
2 minggu yang telah dilalui Gina di tempat rehabilitasi telah membawa kemajuan yang cukup signifikan akan kesehatan mentalnya. Diawal kedatangan Gina yang diselimuti kesedihan, kini telah berganti dengan tawa penuh kebahagiaan. Tak ada lagi ketakutan dan keinginan bunuh diri seperti saat-saat kedua orangtuanya meninggal. Kini Gina lebih optimis dalam menghadapi kehidupan.
Gina begitu asyik mendengarkan beberapa lagu yang dia putar di handphone pintarnya. Dengan kepala yang manggut-manggut. Gina mengikuti setiap irama yang keluar dari lagu yang di putar. Sesekali Gina tersenyum dengan lirik tersirat dari lagu tersebut. Lirik yang begitu menyentuh dan relate dengan kehidupannya.
Sarapan bersama para suster yang melayaninya. Gina mempertanyakan keberadaan Deni. Psikiater yang telah membawa perubahan dalam hidupnya. Dari tadi ia tak melihat Deni.
Seorang suster memberitahu jika Deni hari ini libur. Sehingga dia tak masuk kerja seperti biasanya. Gina sedikit kecewa, sebab dia sangat ingin bercerita dan berdiskusi dengan Deni.
Selesai makan, lalu mencuci piring bekas makannya. Gina melakukan panggilan video call dengan Deni. Ia ingin sekedar menatap wajah Deni.
Seperti biasanya, dengan buku yang sedang dibacanya. Deni tengah bersantai dengan segelas teh hangat di halaman rumahnya. Perasaan marah sisa semalam masih begitu nampak. Dia masih sedikit kesal pada istrinya yang dia anggap terlalu overprotektif terhadap kedua anaknya.
Mendapatkan panggilan video call dari Gina. Deni tersenyum sejenak. Gadis 14 tahun itu memang begitu membuat Deni sedikit bahagia. Sebab Gina mengingat Deni pada mantannya sendiri yang bernama Mira, yang tak lain adalah bibi dari Gina.
Membuang semua ekspresi kekesalannya. Deni memulai percakapan dengan Gina penuh dengan senyuman.
"Selamat pagi gadis cantik." Sapa Deni sambil melambaikan tangan pada Gina.
"Selamat pagi pak." Jawab Gina full senyum melihat Deni.
"Ada apa putri cantik video saya?" Tanya Deni.
__ADS_1
"Saya kangen sama bapak. Apakah bapak bisa kesini?" Jawab Gina meminta.
Deni menghela napas. Sementara Gina dengan wajah penuh harap, begitu mengharapkan kedatangan Deni ke tempat rehabilitasi untuk bertemu dengannya.
Tak tega dengan wajah mengiba yang ditunjukkan oleh Gina. Akhirnya Deni pun menuruti permintaan dari Gina. Dia pun berniat ke tempat rehabilitasi untuk bertemu dengan Gina. Gina di minta untuk menunggu Deni kurang dari 1 jam. Deni sudah akan sampai disana.
Gina langsung menyambut dengan sorak-sorai akan janji Deni tersebut. Dia mengharapkan Deni akan segera tiba di tempat rehabilitasi untuk bertemu dengannya. Sebuah rindu yang harus terbalaskan.
Demi menepati janjinya pada Gina untuk sampai di tempat rehabilitasi dalam waktu kurang dari 1 jam. Deni mengganti pakaian santainya dengan pakaian casual. Dia mencari sebuah turtleneck yang akan dipadukan dengan sebuah celana chino berwarna hijau pekat. Sebuah perpaduan yang cukup sempurna.
Baru membuka pakaian santainya. Deni langsung diberondong pertanyaan dari istrinya. Nia ingin tahu Deni hendak kemana. Sebab ini hari libur untuk Deni, mengapa dia malah ingin pergi keluar. Seharusnya Deni menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya.
Deni yang arogan serta egois, justru marah dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nia. Dia begitu emosi saat Nia memberondong pertanyaan kepadanya. Deni bukan ingin berkencan dengan perempuan lain, dia hanya ingin menemui pasien. Apakah itu salah?
Argumentasi dari Nia tetap tak mempan untuk Deni. Ia tetap pergi untuk menemui Gina yang ingin mengobrol dengan Nia. Sementara Nia sendiri ingin menghabiskan waktu bersama Deni. Ingin bercerita banyak hal, tapi Deni justru cuek dan terkesan acuh pada keluarganya sendiri. Deni seolah bosan dengan kehidupan keluarganya yang tak dapat Deni rasakan sebagai sebuah kebahagiaan.
Masih emosi dengan Nia. Deni memacu mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Beberapa kali, mobilnya hampir saja menabrak kendaraan lain yang ada di jalanan. Untung nasib baik masih menghampiri Deni. Sehingga dia masih selamat dari kecelakaan hebat yang hampir merenggut nyawa dan mobil mewahnya.
Kurang dari setengah jam yang dijanjikan Deni pun di tepati dengan baik oleh Deni. Bahkan jauh, hanya sekitar 35 saja perjalanan Deni dari rumahnya menuju tempat rehabilitasi.
Tak harus keluar dari mobilnya. Gina yang sudah menunggu Deni diluar gerbang tempat rehabilitasi. Langsung masuk, begitu mobil Deni tiba di depan gerbang. Deni seketika terkejut dengan kedatangan Gina yang tiba-tiba tersebut.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" Tanya Deni.
"Aku ingin ziarah ke makam kedua orangtua aku." Jawab Gina memasang sabuk pengamannya.
Deni terdiam. Dia tak mau Gina kembali mengingat akan kematian orangtuanya lagi. Sehingga pikirannya untuk bunuh diri kembali hadir.
"Gimana kalau kita ke mall saja. Makan, terus bermain-main seperti beberapa waktu yang lalu itu." Tawar Deni.
"No pak psikiater, aku ingin ziarah ke makam ayah sama mama aku. Aku sekarang udah ikhlas dengan kepergian mereka. Jadi aku gak akan sedih lagi, aku sudah menerima semuanya." Tolak Gina dengan tegas.
"Janji!" Pinta Deni sambil menyodorkan kelingking miliknya.
"Janji!." Gina menyambut kelingking jari Deni dengan kelingkingnya.
Saling berbalas senyuman dilakukan. Sebelum akhirnya Deni melajukan mobilnya.
Perkembangan Gina benar-benar cukup baik. Dia terlihat sudah semakin sembuh. Tak ada kesedihan seperti 2 minggu yang lalu. Menceritakan kedua orangtuanya pun Gina melakukannya dengan begitu semangat, tanpa kesedihan apapun.
Gina juga mengajak Deni untuk membeli bucket bunga yang ingin dia hadiahkan pada makam kedua orangtuanya. bucket bunga mawar merah yang biasa digunakan untuk nyekar ingin Gina hadiahkan pada makam kedua orangtuanya.
Tanpa harus memilih toko bunga. Bunga di pinggir jalan pun menjadi opsi yang di pilih Deni untuk membeli bucket bunga mawar yang diinginkan oleh Gina.
__ADS_1
Sesampainya di depan toko bunga itu. Gina yang begitu antusias, masuk terlebih dahulu. Sementara Deni mengikuti Gina dari belakang.
Gina langsung memilih bunga yang hendak ia hadiahkan untuk makam kedua orangtuanya. Tetapi Gina ingin