
2 X 24 jam yang tak dipatuhi oleh Bio. Akhirnya membuat polisi memutuskan untuk melakukan penjemputan paksa terhadap Bio. Terlebih laporan baru yang dibuat oleh Danielle. Semakin membuat posisi Bio tertekan. Jalan terakhir tentu melakukan penjemputan paksa terhadap Bio yang dilakukan oleh aparat berwajib.
Dua orang polisi ditugaskan untuk mendatangi kediaman rumah Bio. Dengan surat penjemputan yang dibawa di tangan. Mereka hendak melakukan penjemputan paksa terhadap Bio yang berulang kali mangkir dari pemanggilan yang dilakukan pihak berwajib.
Tok... Tok... Tok... Tiga ketukan pintu, cukup untuk membuat salah seorang penghuni rumah Bio keluar rumah. Memang bukan Bio yang keluar dari dalam rumahnya, tetapi Imah yang merupakan pembantu kepercayaan dari Bio. Imah sedikit ketakutan dengan kedatangan polisi ke rumah Bio. Pasalnya Imah sendiri turut berperan dalam penyiksaan terhadap Bella. Dimana ia berusaha menyembunyikan kebusukan dari Bio pada keluarga Deni.
"Selamat pagi ibu. Apakah saudara Bio ada didalam rumah?" Tanya salah seorang petugas polisi.
Imah kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari polisi. Ia mengetahui Bio ada didalam rumah. Tapi apa Imah akan membiarkan bosnya masuk bui. Tapi jika Imah berbohong, Imah akan semakin terjerat dalam kasus yang tengah menjerat Bio.
"Bagaimana ibu. Apakah saudara Bio ada didalam rumah?" Tanya petugas lainnya.
"Tu-tu-tuan Bio ada didalam rumah. Sebentar saya panggilkan terlebih dahulu." Jawab Imah gugup.
Imah kembali masuk kedalam rumah Bio. Namun didalam rumah, Imah bingung apa yang harus dilakukan. Apa Imah akan meminta Bio untuk kabur, atau meminta Bio menemui polisi. Pikirannya terbagi dua.
Keraguan Imah semakin menjadi. Padahal Imah sudah berada di depan pintu kamar Bio. Ia hanya tinggal mengetuk pintu kamar Bio saja. Tapi Imah ragu untuk mengetuknya saja. Dia takut Bio akan memarahinya, sebab Imah mengatakan Bio ada di rumah pada polisi.
__ADS_1
Namun Imah tak bisa membuat polisi menunggu lama. Akhirnya Imah pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Bio. Beberapa ketukan, langsung membuat Bio keluar dari dalam kamarnya.
Bio yang masih mengenakan pakaian tidurnya. Dibuat sedikit kebingungan dengan wajah ketakutan dari seorang Imah. Imah juga tak berani memandang wajah Bio seperti biasanya.
"Ada apa Bi?" Tanya Bio.
"Anu Den Bio. Diluar ada yang mencari den Bio." Jawab Imah gemetaran.
"Siapa yang mencari saya?" Tanya Bio penasaran.
Bio langsung terkejut. Sedikit ketakutan melanda hatinya, mengingat sudah tentu polisi datang untuk menjemput paksa Bio.
"Bibi kenapa bilang saya ada di rumah. Seharusnya bibi bilang saya lagi diluar." Amuk Bio pada bi Imah.
"Saya tidak tahu den Bio. Maafkan saya." Imah semakin ketakutan.
Bio mengintip kearah pintu luar. Dimana polisi itu masih berada diluar rumahnya.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa, Bio akhirnya menemui kedua polisi yang hendak menjemputnya tersebut. Walaupun sedikit ketakutan, tapi Bio berusaha tetap tenang. Ia tak ingin terlihat gugup, apalagi takut. Terlebih dia masih bisa mengupayakan argumen yang akan membuatnya bebas dari segala tuduhan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya.
"Selamat pagi." Sapa Bio pada kedua polisi tersebut.
"Selamat pagi. Apakah ini bapak Bio?" Tanya salah seorang petugas polisi.
"Iya saya sendiri. Memangnya ada apa?" Tanya balik Bio.
"Kami membawa surat penangkapan terhadap saudara Bio. Kami harap, bapak akan ikut bersama kami ke kantor polisi pagi ini." Jelas salah seorang polisi sambil menyodorkan surat penangkapan tersebut.
Bio yang tak terima, tak mengambil surat yang disodorkan kepadanya. Ia berkelit dari penangkapan itu.
"Tapi pak saya mohon, jangan tangkap saya sekarang. Hari ini perusahaan saya sedang ada meeting penting." Mohon Bio.
"Tidak bisa pak. Mungkin bapak bisa jelaskan di kantor polisi." Tegas salah seorang polisi tersebut.
Bio mencoba kabur. Tapi reaksi cepat polisi langsung menahan Bio untuk kabur. Ia pun sudah bisa pergi kemana-mana lagi. Bio terpaksa ikut masuk kedalam mobil polisi. Dimana Bio bisa memberikan keterangan sejelas-jelasnya di kantor polisi.
__ADS_1