My Possesive Husband

My Possesive Husband
160. DENDAM


__ADS_3

Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊


Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..


Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗


dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya 😚


Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗


Happy Reading


***


Sean hari ini benar-benar disibukkan dengan kegiatan di kantornya. Rapat dan memeriksa kembali beberapa dokumen perusahaan telah ia lakukan. Bahkan selama seharian ini Sean hanya bisa mengabari istrinya beberapa kali, tidak terlalu sering. Untungnya istrinya mau mengerti dan semakin menyemangati dirinya untuk bekerja. Melalui via telfon dan video call Sean mengabari istrinya. Setidaknya itu sedikit mengobati rasa rindunya ke istrinya.


"Hufft.." Sean menghela nafasnya pelan. Tubuhnya ia sandarkan ke kursinya dengan kepala yang mengadah ke atas. Sean juga harus menyelesaikan persoalan mengenai pembantaian keluarga istrinya dan juga harus melanjutkan pekerjaanya sebagai Mafia yang sempat tertunda.


Jam telah menunjukkan pukul 7 malam. "Sial, sebentar lagi aku akan bertemu dengan Darren." Umpatnya pelan.


Lalu, dengan tergesa-gesa Sean langsung mengemasi barang-barangnya dan segera keluar dari ruangannya.


Dengan langkahnya yang lebar dan tegas, Sean berjalan melewati karyawannya yang masih bekerja.


Setiap kali berpasannya dengannya, karyawannya langsung membungkuk dan memberi hormat.


Akan tetapi, langkahnya langsung terhenti ketika ada seorang perempuan yang berhenti di depannya.


"Kau--" Suaranya tertahan ketika melihat wajah perempuan itu yang tengah berdiri menghadangnya dengan wajahnya yang sembab. Perempuan itu adalah Alice. Ingin rasanya Sean mengguliti habis perempuan yang berani menghadang jalannya.


"Tuan tolong jangan pecat saya." Mohonnya dengan kedua bola mata yang telah basah air mata.


Sontak saja, dirinya dan Alice langsung menjadi sorotan karyawannya. Semua mata langsung tertuju padanya.


"Shitt!"

__ADS_1


Umpatan dengan suaranya yang dingin itu seketika membuat orang yang mendengarnya langsung bergidik ngeri dengan bulu kuduk yang meremang.


"Kau! Sudah kubilang kau dipecat!" Bentak Sean dengan suaranya yang keras.


"Tapi aku mohon tuan, maafkan ketidak sopanan saya. Beri saya kesempatan lagi." Ujar Alice dengan memasang wajah yang sedih dan penuh pernohonan. Berusaha mencari simpati orang yang melihatnya. Namun, sayangnya itu tidak berpengaruh ke laki-laki yang berdiri di hadapannya. Harusnya Alive tidak bertindak gegabah tadi.


Sean menyeringai tipis. "Mungkin kau harus sekolah terlebih dahulu agar bisa bekerja di perusahaanku. Sepertinya kau juga tidak mengerti dengan peraturan yang berlaku disini." Kata Sean dengan memandang rendah Alice. "Kau menghalangi jalanku dua kali dan kau masuk ruangan kerjaku tanpa ijinku satu kali. Dan sekarang kau membuang-buang waktuku yang berharga dengan dirimu yang tidak artinya. Mungkin dipecat dan dikeluarkan dari perusahaanku itu masih belum cukup menjadi balasan yang telah kau lakukan." Ucap Sean dengan menatap datar perempuan di hadapannya. Aura menyeramkan yang keluar dari tubuh Sean sangat terasa sekarang. Alice, karywan dan beberapa bodyguard yang sedang berada disana juga merasakan hawa menyeramkan itu.


Jemari Alice mengepal kuat disisi roknya ketika merasakan aura menyeramkan itu. Aura intimidasi yang sangat menodominasi hingga membuatnya tak bisa berkata apapun lagi. Pantas saja Sean dijuluki sebagai pembunuh berdarah dingin.


Sean tersenyum tipis melihat itu. Sean tidak terlalu bodoh dalam melihat perubahan sikap yang dilakukan oleh Alice. "Jika kau berniat menggodaku, kau salah Alice. Aku sudah memiliki istri dan kau juga bukan seleraku." Tambahnya lagi.


Tidak hanya Alice yang mendengarnya. Tapi semua karyawan yang sedang berada disana mendengarnya. Inilah bos mereka. Sean Crishtian.


Setelah itu, dengan angkuhnya Sean langsung berjalan melewati Alice begitu saja. Meninggalkan Alice yang merasa malu sekarang.


Suara bisik-bisikan tentang dirinya mulai terdengar dari seluruh karyawan.


"Sialan kau Sean!"


***


Tak berselang lama, akhirnya Sean telah sampai di markasnya yaitu markas Geng Mafia Crowned Eagle.


Akhirnya Sean tiba juga dan untungnya disana masih ada mobil sport milik Darren, Nick dan milik Damian. Sepertinya rapat ini tidak akan dilakukan hanya berdua, tapi berempat.


Lalu, dengan langkah tegasnya, Sean berjalan masuk ke dalam markas.


"Hai bung." Sapa Nick dengan menyeringai tipis. Sean baru ingat, sudah beberapa hari ini Nick hilang tanpa kabar, dan lihatlah penampilan Nick sekarang. Nick terlihat sangat berbeda daripada sebelumnya. Aura yang dipancarkan dari tubuh Nick juga sangat berbeda daripada sebelumnya. Auranya terasa lebih menyeramkan. Aura gelap. Padahal Nick biasanya selalu mengeluarkan aura yang bersahabat.


Sedangkan Damian, Damian masih tetap seperti biasa. Auranya masih sama dengan yang dulu. Tapi, tubuhnya lebih berotot dan lebih segar daripada sebelumnya. Sean tau siapa yang membuat Damian seperti ini. Siapa lagi jika bukan Sena. Perempuan yang sukses membuat Damian seperti ini.


Dan Darren. Darren terlihat lebih dingin dariapad sebelumnya. Auara dingin dengan tatapan yang dingin. Sungguh, Sean tak habis pikir, bagaimana bisa Darren memasang aura dingin yang menyeramkan seperti itu? Apa sahabatnya memakan ice batu hingga sedingin es batu?


Lalu, apa kabar dengan dirinya? Sahabatnya juga merasakan aura yang sangat berbeda dari tubuh Sean. Sean terlihat lebih menyeramkan sepuluh kali lipat daripada sebelumnya. Hanya saja tertutupi dengan sikapnya yang terlihat tenang dan wajahnya yang datar.

__ADS_1


Lantas Sean duduk di kursinya.


Sean, Nick, Damian dan Darren telah duduk dikursi kebesarannya masing-masing. Mereka sedang duduk melingkar dengan sebuah meja yang berada ditengahnya.


"Apa kabar bung?" Tanya Nick.


"Seperti yang kau lihat Nick. Aku jauh lebih baik daripada sebelumnya." Jawab Sean dengan memainkan kunci mobil yang berada di tangannya.


"Kami sudah menunggumu beberapa menit yang lalu." Kini Damian mulai berbicara.


"Ya aku tau Damian. Tadi sedikit ada masalah yang harus aku selesaikan dengan mantan sekretaris baruku." Ujar Sean.


Kening Darren langsung berkerut. "Sekretaris baru? Apa yang kau maksud itu Alice?" Tanya Darren tepat sasaran. Sontak saja hal tersebut menjadi tanda tanya terbesar dari Sean, Nick dan Damian.


"Bagaimana kau bisa mnegetahuinya Darren?" Kata Sean dengan menatap wajah Darren dengan pandangan yang bertanya-tanya.


"Oho.. jangan remehkan Darren, Sean. Dia selalu bisa diandalkan apalagi dalam mencari seseorang. Dia selalu diandalkan." Sahut Nick yang diangguki oleh Damian.


"Kenapa kalian bisa ada disini juga? Bukankah aku hanya akan bertemu dengan Darren?" Ujar Sean dengan mengetuk pelan mejanya dengan menggunakan jari-jarinya.


"Aku yang mengajak mereka berdua. Karena akan ada informasi penting yang akan aku bicarakan ke kalian. Mungkin kalian akan sangat tidak menyangkanya." Ujar Darren yang mulai berbicara serius. Darren juga tidak ingin membuang-buang waktunya.


***



Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊


Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊


instagram: @fullandari


Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊


Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤

__ADS_1


__ADS_2