
Kegagalan Deni dalam membawa Nabila ke rumahnya. Telah membuatnya marah besar. Deni cukup kecewa dengan hasil dia dapatkan. Tak ada hasil sama sekali, selain kekecewaan yang harus Deni rasakan.
Sepanjang perjalanan Deni terus memaki keluarga Bio dan Roy. Deni mengatakan Bio dan Roy sebagai kakak beradik yang tak punya hati dan pikiran. Dimana keegoisan dari seorang Bio, membuat Deni tak bisa membawa Nabila bertemu dengan Bella. Sementara Bella saat ini begitu membutuh keberadaan dari Nabila disampingnya.
Nia yang berada disamping Deni, hanya bisa terdiam mendengar setiap ocehan yang keluar dari mulut suaminya tersebut. Nia tak tahu harus mengatakan apapun, sebab dengan posisi Deni yang marah besar. Nia khawatir Nia akan menjadi bahan pelampiasan kemarahan dari Deni.
Benar saja, Nia menjadi bahan pelampiasan kemarahan dari Deni. Nia yang kembali haus, mencoba membeli sebotol air mineral di sebuah warung pinggir jalan. Deni tak mempermasalahkan permintaan dari Nia tersebut. Deni memarkir mobil miliknya tepat di depan warung itu.
Nia yang membawa uang pecahan besar, mungkin mengira akan mudah mendapatkan kembalian di warung itu. Sebotol air mineral berukuran 1,5 liter dibeli oleh Nia.
__ADS_1
Nia membayar dengan uang pecahan seratus ribu. Tetapi uang itu cukup besar, warung tersebut tidak memiliki uang kembalian untuk uang seratus ribu dari Nia tersebut. Akhirnya Nia kembali kedalam mobil untuk meminta uang pecahan kecil pada Deni. Deni melihat isi didalam dompetnya. Uangnya hampir semua pecahan seratus ribu. Hingga ia tak memiliki uang pecahan kecil.
Nia kembali ke warung itu untuk membayar botol minum yang ia beli. Tetap dengan uang pecahan seratus ribu yang dari awal dia bawa. Akhirnya Nia diminta menunggu, sebab penjaga warung itu hendak menukar terlebih dahulu uang pecahan seratus ribu itu.
Hampir 10 menit menunggu Nia kembali. Deni mulai tak sabar menunggu Nia masuk kedalam mobilnya. Klakson mobilnya dipencet beberapa kali untuk memanggil Nia. Namun Nia yang masih menunggu kembalian dari penjaga warung itu tak urung datang.
"Lama banget sih kamu. Sudah 10 menit lebih aku tunggu kamu didalam mobil. Tapi tidak juga masuk." Bentak Deni pada Nia.
"Aku masih nunggu kembalian dari botol minum yang aku beli. Sabar sedikit bisakan?" Nia turut emosi.
__ADS_1
Penjaga warung yang tak urung menampakkan batang hidungnya. Akhirnya membuat Deni menarik tangan Nia untuk tidak mengambil uang kembalian dari minuman yang ia beli.
Deni melempar tubuh Nia kedalam mobil. Menutup dengan keras pintu mobil tempat Nia duduk. Sebelum dari pintu sebelah, Deni kembali masuk kedalam mobilnya.
"Kenapa kamu tidak bisa bersabar sedikit saja?" Pinta Nia dengan sedikit kesal.
"Sabar? Kamu bilang aku tidak sabar. 10 menit cuman buat menunggu uang kembalian itu, kamu bilang aku tidak sabar. Seharusnya kamu yang bisa ngertiin perasaan aku. Bukan aku yang harus selalu mengerti perasaan kamu." Amuk seorang Deni dengan wajah marahnya.
Nia mulai menangis dengan bentakan yang dilakukan Deni didepan wajahnya. Ia tak menyangka Deni akan mengatakan hal itu padanya. Air mata Nia semakin deras mengucur, ketika kembali mengingat perkataan kasar seorang Deni padanya. Deni selalu marah, dan Nia selalu menjadi objek kemarahan darinya. Padahal Nia selalu berusaha membuat Deni nyaman dengan perhatian dan cintanya. Tapi Deni selalu menganggap semuanya semu.
__ADS_1