
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. ππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku π€
dan jangan lupa beri bintang 5 ya π
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata π€
Happy Reading
***
Setelah Lexa ditelfon oleh Garvin, Lexa segera menyuruh Elden untuk memutar arah mobilnya agar kembali lagi ke rumah sakit.
Kedua tangannya saling bertautan satu sama lain karena Lexa khawatir akan kondisi Dara sekarang.
Elden yang mengetahui kegelisahan istrinya, lantas megenggam jemari istrinya dengan menggunakan salah satu tangannya.
"Semua akan baik-baik saja sayang. Aku yakin. Sean pasti bisa menenangkan istrinya. Jangan khawatir, oke?" Ujar Elden dengan sesekali melirik ke arah Lexa.
Lexa mengangguk, mengerti. "Iya Elden. Semua pasti baik-baik saja. Tapi, aku hanya khawatir akan kondisi psikologis Dara. Kedua bayinya pergi meninggalkannya padahal dirinya telah menanti-nanti akan kehadirannya. Apalagi mereka berdua menjaganya dengan sebaik mungkin Elden. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih memilih memanggil kembali kedua bayi itu. Dan itu adalah anak pertama mereka. Aku bisa merasakan kehancuran dan kesedihannya. Meskipun aku tidak pernah merasakannya, tapi aku bisa ikut merasakan rasa sakit dan kesedihan mereka." Kata Lexa dengan menatap sendu ke arah jalanan.
"Iya sayang. Aku mengerti itu. Tapi, kita harus bagaimana lagi, semuanya telah terjadi bukan?" Ucap Elden dengan tetap fokus menyetir mobilnya.
Lexa terdiam di mobilnya. Tidak menanggapi perkataan suaminya tadi. Pikiran dan hatinya sekarang sedang berperang. Semoga saja Sean dan Dara baik-baik saja.
Setelah itu, perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 10 menit itu hanya diisi dengan keheningan.
Dan akhirnya tidak lama kemudian, mereka telah sampai juga di Rumah Sakit. Lalu, Lexa dan Elden segera membuka pintu mobilnya dan berjalan menuju lantai 8 tempat Dara dirawat.
Ketika sampai didepan pintu rawat inap Dara, tangan Lexa langsung berhenti ketika mendengar percakapan kedua anaknya.
Hatinya terenyuh ketika mendengar percakapan keduanya. Bahkan Elden juga merasa tersentuh ketika mendengar perkataan Dara.
Dipeluknya tubuh Lexa dengan erat.
"Anak dan menantu kita adalah orang yang kuat sayang." Ujar Elden dengan menatap pintu kaca ruangan anaknya.
__ADS_1
Lexa mengangguk. Kedua bola matanya telah sembab karena menangis. "Iya sayang. Mereka adalah anak yang kuat. Aku rasa, anak kita telah memilih seorang istri yang hebat dan tepat untuk dirinya." Ucap Lexa dengan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Elden.
"Sudah siap untuk masuk?" Tanya Elden dengan mengecup puncak kepala istrinya.
"Iya Elden. Ayo masuk. Kita hibur mereka dan kita kuatkan mereka." Kata Lexa dengan menghapus sisa air matanya di kedua bola mata cantiknya.
Lantas, Elden dan Lexa langsung membuka pelan pintu ruangan.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka.
Sean dan Dara yang tengah berpelukan, lantas langsung melepas pelukannya.
"Mommy." Lirih Dara dengan menatap Mommy dan Daddy Sean.
Sedangakan Sean mengusap buliran kristal yang jatuh membasahi kedua bola matanya dan ikut tersenyum.
"Mommy dan Daddy apa kabar?" Ujar Dara dengan tersenyum manis.
Dan lihat. Bahkan setelah semua yang telah terjadi, Dara tetap tersenyum dengan apa yang semua yang telah ia alami.
"Mommy baik-baik saja sayang." Jawab Lexa dengan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Dara. "Anak mommy apa kabar?" Tanya Lexa dan berdiri disamping tempat tidur Dara.
"Aku baik-baik saja Mommy." Jawab Dara dengan tersenyum. Padahal hati dan perasaanya sekarang terasa remuk redam.
Lexa yang mendengar jawaban dari Dara, lantas langsung memeluk tubuh mungil anaknya.
"Kamu hebat sayang. Kamu hebat. Kamu kuat." Ujar Lexa dengan mengusap pelan punggung Dara.
Buliran kristal jatuh membasahi kedua bola mata Dara. Dara juga membalas pelukan Lexa dengan erat. Hanya mereka yang ia punya sekarang.
"Hiks!" Isak tangisan mulai terdengar dari bibir mungil itu.
"Menangislah sayang. Tumpahkan semuanya. Mommy, Daddy dan Sean akan selalu berada disampingmu." Ujar Lexa. Bahkan Lexa juga ikut menangis sekarang. Lexa benar-benar dapat merasakan kesedihan dari Dara sekarang.
Sedangkan Elden menepuk pelan punggung lebar Sean.
Sean menoleh dan menatap wajah Daddynya dengan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja son." Kata Elden dengan tetap menatap istri dan menantunya.
"Yes, Dad." Jawab Sean dan menatap istri dan Mommynya.
"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan son?" Tanya Elden dan mengalihkan pandangannya untuk menatap wajah anaknya.
"Aku akan menghabisi orang yang merupakan dalang dibalik semuanya Dad. Aku akan meghabisinya dengan tanganku sendiri Dad. Tapi, untuk sementara ini aku akan fokus untuk kesembuhan istriku." Ujar Sean dengan menatap Mommy dan istrinya yang tengah berpelukan.
"Serahkan itu ke Daddy. Daddy akan menemukan orang itu. Kau tau bukan, Daddy dan Uncle Rafael bisa diandalkan apalagi dalam urusan seperti ini." Kata Elden dengan menyeringai tipis. Elden benar-benar ingin menguliti dan momtong habis badan dari orang yang telah menjadi dalang semuanya.
"Terimakasih Dad. Tapi jangan langsung Dady habisi. Aku ingin mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Aku ingin tau alasannya ia melakukannya." Kata Sean dengan menatap wajah Elden yang tengah menggelap. Seperti menahan emosinya.
"Baiklah son. Daddy tidak akan menghabisinya. Tapi setelah kamu telah menemukan jawabannya, jangan cegah Daddy untuk menghabisinya. Karena itu akan percuma saja. Daddy akan tetap melakukannya sampai Daddy benar-benar merasa puas."
"Yes Dad." Jawab Sean.
"Untuk sekarang lebih baik kamu fokus dengan kesembuhan dan kesehatan istrimu. Untuk masalah orang itu, serahkan Daddy. Daddy akan menemukan dan menangkap hidup-hidup dan membawa orang itu kehadapanmu." Ucap Elden dengan suara yang dingin.
"Yes Dad." Jawab Sean. Karena sebenarnya Sean juga tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Sean harus fokus untuk menjaga istrinya. Sean tidak ingin lengah dan membuat istrinya celaka lagi.
***
Sedangkan disisi lain terlihat seorang laki-laki tengah duduk dilantai sebuah ruangan dengan tersenyum tipis.
"Lihat Ray, aku sudah membalasnya. Sean telah merasakan apa yang aku rasakan dulu. Ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi bahkan Sean merasakan kedua kali lipat yang aku rasakan dulu." Katanya dengan menyesap minuam wine yang berada ditangannya.
"Jika saja Sean dulu tidak mengabaikan ajakanmu dulu, mungikin kamu sekarang masih berada disini untuk menemaniku." Ujarnya dengan sebuah tersenyum tipis.
***
Kalau yang mau ikutan event dadakan yang aku adain kalian bisa follow IG aku ya. Dan mungkin hadiahnya sederhanaπββοΈ Dan untuk event dadakan yang aku adain kemarin sudah ada pemenangnya ya π
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya π
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga π
instagram: @fullandari
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana π
__ADS_1
Aku tunggu notif dari kalian ya π Terimakasih teman-teman.. β€