
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. 🙂😊
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku 🤗
dan jangan lupa beri bintang 5 ya 😚
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata 🤗
Happy Reading
***
Setelah kepergian Sean ke rumah sakit, kini hanya tersisa Elden dan Roy yang berada di taman pemakaman itu.
"Aku ingin berbicara sesuatu pada mu Roy." Ujar Elden dengan wajahnya yang datar. Dengan tangan yang dimasukkan ke salah satu saku celananya Elden berdiri menjulang tinggi menghadap tangan kanan anaknya.
"Baik tuan." Jawab Roy dengan sopan.
"Ikuti aku. Aku butuh tempat privasi untuk berbicara denganmu." Kata Elden dengan tenang dan berjalan melangkah terlebih dahulu.
Roy dengan patuh mengikutinya dari belakang. Tapi Roy merasa ada yang mengganjal di perasaannya. Roy merasakan suatu aura yang berbeda dari Daddy tuannya itu. Aura yang sangat menakutkan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan tatapan yang terlihat tenang itu membuatnya curiga.
Dan sampailah mereka berdua di gudang belakang mansion.
Lantas, Elden berhenti melangkahkan kakinya. Begitupun juga dengan Roy yang ikut berhenti melangkahkan kakinya.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu Roy." Ujar Elden dengan seringai tipis yang tersungging dibibirnya.
"Apa itu tuan?" Tanya Roy dengan jantung yang berdetak dengan sangat cepat.
Deg
Deg
Deg
Dengan wajahnya yang datar Elden menatap wajah Roy yang terlihat gelisah."Jadi, apa kau ikut andil juga Roy?" Tanya Elden dengan seringai tipisnya. Seringai yang menyiratkan akan kematian.
Deg
"Apa maksud tuan?" Tanya Roy yang tidak mengerti. Namun, tak dapat ia pungkiri jika dirinya sekarang diselimuti rasa takut.
Elden mendengus pelan. "Tidak perlu berpura-pura bodoh Roy. Aku tau kau mengerti apa yang aku maksud tadi. Jadi, apa kau ikut andil dalam peristiwa keguguran istri anakku?" Ujar Elden to the point.
Tubuhnya langsung membeku ditempatnya. "Saya tidak tau apa-apa tuan." Jawab Roy dengan berusaha tampak tenang. Namun, apa yang ia lakukan malah semakin membuat Elden menyeringai tipis.
"Benarkah? Aku tidak yakin itu." Ujar Elden dengan menatap datar wajah Roy.
"Saya hanya.." Tangan Roy mengepal kuat.
__ADS_1
"Bicara yang sebenarnya atau kau akan habis ditanganku Roy. Kau tau bukan jika aku tidak pernah main-main dengan perkataanku." Ucap Elden dengan dingin dan wajah yang datar.
Aura mematikan menguar menghiasi tubuh Elden. Menbuat Roy sedikit merasa ketakutan karena aura menakutkan yang terasa mendominasi.
Tangannya mengepal kuat ketika lagi dan lagi Roy melihat bayangan Liya yang tengah berdiri disana. Tengah tersenyum sambil melambaikan tangan padanya.
"Jujur pada tuan Elden, Roy." Bisikan lembut ditelinganya membuatnya merasa merinding.
Namun, perasaannya juga mengatakan ya. Lebih baik berkata jujur agar masalah yang ia alami sekarang cepat selesai.
Roy, berusaha mengatur degup jantungnya. Sungguh, rasanya berbeda sekali. Lalu dalam tarikan nafas, Roy mengatakannya. "Saya tidak ikut andil dalam peristiwa itu tuan. Hanya saja waktu itu saya berjalan melewati kamar nona Dara, saya mendengar suara rintihan kesakitan. Karena saya khawatir akan suara rintihan itu, sayang mengeceknya. Dan saya begitu terkejut ketika melihat nona Dara yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya dengan darah yang keluar dari sela-sela kakinya. Nona Dara meminta bantuannya pada saya, tapi.. tapi saya malah menolaknya."
Dan
Bug
Elden langsung melayangkan bogeman mentah ke rahang Roy. "Sialan!" Umpat Elden dengan kasar.
Roy yang mendapatkan pukulan yang tiba-tiba langsung jatuh terduduk di lantai gudang.
Darah keluar dari sudut bibirnya. Bukti jika Elden memukulnya dengan sangat keras.
"Berani-raninya kau menunjukkan batang hidungmu kehadapan anakku!!" Bentak Elden dengan keras.
Dicengkramnya dengan kuat kerah baju Roy dengan menggunakan tenaganya. Hal itu sukses membuat Roy merasa kesulitan untuk bernafas.
"Tuan, saya lakukan itu bukan tanpa alasan!" Ujar Roy dengan menahan tangan Elden yang terus mencengkram kerah bajunya. Seperti ingin meremukannya.
"Setiap kali saya melihat nona Dara, saya selalu teringat Liya. Setiap kali melihat senyumannya saya selalu teringat wajah Liya yang memohon ampun! Setiap kali saya mendengar suara tawanya, saya selalu teringat Liya yang tengah menangis dan meringkuk kesakitan!" Kata Roy dengan tegas. Tanpa ia sadari buliran kristal membasahi kedua bola matanya. "Setiap kali melihat kebersamaan mereka berdua, saya selalu teringat kebersamaan saya dengan Liya, tuan."
"Liya perempuan yang aku cintai ditembak mati dihadapanku. Dan bodohnya aku, aku tidak melakukan apapun karena terlalu terkejut dengan apa yang telah terjadi waktu itu." Lirihnya pelan dengan mengusap air matanya.
Deg
Elden tertegun dengan apa yang dikatakan Roy tadi.
"Dihadapanku Liya ditembak mati oleh tuan Sean karena Liya membantu nona Dara kabur dari mansion. Dan sekarang lihat? Nona Dara bahagia dengan tuan Sean. Sedangkan Liya waktu itu? Dengan keberaniannya, Liya berani mengorbankan nyawanya demi kebebasan dan kebahagiaan nona Dara. Tapi, saat aku melangkah meninggalkan nona Dara, aku melihat bayang-bayang Liya yang tengah tersenyum dan menatap nanar padaku. Sungguh, hal itu membuat hatiku sesak. Lalu, aku memutuskan untuk kembali ke kamar nona Dara, tapi sayang nona Dara telah tak sadarkan diri. Namun saya tak berhenti disitu, saya tetap membawa nona Dara ke rumah sakit, berharap jika akan baik-baiknya. Namun, hal itu diluar dugaanku, ternyata babby twins mereka tak bisa diselematkan." Jelas Roy.
Elden terdiam ditempatnya. Jika Elden di posisi Roy, Elden pasti akan melakukan hal yang sama. Bahkan Elden tak mungkin kembali. Sedangkan Roy, Roy masih punya hati untuk kembali dan membawa Dara untuk kerumah sakit.
"Berdiri Roy." Titah Elden dengan tegas.
Lantas, Roy dengan patuh langsung berdiri dan menghadap Elden.
"Maafkan putraku Roy. Aku tau jika kau jelas mengerti bagaimana watak dan sikap Sean, jadi aku berharap kau mau memaafkannya." Ujar Elden.
"Iya tuan." Jawab Roy dengan sopan.
"Jadi, apa kau tau siapa dalang dibalik ini semua?"
Roy menggeleng pelan. "Tapi, yang saya tau sekarang Afi tidak ada di mansion sejak kejadian itu. Jadi, bisa dibilang, tersangka utamanya sekarang adalah Afi." Kata Roy memberikan pendapatnya.
__ADS_1
Alis Elden saling bertaut, heran. "Afi? Kepala pelayan baru itu?"
Roy mengangguk. "Iya tuan. Pelayan baru pengganti Liya."
Oke. Elden mengerti sekarang. Ternyata ada penyusup di msnsion anaknya. Dengan cepat Elden segera menghubungi Rafael, sahabatnya dan panggilan langsung terhubung.
"Raf, lo cepat cari tau tentang Afi kepalayan baru anak gue."
"Yaelah El, ini aja gue baru bangun tidur dan lo nyuruh gue cari tau tentang kepala pelayan anak lo? Oh, men.. gue masih mau mantap-manrap sama istri gue."
"Sialan lo. Masih pagi otak lo udah ngeres."
"Kayak lo aja ngga El."
"Cepat lo cari tau Raf keberadaanya Afi sekarang. Dua jam lagi, laporan itu harus ada. Gue harus ngurusin beberapa hal penting yang lain."
"Ya ya tuan Elden yang terhormat."
Elden memutar kedua bola matanya malas. Sungguh, ingin rasanya Elden menghajar habis wajah sahabatnya itu.
Sedangkan Roy berusaha meyakinkan pendengarannya. Apa Roy tidak salah jika ayah dari tuannya seperti ini? Tampak sangat berbeda jika dengan dunia kerja dan dunia pribadinya.
"Kau coba cari barang-barang yang bisa dijadikan bukti di mansion." Titah Elden dengan tegas.
"Baik tuan." Jawab Roy. Setidaknya, dirinya masih bisa diberi kesempatan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
***
Sementara itu, Sean telah sampai di markasnya yaitu markas 3.1. Tempat perkumpulan anggota inti dari Geng Mafia Crowned Eagle.
Dengan langkahnya yang lebar, Sean segera memasuki kedalam markas dan disana Sean melihat ketiga sahabanya (Nick, Damian dan Darren) tengah berkumpul dan duduk dikursi kebesarannya masing-masing.
Sesampainya di markas, Sean segera duduk dikursi kebesarannya.
Penampilannya terlihat sedikit berantakan tidak seperti biasanya.
"Info penting apa yang ingin kalian sampaikan?" Tanya Sean dengan duduk menyilangkan salah satu kakinya. Terkesan gagah dan sangat berwibawa.
Darren menarik nafasnya berkali-kali. "Aku tau..---" (Terpotong)
To be continue...
***
Penasarankan? Yuk buruan 500 komentar dan follow instagram author 💖
Yang mau ngobrol dengan Visual My Possesive Husband atau ingin memberi pesan/nasehat untuk Sean, Dara, Nick, dll kalian bisa follow Instagram aku ya 😊
Dan yang mau tau spoiler semua karyaku untuk next chapter bisa follow instagram aku juga 😊
instagram: @fullandari
__ADS_1
Kalian bisa tau info tentang Update semua karyaku, bisa memberi kritik atau saran lewat DM atau QNA, bisa ngobrol bersama pemain My Possesive Husband dan menambah teman disana 😊
Aku tunggu notif dari kalian ya 😊 Terimakasih teman-teman.. ❤