
Tubuh Bella benar-benar kurus. Dengan tinggi Bella yang mencapai 170, dan berat Bella di bawah 40 kilogram. Tubuh Bella, terlihat tidak begitu proporsional. Tulangnya hampir menonjol di bagian tubuh tertentu. Hingga tubuh Bella terlihat seperti tulang berselimutkan kulit. Ada sedikit daging yang bersemayam di tubuhnya. Namun dominasi tulangnya jauh lebih menonjol. Hingga Bella benar-benar terlihat seperti tidak memiliki tulang.
Deni mencoba menyuapi Bella sarapan. Sebuah bubur ayam telah Deni beli secara khusus untuk Bella. Bella yang menyukai aroma bawang goreng. Deni sengaja tambahkan dengan begitu banyaknya. Hingga aroma bawang goreng tersebut akan semakin membuat Bella berselera menyantap bubur ayam yang di beli oleh Deni tersebut.
Aroma wangi daun bawang yang begitu menggoda. Tidak sedikit pun menarik antusias dari seorang Bella. Dia tetap terlihat tidak tertarik pada bubur ayam yang Deni beli khusus untuk dirinya. Padahal bubur ayam dengan bawang goreng yang melimpah, merupakan sarapan pagi favorit seorang Bella. Dia begitu lahap ketika di berikan bubur ayam tersebut.
Deni mencoba menyuapkan satu sendok penuh bubur ayam itu kedalam mulut Bella. Tapi dengan segera Bella menangkis sendok berisi bubur ayam tersebut. Tangkisan Bella yang begitu kuat, membuat sendok itu terjatuh ke atas lantai. Hingga Deni hanya bisa menghela nafas sedalam mungkin untuk menyikapi sikap Bella yang terlihat masih sama dan tetap sama.
Nia datang ke kamar Bella untuk membawakan Bella minum. Nia menaruh minuman itu di atas lemari kecil milik Bella. Sebelum akhirnya Nia segera pergi kembali ke dapur untuk mempersiapkan sarapan bagi kedua anaknya dan juga Deni.
Deni sendiri masih mencoba berbicara hati ke hati pada Bella. Deni menatap kedua bola mata dari seorang Bella. Dari tatapan matanya tersebut, Deni berbicara secara personal pada Nia. Bagaimana Deni meminta Nia untuk mengerti perasaan dari dirinya. Perasaan seorang kakak yang ingin Nia segera sembuh dari depresi berat yang dialami oleh dirinya. Deni berkata lewat tatapannya pada Bella.
__ADS_1
Belum semenit Deni menatap kedua bola mata dari Bella. Deni langsung disiram oleh Bella menggunakan segelas air yang ada di atas lemari kecil miliknya. Dengan segera Bella menyiramkan segelas air itu tepat di wajah seorang Deni. Seketika wajah Deni yang basah kuyup disiram oleh Bella.
Dalam hatinya tentu Deni marah besar. Tapi apa mungkin Deni akan meluapkan kemarahannya pada seorang Bella. Mengingat kondisi Bella saat ini. Rasanya tidak mungkin Deni akan meluapkan amarahnya tersebut pada Bella. Deni pun hanya meluapkan emosinya, di dalam hati. Tidak harus mengatakan di depan seorang Bella. Mengingat itu tentu akan menjadi hal yang buruk bagi Bella sendiri.
Deni tetap tersenyum, namun senyuman dari seorang Deni langsung di balas Bella dengan sebuah amarah. Dia memaki Deni dengan kata-kata yang cukup kasar. Hingga mendorong Deni untuk segera pergi meninggalkan kamarnya. Deni pun akhirnya pergi dari kamar Bella. Namun Deni membiarkan semangkuk bubur ayam itu tetap berada di atas kasur Bella. Deni berharap Bella akan memakan bubur itu nantinya.
Tak hanya membasahi wajahnya saja. Namun air yang disiram oleh Bella pada Deni, juga membasahi kemeja biru muda yang Deni kenakan. Deni pun akhirnya harus mengganti kemeja yang dia pakai dengan kemeja baru.
Deni duduk di bangku utama yang memang menjadi singgasananya selama ini ketika makan bersama keluarganya. Namun perubahan kemeja yang di kenakan oleh Deni. Menarik perhatian dari seorang Nia. Nia melihat sesuatu yang aneh dari kemeja yang di kenakan oleh Deni. Deni yang awalnya mengenakan kemeja berwarna biru muda. Kini menggunakan kemeja berwarna biru tua. Perubahan warna yang cukup kontras.
"Perasaan, tadi aku lihat kamu pakai kemeja berwarna biru muda. Tapi kenapa sekarang kamu pakai kemeja biru tua?" tanya Nia dengan begitu bingungnya.
__ADS_1
"Iya, tadi Bella menyiramkan air ke arah aku. Sehingga aku harus mengganti pakaianku." jawab Deni.
Nia menahan senyumnya. Dia tak menyangka air yang di bawa oleh dirinya akan jadi boomerang bagi suaminya sendiri. Mengingat air itu awalnya hanya untuk minum Bella saja. Tapi malah menjadi senjata makan tuan bagi suaminya sendiri.
"Ada yang lucu?" tanya Deni menyikapi senyum Nia yang terlihat malu-malu.
"Tidak ada! Mari kita makan." jawab Nia menyendokan nasi kedalam piring Deni.
Di tengah-tengah sarapan, Deni mulai menceritakan kesedihan dari dirinya akan kondisi Bella yang tidak mengalami perubahan. Beragam cara telah Deni lakukan untuk menyembuhkan depresi Bella. Deni menggunakan metode-metode penyembuhan yang memang kerap di gunakan untuk menyembuhkan pasiennya. Tapi sialnya, itu tidak berlaku untuk adiknya sendiri. Hingga Deni merasa berada di titik paling rendah dalam hidupnya.
Nia yang berada di samping Deni, mencoba menguatkan Deni dengan mengelus pundak dari seorang Deni. Dia memberikan kata-kata motivasi yang mungkin bisa saja menjadi penawar bagi Deni. Sebuah detoksifikasi yang akan membuang racun dalam pikiran Deni. Racun yang membuat dirinya begitu terlihat tidak bersemangat dalam mengobati Bella. Nia terus mengatakan kalimat yang cukup memotivasi Deni. Nia meyakinkan Deni, bahwa Deni harus yakin jika dia akan mampu menyembuhkan Bella.
__ADS_1
Bella adalah pasien yang paling sulit untuk Deni sembuhkan. Deni kerap kali menemukan kasus yang sama seperti yang Bella alami. Tapi untuk kali pertamanya, Deni gagal mengobati Nia dari depresinya. Hingga Deni harus berpikir lebih keras untuk dapat mengobati Bella. Walaupun motivasi Deni untuk mengobati Bella sering naik turun. Namun Deni harus terus memompa semangatnya. Semangat akan kesembuhan dari seorang Bella.