
Sidang dugaan KDRT yang di lakukan oleh Bio terhadap Bella akhirnya di gelar. Tanpa di hadiri Bio sebagai tergugat, maupun Bella sebagai penggugat. Hanya ada Roberto sebagai perwakilan pengacara dari Bio. Sementara Bella di wakili oleh Deni. Danielle yang kadung marah pada Deni, tak lagi menjadi pengacara Bella. Hingga Danielle tak menghadiri persidangan.
Deni awalnya optimis Bio akan di Jatuhi hukuman yang berat. Mengingat apa yang telah di lakukan oleh Bio pada Bella tidak bisa di tolerir. Bella di sakiti secara fisik maupun mental. Hingga tidak ada alasan bagi majelis hakim dalam menjatuhkan hukuman berat pada seorang Bio.
Namun hukum yang bias itu tidak mudah di tebak. Di tengah rasa percaya diri seorang Deni akan hukuman yang akan di terima oleh Bio. Deni justru di buat kecewa oleh majelis hakim. Bio justru di bebaskan dari segala tuduhan yang di sangkalkan kepada dirinya. Sontak Deni langsung meradang, ketika majelis hakim telah mengetuk palu sebanyak tiga kali. Deni langsung mempertanyakan keputusan majelis hakim tersebut.
"Bagaimana bisa seperti itu yang mulia. Jelas-jelas iblis itu telah membuat adik saya menderita. Tapi kenapa dia masih bisa bebas dengan begitu." ucap Deni mempertanyakan vonis bebas majelis hakim.
"Jika saudara keberatan dengan vonis tersebut. Silakan melakukan banding. Itu hak saudara. Begitu juga vonis bebas terhadap saudara Bio. Itu juga hak kami. Silakan saudara melakukan banding jika keberatan dengan vonis bebas tersebut." jawab majelis hakim dengan begitu tegas.
__ADS_1
Di tengah kekecewaan teramat sangat berat yang di rasakan oleh Deni. Kubu dari Bio sendiri justru bersorak gembira dengan vonis bebas yang di berikan majelis hakim. Pengacara Bio, langsung melakukan panggilan video call pada Roy yang saat itu sedang berada di kamar perawatan dari Bio.
"Selamat siang pak Roy. Saya hanya ingin mengabarkan, jika pak Bio di vonis bebas." ucap Roberto dengan penuh kebahagiaan.
"Akhirnya. Berarti kakak saya tidak akan lagi masuk ke dalam penjara lagi Pak?" tanya Roy dengan antusias.
"Tentu tidak Pak. Kakak Pak Roy sudah tidak akan lagi merasakan dinginnya lantai penjara. Jadi Pak Bio bisa bebas sepenuhnya." jawab Roberto menutup panggilan video call tersebut.
Tidak ada Nia juga di samping Deni saat ini. Deni sengaja tidak memboyongnya untuk ikut ke persidangan. Deni yang masih marah pada Deni, memilih untuk pergi sendiri ke persidangan di hari ini. Tapi rasanya, mendengar vonis bebas yang di dapat oleh Bio. Deni butuh seseorang yang bisa menghibur dirinya. Menghibur Deni yang benar-benar kecewa akan vonis tersebut.
__ADS_1
Deni tetap berada di ruang sidang. Satu persatu orang sudah pergi dari tempat persidangan. Hanya Deni sendiri yang masih termenung di salah satu bangku persidangan. Tentu akan sulit bagi Deni untuk ikhlas. Tidak ada keadilan yang Deni harapkan untuk adiknya. Padahal Bella sudah cukup menderita di buat oleh seorang Bio. Tapi penderitaan seorang Bella seolah tak membuat majelis hakim itu yakin. Hingga vonis bebas di jatuhkan pada seorang Bio.
Ruang persidangan akan kembali di gunakan dalam tempo satu jam ke depan. Seorang petugas kebersihan mencoba menyapu sedikit debu yang ada di lantai. Petugas kebersihan yang terlihat sudah renta itu, menghampiri Deni yang masih termenung di atas bangku persidangan.
"Bapak belum pulang?" tanya petugas kebersihan.
Deni tidak bersuara. Dia hanya menggelengkan kepalanya saja dengan wajah penuh kesedihan.
"Ada banyak orang seperti bapak yang tidak terima dengan vonis yang di jatuhkan oleh majelis hakim. Bahkan sampai ada yang menginap di sini. Mereka tidak terima dengan keputusan majelis hakim yang di anggap merugikan mereka. Tapi itulah hukum. Ada yang di untungkan, tapi tidak jarang ada yang di rugikan. Semuanya akan bias. Sebab hukum manusia di ciptakan oleh manusia yang memang mahluk tidak sempurna. Sekali pun mereka menganggap hukum itu sudah terbaik. Tapi tetap akan ada pihak yang di rugikan oleh hukum yang di buat manusia itu sendiri." Terang petugas kebersihan dengan begitu bijaknya.
__ADS_1
Benar apa yang di katakan oleh petugas kebersihan tersebut. Hukum yang di buat oleh mahluk tidak sempurna, tentu tidak akan menghasilkan hukuman yang sempurna juga. Selalu ada pihak yang akan di rugikan oleh oleh hukum yang di buat oleh manusia itu sendiri. Mungkin hari ini Deni yang merasakan bagaimana hukum yang ada membuat hidupnya sengsara. Hidup Deni di buat menderita dengan dinamika hukum yang tidak berimbang.
Deni harus ikhlas dan tabah dengan keputusan hakim. Ini berat untuk dirinya, tapi ini adalah keputusan yang harus di terima olehnya. Mungkin dari sini Deni bisa belajar untuk bisa lebih kuat dalam menciptakan sebuah dukungan. Sebab Deni begitu yakin dengan kondisi Bella yang babak belur akan mendapat pembelaan. Tapi kenyataannya semua itu hanya kiasan semata. Sebab hukum bisa berbicara dengan begitu bedanya.