
Gina nampak bosan. Seminggu terakhir ini, waktunya hanya dihabiskan di tempat rehab bersama pasien Deni yang lainnya. Gina merasa ingin pergi ke mall untuk sekedar makan di restoran, atau tidak bermain di tempat permainan.
Dengan pakaian yang sudah begitu rapi. Gina mendatangi ruangan Deni. Gina ingin mengajak Deni pergi ke mall. Tetapi masih ada sedikit pekerjaan yang harus Deni selesaikan. Sehingga Deni tak mungkin meninggalkan pekerjaannya tersebut.
Deni meminta salah satu stafnya untuk mengantar Gina berjalan-jalan di mall. Tetapi Gina menolak. Gina hanya ingin pergi bersama Deni. Sebab saat ini, Deni adalah rumah kedua untuk Gina.
Melihat wajah penuh harap dari Gina. Deni yang awalnya menolak dengan alasan pekerjaan. Akhirnya menerima permintaan dari remaja tersebut. Dengan segera Deni mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian casual untuk pergi ke mall.
Gina begitu senang diajak Deni untuk pergi ke mall. Dia tak sabar untuk makan di restoran favoritnya yang berada di mall tersebut. Dulu Gina begitu sering pergi ke mall bersama orangtuanya. Sekedar untuk makan, Gina begitu senang bisa pergi ke mall.
Dengan semangat Gina memasang sabuk pengaman melingkar ditubuhnya. Sedikit bercermin di spion mobil Deni. Gina tak sabar menunggu Deni masuk kedalam mobilnya.
Deni yang di tunggu akhirnya datang. Kegembiraan langsung menghiasi wajah Gina dengan kedatangan Deni tersebut. Tanpa diminta oleh Deni. Gina langsung memasang sabuk pengaman melingkar di tubuh Deni. Ia begitu bersemangat dengan kedatangan Deni tersebut.
Sabuk pengaman sudah terpasang. Kini giliran Deni menjalankan mobil miliknya menuju mall. Sebelum menjalankan mobilnya, Deni meminta Gina membaca doa terlebih dahulu. Deni ingin membiasakan Gina hal-hal positif yang bisa membuat kesehatan mentalnya semakin membaik. Dengan khidmat Gina membaca doa. Diakhiri kata amin, Gina selesai membaca doa. Deni pun dengan segera membawa mobil miliknya menuju mall.
Gina benar-benar menunjukkan progres yang baik. Tak ada lagi kesedihan yang melanda hatinya. Dia pun bersemangat dengan bernyanyi sepanjang perjalanan menuju mall. Deni begitu bahagia melihat perkembangan yang ditunjukkan oleh Gina. Dia berharap Gina bisa sembuh total secepatnya.
Kebahagiaan dari Gina semakin menjadi, kala tiba di mall. Gina begitu bahagia sudah berada di parkiran mall. Dimana sebentar lagi dia akan kembali merasakan udara mall yang begitu sejuk.
Gina yang kelaparan, mengajak Deni untuk makan siang di salah satu restoran favoritnya. Gina ingin makan Tofoki yang telah lama ia tidak cicipi. Semenjak kepergian kedua orangtuanya, Gina hanya mengurung diri. Sehingga tak lagi bisa makan Tofoki secara langsung lagi.
Deni menuruti permintaan dari Gina. Walaupun tak begitu familiar dengan masakan Korea. Demi menyenangkan hati Gina. Deni rela makan di restoran Korea favorit Gina.
Gina langsung memanggil seorang pelayan restoran, kala baru duduk di kursi. Dirinya tak sabar ingin kembali mencicipi Tofoki favoritnya. Tak hanya Tofoki saja, Gina juga memesan Dimsum serta ice tea sebagai minumannya.
Sementara Deni yang tak pernah makan di restoran Korea. Nampak dibuat bingung untuk memesan menu makan siang yang ingin dia makan. Deni pun meminta saran pada Gina untuk menu yang hendak dia pesan.
Gina pun menyarankan Deni untuk makan Kimchi. Sebuah salad pedas yang terbuat dari sawi hasil fermentasi. Rasanya yang pedas, Gina rasa cocok untuk Deni.
__ADS_1
Deni yang tak tahu apa-apa. Menuruti tawaran dari Gina. Deni pun memesan Kimchi yang disarankan oleh Gina. Sementara untuk minumnya sendiri, Deni hanya memesan air putih biasa saja. Deni begitu menjaga kesehatannya. Sehingga dia lebih memesan air putih, dibanding minuman lainnya.
Sembari menunggu pelayan mengantar pesanan Deni dan Gina. Deni kembali mencoba menanyakan perihal Mira pada Gina. Deni masih penasaran dengan Mira yang masih ada cinta yang belum tuntas diantara kedua.
"Ngomong-ngomong tante kamu yang bernama Mira itu, sudah punya anak atau belum?" Tanya Deni membuka pembicaraan.
Gina terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Deni. Gina pun menjawab dengan wajah penuh kebingungan.
"Kayaknya belum deh. Setahu aku dia sama suaminya dulu mutusin buat childfree." Jawab Gina.
"Oh jadi dia belum punya anak. Terus apa dia bahagia dengan suaminya sekarang?" Deni semakin penasaran.
Mendengar pertanyaan yang kembali dilontarkan oleh Deni. Gina semakin heran. Dia bingung mengapa Deni begitu penasaran dengan sosok tantenya tersebut. Mengingat keduanya tidak mengenal satu sama lain.
Deni yang menyadari Gina mulai curiga padanya. Berusaha menetralkan kecurigaan dari Gina. Deni dengan ucapan terbata-bata berusaha membuat Gina percaya, jika rasa penasaran yang ada didalam dirinya hanya penasaran biasa saja. Tidak ada maksud apapun.
Gina tetap tak menerima sangkalan yang diucapkan oleh Deni. Tetap Gina juga tak peduli dengan rasa penasaran yang ada dalam diri Deni. Mengingat itu bukan urusannya. Terlebih kala Tofoki dan Dimsum favoritnya segera meluncur diatas meja makannya. Dengan segera Gina mengambil sumpit untuk menyantap Tofoki yang dia pesan.
Gina tak menolak. Tetapi Gina ingin Deni mencoba terlebih dahulu Kimchi yang dia pesan. Sebab Gina ingin memperkenalkan makanan Korea pada Deni.
Deni yang sebenarnya ragu menerima tawaran dari Gina. Akhirnya menerima tawaran itu dengan setengah hati. Kembali menarik mangkuk besar berisi Kimchi tersebut. Deni mulai memilah bagian sawi yang hendak dia makan dengan sumpitnya.
Dua lembar sawi diambil Deni dari lembaran daun sawi yang membentuk Kimchi. Deni mencium terlebih dahulu aroma dari Kimchi tersebut. Sebelum akhirnya dia memakan Kimchi tersebut kedalam mulutnya.
Baru di pangkal lidah. Deni langsung merasa kepedesan dengan rasa rasa kimchi tersebut. Deni memuntahkan kimchi itu, sebelum satu botol air minum langsung diteguk olehnya.
Hah.. Hah.. Hah... Deni yang kepedasan begitu berusaha membuat lidahnya kembali normal. Deni tak menyukai rasa dari kimchi yang pedas. Sehingga Deni menggeser kimchi itu ke hadapan Gina.
Melihat psikiater tampannya kepedesan, Gina justru tertawa terbahak-bahak. Dia heran mengapa Deni tak begitu menyukai makanan pedas seperti kimchi. Padahal kimchi begitu nikmat untuknya.
__ADS_1
Rasa lapar Gina benar-benar terbayar dengan makan siang bersama Deni. Gina yang begitu lapar, menghabiskan seluruh makanan yang dia pesan. Ditambah Kimchi yang tak di makan Deni. Hingga rasa lapar Gina berubah menjadi kenyang.
Destinasi selanjutnya adalah tempat permainan. Gina sudah lama tak bermain melempar bola kedalam ring. Atau bermain lempar anak panah. Satu hal yang beberapa minggu terakhir sudah tak bisa Gina rasakan lagi. Sehingga Gina mengajak Deni untuk pergi ke tempat permainan.
Tanpa ragu, Deni pun bergegas bersama Gina menuju tempat permainan. Tetapi di perjalanan menuju tempat permainan tersebut. Deni melihat salah seorang temannya yang bernama Tio sedang asyik berbincang dengan seorang wanita muda di salah satu waralaba kopi internasional. Keduanya nampak akrab, terlebih dari cara Tio merangkul wanita muda tersebut. Terlihat hubungan keduanya begitu dekat.
Deni terus memperhatikan Tio yang nampak tak sungkan bermesraan dengan wanita muda tersebut. Padahal Tio sendiri telah memiliki seorang istri yang terkenal cantik dan baik. Tetapi mengapa Tio bermesraan dengan perempuan lain.
Melihat Deni terpaku terdiam. Gina mencoba menarik tangan Deni. Tetapi Deni tetap tak bergeming. Dia meminta Gina untuk pergi terlebih dahulu ke tempat permainan. Dengan alasan ingin ke toilet, Deni berhasil mengelabuhi Gina. Hingga Gina pun pergi sendirian menuju tempat permainan.
Deni yang semakin penasaran dengan sosok perempuan yang bermesraan dengan Tio. Akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Tio. Deni pun masuk kedalam waralaba kopi tersebut.
Hanya membeli segelas kopi latte, Deni bisa memantau Tio dari jarak dekat. Untuk mengetahui hubungan Tio dengan perempuan muda tersebut. Mengingat Tio sudah memiliki istri.
Tio akhirnya sadar akan keberadaan Deni. Melihat tatapan mata Deni, Tio meminta izin pada perempuan muda yang dia ajak nongkrong untuk menemui Deni. Tio pun segera bergegas menuju meja Deni.
Dengan sapa ramah, Tio duduk di kursi dihadapan Deni. Tio nampak begitu membuat suasana menjadi terasa hangat. Sehingga dia menyapa Deni dengan begitu ramahnya.
"Apa kabar dokter Deni. Psikiater terkenal." Puji Tio pada Deni.
"Bisa aja loe ini. Lagi apa loe disini?" Tanya Deni.
Tio berbisik di telinga kanan Deni.
"Gue lagi pacaran lagi." Ucap Tio dengan pelannya.
Benar dugaan Deni. Tio berselingkuh, mengingat Tio sudah memiliki istri. Tetapi dia berpacaran kembali dengan seorang perempuan muda.
"Maksud loe selingkuh!" Tegas Deni mulai menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Hussss Jangan keras-keras." Pinta Tio.
"Loe sembunyiin ******. Lama-lama juga bakal tercium juga. Ngapain harus pelan-pelan." Terang Deni.