Oktrouble

Oktrouble
Gara-Gara Makanan Instan


__ADS_3

Ah.. Ah... Ah... Ah.. Terdengar suara rintihan dari kamar Deni dan Nia. Seperti biasa, Sebelum tidur pulas. Keduanya melakukan aktivitas suami istri yang sempurna.


Nia begitu agresif menunjukkan hasrat seksualnya yang begitu tinggi. Sementara Deni nampak mulai bosan melakukan hubungan seksual dengan Nia. Tak ada sesuatu yang special dari hubungan itu, selain kenikmatan yang hanya berlangsung beberapa saat saja.


Deni langsung menarik selimutnya untuk tidur. Sementara Nia yang haus akan kasih sayang, terus berusaha membuat Deni kembali terangsang. Tetapi cukup untuk hari ini, satu kali berhubungan saja. Tidak lebih. Sebab Deni merasa lelah, ingin segera tidur.


Nia mematikan lampu, kemudian secara perlahan dia mulai memejamkan matanya untuk tidur. Tak ada pelukan hangat yang diberikan oleh Deni. Selain sebuah guling yang mendekap hangat tubuhnya.


Sekuat-kuatnya Nia memejamkan mata, tetapi rasa kantuk yang tak urung berjumpa dengannya. Tak membuat Nia tertidur juga. Nia kembali membuka matanya. Melihat punggung Deni yang penuh dengan keringat. Nia ingin menyentuh Deni, tapi dia ragu. Nia takut mengganggu tidur Deni.


Untuk mengusir rasa bosan yang mulai melanda hatinya. Nia beranjak dari kasurnya. Nia ingin pergi ke balkon rumahnya untuk sekedar menyapa angin malam. Sedikit hembusan angin, bisa membuatnya mengantuk.


Namun sebelum benar-benar bertemu dengan angin malam. Nia tiba-tiba ingin segelas teh tawar hangat. Nia pergi ke dapur untuk membuat teh tawar hangat.

__ADS_1


Baru tiba di dapur, Nia dibuat marah. Brian sang putra sulungnya tengah asyik makan mie instan. Sementara mbok Parni yang baru balik dari kampung, tengah mencuci panci sisa merebus air yang digunakan untuk membuat mie instan tersebut.


"Kenapa kamu makan mie instan ini?" Bentak Nia pada Brian.


Melihat Brian di bentak oleh Nia. Mbok Parni langsung pasang badan. Dia mencoba membela Brian.


"Anu non, itu kesalahan saya. Saya yang telah membuat mie instan untuk den Brian." Terang mbok Parni.


"Iya mbok Parni kenapa mau buatin Brian mie instan. Mbok tahukan, mie instan kurang bagus untuk kesehatan. Terlebih anak-anak seperti Brian. Seharusnya dia tak diberikan makanan instan seperti ini." Tegas Nia.


"Iya, jika seperti itu seharusnya kamu bilang ke saya dulu. Jangan ambil keputusan begitu saja." Ucap Nia dengan nada tinggi.


Mendengar Nia yang marah-marah. Deni yang awalnya sudah pulas tertidur, kembali bangun. Dia bangkit dari tidurnya, untuk mencari sumber keributan yang ada.

__ADS_1


Deni akhirnya menemukan sumber keributan tersebut. Benar dugaan dari Deni. Keributan tersebut berasal dari dapur. Dia pun segera menghampiri sumber keributan tersebut.


"Ada apa ini?" Tanya Deni dengan nada tinggi juga.


"Ini mas, Brian bisa-bisanya dia makan mie instan seperti ini. Padahal aku gak pernah kasih dia mie instan kayak gini. Sebab bahaya juga buat kesehatan dia." Terang Nia.


"Jadi cuman karena mie instan, makanya ada keributan ini. Lagian kamu juga lebay banget sih Nia. Anak kita cuman makan mie instan. Tapi kamu bisa semarah ini. Dia cuman makan mie instan. Bukan racun Nia!" Tegas Deni dengan terang benderang.


"Tapi mas, Brian masih kecil. Aku gak mau dia jadi gampang sakit kalau mengkonsumsi makanan instan seperti itu." Bantah Nia.


"Dengar Nia. Keluarga aku gak ada riwayat sakit keras. Jadi gak usah khawatir dengan hal seperti itu. Jika Brian terkena, berarti genetik dari kamu itu." Ucap Deni dengan begitu kasarnya.


Mendengar ucapan dari Deni. Nia seketika menangis, dia tak menduga Deni akan mengatakan hal tersebut. Sebab e

__ADS_1


Deni kemarin sudah berjanji untuk tidak mengatakan hal buruk lagi pada Nia. Tapi Deni mengingkarinya. Dia tetap mengatakan kata-kata kasar pada Nia. Melukai hati Nia dengan begitu sakitnya.


Suasana balkon yang awalnya diharapkan untuk berjumpa dengan angin. Berganti menjadi sebuah kesedihan yang begitu dalam. Nia menangis hebat dengan ucapan dari Deni tadi.


__ADS_2