
Kejadian di mobil, tetap tak bisa membuat Deni dengan Nia berdamai begitu saja. Terlihat keduanya masih menyimpan perasaan kesal satu sama lain. Terlebih Nia yang tak bisa begitu saja melupakan amarah Deni yang tak mendasar. Nia masih tak bisa menerima alasan apapun dari seorang Deni untuk amarahnya pada Nia.
Sampai di rumah, Nia langsung mengajak main dua jagoan kecilnya. Dimana keduanya meminta untuk disuapi oleh Nia. Mengingat waktu jam makan siang yang sudah tiba. Sementara Deni langsung menuju kamar Bella yang dikunci rapat oleh Bella. Deni mencoba melakukan pendekatan yang cukup intensif pada Bella. Tetapi dia tak kunjung membuka pintu kamarnya.
Tak menyerah begitu saja, berbagai cara dilakukan Deni untuk membuat Bella membuka pintu kamarnya. Tapi tak satu pun mempan. Hingga akhirnya Deni menggunakan cara terakhir. Deni membohongi Bella, dimana Deni bersama Nabila. Orang yang begitu dirindukan oleh Bella saat ini.
Mendengar Nabila sudah berada ditangan Deni. Akhirnya Bella mau untuk membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Bella terlihat begitu buruk. Tangan penuh sayatan silet. Darah mengucur dari berbagai sudut tubuh Bella. Kondisi yang membuat Deni seketika semakin panik akan kondisi Bella.
Deni menangis sambil memeluk tubuh Bella yang berlumuran darah. Entah tubuh Bella telah kebal dengan rasa sakit. Atau mungkin Bella menyembunyikan rasa sakitnya tersebut. Tak ada raut wajah kesakitan yang terlihat diwajah seorang Bella dengan luka sayatan yang memenuhi tubuh kecilnya tersebut.
Bella baru menangis, ketika dihadapannya tidak ada seorang Nabila yang ia harapkan. Bella merasa dibohongi oleh Deni. Hingga Bella langsung memukuli tubuh Deni dengan sekuat tenaga. Ditambah kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Semakin menunjukkan bagaimana Bella begitu bersedih dengan kebohongan yang dilakukan oleh Deni padanya.
Sahutan Deni yang keras, langsung membuat Nia menjadi panik. Nia datang dengan kedua anaknya yang terlihat ketakutan dengan suara Deni yang memanggil Nia dengan paniknya. Dengan berteriak kembali, meminta Nia mengambil obat bius dalam bentuk suntik di kamarnya.
__ADS_1
Nia dengan segera bergegas ke kamar Deni untuk mengambil obat bius tersebut. Nia yang panik, sempat kesulitan mencari keberadaan obat bius tersebut. Sebelum akhirnya menemukan obat bius itu yang sebenarnya ada didekat tas besar yang biasa Deni bawa untuk bekerja. Nia dengan langkah terburu-buru membawa obat bius dalam bentuk suntikkan itu kearah Deni.
Nia sempat panik untuk menyuntikkan obat bius itu ke tubuh Nia. Bella yang aktif bergerak, membuat Nia kesulitan untuk menentukan arah suntikan yang akan diarahkan. Sampai akhirnya Nia melihat kanan paha Bella yang kosong. Langsung dimanfaatkan oleh Nia untuk menyuntikkan obat bius tersebut ditubuh Bella.
Satu suntikan, beberapa detik kemudian. Reaksi obat itu langsung membuat Bella jatuh pingsan. Deni yang sedari tadi dipukuli oleh Bella, akhirnya bisa sedikit tenang. Mengingat Bella sudah tidak lagi sadar.
Deni menangis dengan dirinya yang tak mampu membuat Bella sembuh. Track record dirinya sebagai seorang psikiater hebat seolah tak ada artinya. Dengan kondisi Bella yang semakin tidak mengalami peningkatan berarti. Bella tetap di kondisi depresi berat yang dialaminya. Hingga membuat Deni kalang kabut dengan kondisi Bella sekarang.
__ADS_1
Tak tega melihat Deni yang bersimpuh dengan penuh kepayahan. Nia langsung memeluk Deni dengan begitu eratnya. Nia merasakan apa yang Deni rasakan sekarang. Betapa lemahnya dia dengan kondisinya sekarang. Deni sudah pasti merasakan kehancuran yang teramat