. "Iya Mom, sudah merasa lebih baik." Jawan Dara dengan malu-malu.


"Mommy membawakan beberapa buah-buahan segar sama beberapa makanan enak untukmu."


Hati Dara menghangat mendengar perkataan Lexa. "Terimakaaih Mom."


Disisi lain, Sean menatap wajah Daddy-nya yang tampak datar dan menyeramkan. "Dad, mau sampai kapan wajah datar Daddy akan Daddy pakai? Kenapa Daddy, tidak memasang wajah yang selalu Daddy pakai ketika bersama Mommy? Wajah seperti anak kucing yang menurut pada singa betina." Kata Sean dengan entengnya.

__ADS_1


Elden langsung menatap tajam wajah Sean. Sedangkan Lexa langsung memutar kedua bola matanya malas. Pasti suaminya akan ngambek lagi.


"Sudah sayang. Jangan marah. Itu anakmu sendiri, oke." Ujar Lexa berusaha menenangkan suaminya yang tampak mulai emosi. Namun hal itu ternyata tidak berhasil sama sekali.


Dara mengernyit heran dengan keadaan absurd sekarang. Sean hanya membalas tatapan tajam Daddy-nya.


Lexa menghela nafasnya kasar. Sepertinya Lexa harus menggunakan cara rahasia yang ampuh untuk meluluhkan hati suaminya.


Lexa bangkit dari tempat duduknya. "Sebentar ya Dara. Mommy harus membujuk Daddy dulu." Bisik Lexa ke telinga Dara. Dara mengangguk dan tersenyum menanggapinya.


Lalu, Lexa langsung berjalan dan berdiri disamping suaminya.


"Heels warna merah." Bisik Lexa.


Namun, Elden hanya diam menanggapinya. Tidak merespon apapun.


"Baju sexy warna merah." tambahnya lagi.


Elden tersenyum tipis. "Di atas tempat tidur dan kamu berada di atasku." Kata Elden dengan menatap wajah istrinya.


"Baiklah. Deal."


"Deal."


Hal itu benar-benar cara ampuh untuk meluluhkan hati Elden, suaminya. Sedari dulu sampai sekarang. Elden memang benar-benar luluh jika di bujuk seperti itu. Semoga saja, sifat seperti itu tidak turun pada anaknya. Semoga saja.


Sedangkan Dara menatap bergantian wajah suaminya dengan kedua orang tua Sean. Dara benar-benar tidak mengerti apa yang kedua orang tua Sean perbincangkan dengan bisik-bisik seperti itu.


Lexa rersenyum manis ke arah Dara lalu menatap wajah Sean. "Sean, kapan kamu akan memberi mommy cucu? Rasanya kedua tangan Mommy gatal karena ingin menggendong cucu."


Dara langsung tersedak dengan air liurnya sendiri.


Sebentar. Sebentar. Cucu? Berarti Dara harus hamil untuk mengandung anak Sean?


Sean menatap istrinya yang terbantuk. Sean dan Dara baru saja baikan. "Nanti Mommy. Sekarang kita sedang melakukan proyek tunggal putra. Tapi, berhubung istriku sedang sakit sekarang. Jadi itu tidak memungkinkan untuk melakukannya. Jadi untuk sementara waktu kita tunda terlebih dahulu sampai keadaan semua telah membaik." Jawab Sean.


Berbeda dengan Dara. Dara menatap galak wajah suaminya itu. Dari tatapannya seolah-olah menujukkan, "Sejak kapan aku mau melakukan proyek tunggal putra Sean?!"


Lexa menatap curiga wajah Sean dan Dara.


Lexa benar-benar mengerti keadaanya sekarang. Di otaknya terbesit sebuah ide cemerlang.


"Apa Lexa harus menggunakan caranya sendiri agar Sean dan Dara mau melakukannya? Ya mungkin haru Lexa lakukan yaitu dengan menggunakan sebuah obat-obatan."


Sepertinya itu perlu.


***


Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤

__ADS_1


__ADS_2