
Jangan lupa vote dan sarannya yaa.. Karna saran dan masukkan dari kalian itu penting.. ππ
Silahkan tinggalkan jejak dengan menekan tombol like dibawah agar aku lebih semangat update cerita ini..
Terimakasih sudah membaca ceritaku π€
dan jangan lupa beri bintang 5, 4, 3 ya π
Jangan lupa baca cerita aku yang lainnya. kisah nyata π€
Happy Reading
***
β οΈ WARNING! TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN DISINI. HARAP BIJAKSANA DALAM MENYIKAPINYA.
β οΈ YANG TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN, JANGAN DI BACA YA βΊ
"Jika kau tidak bisa melakukannya, maka nyawamu yang menjadi tanggungannya. Bukankah kau sudah mengerti mengenai dunia Mafia? Mata di balas dengan mata. Darah di balas dengan darah. Maka nyawa juga di balas dengan nyawa." Ujarnya dengan seringai menakutkan yang tersungging di bibirnya.
Deg
Tubuh James mematung di tempatnya. Darah yang keluar dari sudut bibirnya mulai mengering.
"Tapi itu adalah sesuatu hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan Sean. Bagaimana bisa aku menyusun kembali guci seperti semula sedangkan guci itu sudah hancur berkeping-keping?" Kata James dengan berusaha menegakkan tubuhnya. Wajahnya berdenyut sakit akibat pukulan telak yang dilakukan oleh Sean tadi.
Sean menyeringai senang. "Jadi, kau sudah siap menanggung akibat apa yang telah kau perbuat bukan?" Ujarnya dengan suara yang terdenagr dingin. Bahkan hawa di ruangan kerja ini terasa sangat dingin dengan aura yang menyeramkan. James, sebagai laki-laki saja merasa takut dengan aura yang dikeluarkan oleh Sean. James jadi tidak bisa membayangkan, kira-kira apa yang dilakukan oleh Raya dan Dara untuk menghadapi Sean yang sedang seperti ini?
Lalu, Sean berjalan menuju sebuah meja kerjanya. Dibukanya sebuah laci yang terdapat di meja itu. Setelah itu, diambilnya sebuah sarung tangan berwarna hitam yang bernahan kulit. Bahkan harga dari sarung tangan kulit hitam itu senilai puluhan juta.
__ADS_1
Dipakainya sarung tangan hitam itu di kedua tangannya dengan tersenyum licik. Membayangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. "Kau berani berbuat maka kau harus berani bertanggung jawab." Ujarnya dengan wajahnya yang langsung berubah datar. Jika James boleh memilih, James lebih suka dengan Sean yang dulu daripada sekarang.
Namun, sekali lagi, James juga harus mengatakannya. "Aku bisa menjelaskannya padamu." Ucap James dengan menatap wajah Sean. Berusaha bernegosiasi dengan Sean. Namun, berbeda dengan Sean. Sean seakan-akan sudah tidak bisa di ajak bernegosiasi. Mengingat dengan apa yang telah James lakukan. Mulai dari membunuh ke dua calon bayi Sean dan membuat istri Sean koma beberapa hari. Hal itu cukup menjadi alasan Sean untuk menghabisi James sekarang juga.
Apakah kalian masih ingat dengan kata-kata Sean waktu itu bukan?
Kalian salah karena telah bermain-main denganku. Kalian salah karena telah menyentuh istri dan anakku.
Larilah dan sembunyilah dengan sebaik mungkin. Tertawalah sekarang. Bersenang-senanglah sekarang sebelum aku menemukan kalian dan menghabisi nyawa kalian dengan tanganku sendiri.
Kau sentuh istriku. Berarti kau bermain-main dengan nyawamu.
Dan inilah yang terjadi sekarang. Sean tidak akan pernah bermain-main dengan perkataanya.
Tongkat baseball itu bukanlah tongkat baseball yang biasa. Karena Sean membeli tongkat baseball itu dengan harga 10 Miliar. Harga sangat fantastis untuk tongkat baseball. Dulu Sean membeli tongkat baseball itu saat masih duduk di hangku Senior Hight School. Jangan heran, karena sedari bayi Sean sudah terbiasa hidup dengan bergelimang harta. (Mungkin sewaktu pembagian harta dan ketampanan Sean datangβΊ Cuman waktu pembagian akhlak ngga datangπ)
"Apakah ada pesan terakhir James?" Ujar Sean dengan smirknya yang menakutkan. Diambilnya tongkat baseball itu dan dipegangnya. Setelah kedua bola matanya bergerak melihat tongkat baseball itu dengan wajah yang menggelap.
James menggeleng pelan. Tubuhnya bergetar. "Aku ingin menjelaskan kebenarannya padamu Sean." Ucap James dengan berusaha berdiri. Untungnya, James masih bisa berdiri sekarang dengan berpegangan pada sisi meja.
Tubuh Sean berbalik dan menghadap ke arah James. Menatap datar wajah sang korban dengan kening yang berkerut.
James yang melihat Sean seakan-akan memberinya ijin, maka James melanjutkan perkataanya. "Sebelumnya aku meminta maaf padamu mengenai masa lalu yang telah terjadi. Waktu itu aku memang tidur bersama Raya. Tapi bukan aku yang mengajaknya, tapi Raya yang mengajakku. Bukannya aku menyalahkannya, tapi laki-laki mana yang tidak aka tergoda dengan perempuan secantik Raya? Bahkan Raya menggodaku dengan gayanya.. dan..."
Bug
Sebelum James menyelesaikan perkataanya, dengan gerakan cepat Sean langsung memukul telak wajah James dengan menggunakan tongkat baseballnya. Membuat tubuh James langsung jatuh begitu saja dengan kepala yang mengeluarkan darah. "Jangan membicarakan hal-hal buruk tentang Raya!" Bentak Sean dengan suara yang menggelegar. Deru nafasnya tidak beraturan. Kedua bola matanya berkilat marah.
__ADS_1
Rasa pusing langsung menghantam kepalanya. Dengan gerakan pelan James memegangnya kepalanya yang telah Sean pukul dengan menggunakan baseball. Kedua bola matanya langsung membola ketika mendapati darah telah berada di tangannya. "Aku berbicara yang sebenarnya. Ijinkan aku menjelaskannya terlebih dahulu." Ujar James dengan suaranya yang lirih. Mencoba untuk meminta waktu kepada Sean.
Sungguh, James merasa sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan dulu. Jika boleh, James ingin menebus kesalahannya. James ingin memperbaikinya. Meskipun Sean telah memberi isyarat padanya jika James tidak akan bisa memperbaikinya. Akan tetapi, di lubuk hatinya yang paling dalam, James merasa sangat menyesal. Jika James tau kebenarannya waktu itu, tau jika Sean tidak ada kaitannya dengan kematian Raya, James tidak akan pernah melakukan hal seperti ini.
Dulu, James adalah tipe orang yang mudah termakan dengan omongan orang lain. Padahal Elden telah mengatakan padanya jika jangan terlalu percaya dengan omongan orang lain, apalagi orang terdekat. Harusnya James melakukan apa yang telah Elden sampaikan padanya. Mencari tau kebenarannya sebelum mempercayainya. Namun, James terlalu naif dan dibutakan dengan amarah dan cintanya. Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang? Hanya ada rasa penyesalan bukan kebagiaan.
Nafas Sean tidak beraturan. Amarahnya masih memuncak ketika James membicarakan sesuatu hal yang buruk tentang Raya.
Tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras dengan tatapan yang tajam.
"Jelaskan padaku. Jika kau berani berbohong padaku lagi, jangan salah kan aku jika kau akan habis di tanganku malam ini." Ujar Sean dengan duduk di sisi meja.
***
Jangan lupa baca novel aku yang The King Of Mafia ya π€π Khusus π ke atas ya π Tidak aku UP di NT/MT karena kalau udah end langsung di bukukan π Silahkan follow IG aku yang bernama Fullandari untuk membaca novel The King Of Mafia π
Cuplikan Part :
"Sebenci itukah kamu pada ku? Sebegitu inginkah kamu menghancurkan ku Garv?" Lirihnya pelan nyaris tak terdengar.
Di kamar mandi itu hanya ada Lucy dan Garvin. Kamar mandi dengan cat warna abu-abu gelap itu semakin membawa kesan kepedihan untuk Lucy.
"Hiks!" Isakannya telah lolos dari bibirnya yang mungil. "Tidak cukupkah kamu menghancurkan kebahagiaanku? Tidak cukupkah kamu membunuh orang-orang yang aku sayangi? Tidak cukupkah itu Garv? Tidak cukupkah itu untuk membalas luka dari masa lalu?" Lucy menggeleng pelan dengan menatap sendu suaminya. Suami yang selama ini ia cinta dan ia sayangi.Β
"Kau sudah menghancurkan kebahagiaanku. Kau sudah membunuh orang-orang yang aku sayang, dan sekarang kau menghancurkan aku dengan tubuhku. Apa masih kurang itu Garv untuk membalas rasa sakitmu? Aku minta maaf. Aku minta maaf karena telah mengecewakanmu. Aku sudah menjelaskannya padamu. Menceritakannya padamu. Tapi kau sama sekali tidak percaya padaku. Kau lebih memilih untuk percaya dengan bukti palsu itu. Apa kau tidak mempunyai hati nurani sedikitpun untukku?"
__ADS_1