
Kematian Sharon menjadi kematian pertama sebagai pasien seorang Deni. Dia tidak pernah membayangkan, Sharon akan meninggal dengan cara bunuh diri. Itu pengalaman yang begitu berat bagi seorang Deni. Apalagi Deni harus kehilangan Sharon, ketika Deni sedang berada di fase terburuk dalam hidupnya.
Deni memacu mobilnya menyisiri jalan ibukota yang terkadang macet parah. Deni sesekali menangis, mengingat akan betapa sedihnya dirinya saat harus kehilangan Sharon sebagai pasiennya yang bunuh diri. Deni benar-benar tidak menyangka, Sharon akan bunuh diri. Sebab Sharon terlihat mulai membaik, sehingga Deni tidak melakukan aktivitas pemantauan yang intensif pada seorang Sharon.
Tapi semuanya ternyata berbeda, Sharon terlihat sudah tidak bisa sama. Dia masih menyimpan depresi berat di dalam pikirannya. Hingga Sharon pun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Cara yang begitu sadis bagi seseorang dalam mengakhiri hidupnya.
Deni semakin jauh memacu mobilnya. Deni kehilangan arah, hingga dia sampai di ujung kota. Dia melihat ke arah sekitar yang begitu ramai. Suasana yang membuat Deni semakin merasa asing. Di keramaian kota yang membuat Deni terasa asing.
__ADS_1
Matanya kembali mengeluarkan air mata. Dia tak bisa menahan kesedihan ketika kembali mengingat apa yang terjadi pada seorang Sharon.
"Apa aku masih bisa di sebut sebagai seorang psikiater. Ada seorang pasienku yang gantung diri. Itu semua salahku. Kesalahan yang seharusnya tidak di lakukan." ucap Deni di dalam hatinya.
Tangis Deni semakin keras. Deni semakin tanpa kontrol, hingga Deni memukuli tubuhnya sendiri dengan begitu kerasnya. Deni benar-benar lepas kendali dengan semua yang ada. Dia merasakan betapa sedihnya kehilangan seorang Sharon bagi keluarganya. Kesedihan yang Deni pikir bersumber dari dirinya sendiri.
Deni kembali terdiam, ingatan dari seorang Sharon benar-benar membuat Deni tak berdaya. Dia seperti dihantui rasa bersalah yang cukup besar pada keluarga Sharon. Hingga Deni tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Padahal Deni seharusnya bisa lebih baik lagi dengan situasi yang ada.
__ADS_1
Panggilan telepon dari Nia, mungkin Nia khawatir dengan Deni yang tak kunjung pulang ke rumah. Mengingat malam yang telah larut.
Deni segera mengangkat panggilan telepon dari Nia tersebut. Baru menyapa Nia, Deni langsung mendapatkan sedikit ocehan dari Nia. Nia marah pada Deni yang lupa menjemput Brian di sekolah. Mengingat Nia masih harus menjaga Love yang sedang sakit.
Semua ocehan dari Nia, semakin membuat Deni pusing. Deni semakin dilema besar. Hingga Deni langsung melempar keras ponselnya. Berharap dengan seperti itu, Nia tidak akan mengomel pada Deni kembali. Sebab Deni saat ini benar-benar dalam keadaan payah.
Deni kembali menangis. Di tengah suara Nia yang masih terdengar dengan jelas. Handphone Deni yang begitu kuat, tak rusak sama sekali. Meskipun Deni telah melempar dengan begitu kerasnya. Handphone tersebut masih hidup, bahkan tidak mati sama sekali.
__ADS_1
Nia yang awalnya mengoceh untuk memarahi Deni yang lupa menjemput seorang Brian di sekolah. Kini justru khawatir pada seorang Deni. Dia mendengar Deni yang menangis, hingga Nia begitu panik akan Deni. Nia pun mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada Deni. Tapi Deni yang merasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi pada seorang Nia. Memilih untuk mematikan handphone-nya. Sehingga Nia tidak lagi mengganggu dirinya.