
Jam pulang kerja sudah tiba. Brian sudah tidak sabar untuk melihat lato-lato yang akan di berikan ayahnya pada dirinya. Brian sedari tadi sudah berada di teras rumah. Menunggu Deni yang tentu sebentar lagi akan tiba di rumah.
Nia meminta Brian untuk masuk ke dalam rumah. Tapi Brian meminta tetap berada di teras rumah, untuk dapat menyambut kedatangan Deni yang telah di nantikan oleh dirinya.
"Kita masuk dulu sayang, nanti juga ayah pasti masuk ke dalam rumah." Ajak Nia.
"Enggak! Aku mau menunggu ayah di sini." jawab Brian menolak permintaan dari Nia.
Tak berselang lama, mobil dari Deni terlihat masuk ke dalam gerbang rumah. Brian langsung tertawa bahagia melihat kedatangan dari mobil Deni. Brian sudah tidak sabar untuk melihat mainan lato-lato yang akan dibelikan oleh Deni kepada dirinya.
Deni keluar dari dalam mobil dengan menenteng tas dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya Deni gunakan untuk menggantung jas kerjanya. Ada sedikit luka di wajah Deni. Luka akibat tonjokan keras dari seorang Roy di tenan mainan tadi. Wajah Deni juga nampak begitu lesuh.
__ADS_1
"Hore... Ayah akhirnya pulang, mana mainan lato-lato yang aku minta." tanya Brian pada Deni.
"Tidak ada! Ayah lupa membeli mainan itu. Besok ayah beli mainan itu." jawab Deni singkat.
Tanpa merasa bersalah, Deni langsung masuk meninggalkan Brian dan Nia di teras rumah. Brian yang kecewa pada seorang Deni. Langsung melampiaskan kekecewaannya dengan menangis.
Melihat Brian menangis, Nia mencoba menenangkan Brian. Dia memeluk Brian. Menjanjikan mainan itu akan Nia belikan untuk Brian secepat mungkin. Namun sebelum pergi membeli mainan itu, Nia menghampiri Deni terlebih dahulu. Nia ingin tahu apa yang membuat Deni lupa untuk membeli mainan yang di minta oleh Brian.
"Apa lagi!" Bentak Deni pada Nia.
Nia melihat luka lebam yang ada di wajah Deni. Dia berusaha menyentuh luka lebam yang ada di wajah suaminya tersebut. Namun Deni dengan segera menahan tangan Nia yang mencoba menyentuh luka yang ada pada Deni tersebut.
__ADS_1
"Kenapa wajah kamu penuh dengan luka lebam?" tanya Nia khawatir.
"Roy. Adik si bajingan Bio itu yang sudah membuat luka lebam ini. Aku tadi berantem sama dia tepat di tenan mainan. Aku ingin membeli mainan yang di minta oleh Brian. Tapi Roy ada di sana. Aku dan Roy saling berkelahi. Hingga aku dan dia, tidak bisa masuk mall itu lagi seumur hidup." jawab Deni penuh amarah.
Nia menatap sedih wajah suaminya itu. Terlebih Deni masih begitu menyimpan dendam yang membara pada seorang Roy. Dia ingin membuat Roy dan Bio menderita, sama seperti yang di alami oleh adiknya sendiri.
"Aku pikir kamu harus bisa mengontrol emosi kamu lagi. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk akan terjadi padamu. Aku harap itu tidak akan terjadi." ucap Nia meminta.
"Tidak akan! Aku akan menghabisi Bio dan adiknya. Mereka harus merasakan bagaimana hancurnya seorang Bella di buat oleh keduanya. Bio menghancurkan fisik dan mental Bella. Sementara Roy, telah membuat luka batin yang cukup dalam bagi Bella. Dia sengaja menghalangi Bella untuk bertemu dengan Nabila. Keduanya harus merasakan apa yang Bella rasakan." balas Deni dengan penuh amarah.
Deni yang ingin segera beristirahat, meminta Nia untuk tidak mengajak dirinya lagi mengobrol. Dia butuh waktu sendiri. Deni juga menolak tawaran dari Nia untuk mengobati luka lebam yang ada di wajahnya. Dia meminta Bella untuk membelikan mainan yang di minta oleh Brian. Sebab Deni tak ingin Brian kecewa berlarut-larut.
__ADS_1
Nia menuruti permintaan dari Deni. Dia segera menghampiri Brian, untuk mengajak Brian membeli mainan yang diinginkan. Sementara dalam hatinya, Deni begitu menyesali ucapannya yang cukup kasar pada Brian. Deni yang tempramental, terkadang sulit untuk mengontrol emosinya. Hingga tak jarang, dia meluapkan kekesalannya begitu saja.