
Sedikit tenang, Deni kembali membawa mobilnya menuju rumah. Tapi di perjalanan menuju rumah tersebut. Deni merasa lapar, sebab dia belum mengisi perutnya sedari tadi. Mungkin Deni butuh makan di salah satu restoran. Sehingga Deni bisa mengembalikan kondisi tubuhnya yang terasa begitu lapar tersebut.
Deni menepikan mobilnya tepat di depan sebuah restoran. Deni tersenyum ketika melihat tulisan besar yang ada di depan restoran. Tulisan itu mengingatkan Deni akan sebuah kenangan bersama dengan Mira. Semasa pacaran terdahulu, Deni memang senang makan di restoran tersebut dengan Mira. Sehingga ada sekelumit kisah yang tidak bisa di lupakan oleh Deni saat melihat tulisan besar tersebut.
Tapi Deni segera sadar, dirinya saat ini sudah memiliki seorang istri dan anak. Sehingga Deni tidak mungkin bisa mencintai Mira kembali. Mengingat ada Nia yang telah berjuang bersama dengan Deni. Dia yang mau menolong Deni ketika Deni sedang berada di titik rendah dalam hidupnya. Menjadi teman hidupnya, menerima Deni dengan apa adanya. Hingga menjadi seorang yang selalu sabar dengan sikap Deni yang terkadang kasar pada seorang Nia.
Deni keluar dari dalam mobilnya, berjalan menuju restoran. Suasana yang pernah Deni rasakan bersama dengan Mira beberapa tahun lalu. Deni masih merasakan hal yang cukup sama, seperti ketika bersama dengan Mira.
Baru akan masuk kedalam restoran, Deni berpapasan dengan Mira yang datang bersama dengan Gina. Sontak raut wajah gembira langsung terpancar dari wajah Gina. Dia merasa begitu senang dengan pertemuan dirinya bersama dengan Deni.
"Senang rasanya bisa bertemu dengan dokter Deni." ucap Gina.
__ADS_1
Deni yang sebenarnya masih bersedih, berusaha tersenyum untuk bisa memenangkan hati Gina. Deni tidak ingin Gina mengetahui dirinya yang masih terlihat bersedih dengan masalah yang sedang di hadapi oleh Deni.
"Selamat malam Gina. Kamu mau makan malam juga?" ucap Deni dengan senyum lebarnya.
"Iya dok, aku sama tante Mira mau makan di restoran ini." jawab Gina.
Mira melihat kesedihan dari seorang Deni. Apalagi melihat pakaian Deni yang terlihat begitu tidak rapi. Deni sangat terlihat payah, hingga Mira penasaran dengan yang terjadi pada Deni. Tapi Mira tidak mungkin menanyakan langsung saat itu juga, sebab ada Gina yang berada di samping dirinya.
"Iya Gina." jawab Deni tetap dengan senyuman yang di paksakan.
"Dokter Deni sendiri saja?" tanya Gina kembali.
__ADS_1
"Seperti yang Gina lihat, saya sendiri." jawab Deni.
Gina pun mengajak Deni untuk makan bersama dengan dirinya dan Mira. Sontak di situ Mira berharap Deni akan menerima tawaran dari Gina. Sehingga Deni akan makan malam bersama dengan Gina dan dirinya.
Deni sempat terlihat berpikir terlebih dahulu. Sebelum akhirnya Deni menerima ajakan dari seorang Gina untuk makan malam bersama. Tidak salah juga jika harus makan malam bersama Gina dan Mira. Sehingga Deni dengan mantap menerima ajakan dari Gina tersebut.
Deni terlihat masih cukup canggung sebenarnya. Sehingga saat Gina mempersilakan Deni untuk berjalan di depan Gina dan Mira. Deni sempat menolak permintaan dari Gina tersebut. Dia meminta Gina dan Mira untuk berjalan terlebih dahulu. Sementara dirinya mengikuti Gina dan Mira dari belakang.
Gina pun terlihat antusias saat memasuki restoran. Gina senang bisa makan bersama dengan Deni yang merupakan psikiater yang telah membuat Gina bebas sepenuhnya dari depresi berat yang di hadapinya. Di tambah kedatangan seorang Mira yang begitu Gina nantikan. Semakin membuat Gina bahagia dengan makan malam di malam yang indah tersebut.
Deni memilih untuk duduk secara berhadapan dengan Mira. Sementara Gina duduk di tengah-tengah Deni dan Mira. Mira sesekali mencuri pandang untuk menatap wajah Deni yang terlihat kusut. Tapi Deni yang memiliki ketampanan yang maksimal, membuat wajah kusut Deni tetap terlihat mempesona bagi seorang Mira. Wajah yang membuat Mira
__ADS_1